Dedi Kurniawan memulai studi Kedokteran Gigi di Johannes Gutenberg University of Mainz, Jerman, pada usia 30 tahun. Ia kini menjadi mahasiswa tertua di antara 50 mahasiswa dalam angkatannya.
Langkah tersebut ditempuh setelah Dedi menyelesaikan pendidikan vokasi sebagai asisten dokter gigi dengan nilai 1,0. Nilai itu menjadi salah satu modal penting yang membawanya memenuhi persyaratan akademik untuk melanjutkan studi di Mainz.
Dedi memulai kuliah pada Juli 2025 dan saat ini berada di akhir semester dua. Masa studi Kedokteran Gigi yang harus ditempuhnya berlangsung selama lima tahun.
Ia juga tercatat sebagai satu-satunya mahasiswa Asia pendatang di angkatannya, menurut pengakuannya kepada Kompas.com. Meski memulai lebih lambat dari banyak mahasiswa lain, Dedi menilai usia bukan hambatan dalam sistem pendidikan Jerman.
Jalur vokasi membuka akses ke kampus
Sebelum masuk universitas, Dedi mengikuti Ausbildung di Köln untuk menjadi asisten dokter gigi. Program pendidikan dan praktik kerja itu normalnya berlangsung tiga tahun.
Guru-gurunya kemudian menyarankan pemangkasan masa Ausbildung karena nilai sekolahnya dinilai baik. Dedi menjalani program itu selama dua tahun, tetapi tetap mempelajari materi tahun ketiga agar tidak kehilangan dasar pembelajaran.
| Tahap | Durasi | Lokasi | Hasil |
|---|---|---|---|
| BFD | 10 bulan | Gera | Bekerja di panti jompo |
| Ausbildung | 2 tahun | Köln | Lulus dengan nilai 1,0 |
| Kedokteran Gigi | 5 tahun | Mainz | Dimulai Juli 2025 |
Setelah lulus Ausbildung, Dedi melegalisasi ijazahnya ke Universitas Mainz untuk proses pengakuan akademik. Ia dinyatakan memenuhi syarat dan mendapatkan nilai 1,0 dalam proses tersebut.
Universitas Mainz memberikan pengecualian Studienkolleg bagi lulusan Ausbildung dengan nilai di bawah 2,5. Dengan ketentuan itu, Dedi tidak perlu menjalani tahap penyetaraan selama satu tahun yang umumnya ditempuh warga asing sebelum kuliah di Jerman.
Perjalanan berawal dari keterbatasan ekonomi
Jalan Dedi menuju pendidikan tinggi tidak dimulai dari Jerman maupun dunia kesehatan. Setelah lulus SMA pada 2011, ia belum dapat langsung melanjutkan kuliah karena kondisi ekonomi keluarga dan jalur undangan perguruan tinggi tidak berpihak kepadanya.
Ia sempat menganggur sebelum bekerja sebagai salesman untuk mengumpulkan modal. Penghasilan itu digunakan untuk masuk sekolah perhotelan di Bali, yakni Elizabeth International Hotel & Business School.
Dedi lalu menjalani magang dan bekerja di kapal pesiar yang melintasi Asia. Ia kemudian berpindah ke kapal pesiar Eropa yang berlayar di sungai, meski pernah mengalami mabuk laut saat bekerja.
Pengalaman hampir dua tahun di Eropa membuatnya tertarik untuk tinggal di Jerman. Sebelum pandemi Covid-19, ia mulai belajar bahasa Jerman secara privat di Bekasi.
Saat kembali ke kampung halaman pada 2020, Dedi melanjutkan belajar bahasa Jerman secara mandiri selama hampir satu tahun. Dari proses itu, ia menemukan program Bundesfreiwilligendienst atau BFD sebagai jalur untuk berangkat ke Jerman.
Program Freiwilliges Soziales Jahr atau FSJ sebelumnya tidak dapat digunakannya karena persyaratan usia. Dedi kemudian mendaftar BFD ke ICE Dresden melalui situs freiwilligendienst.de.
Institusi di Jerman mengarahkan Dedi menggunakan agen mitra untuk membantu kualifikasi bahasa, ujian, dan pencarian lokasi kerja sukarela. Biaya agen yang dikeluarkannya sekitar Rp5 juta sampai Rp6 juta, termasuk proses ujian bahasa Jerman tingkat A2 untuk kebutuhan visa.
Pada Agustus 2021, Dedi tiba di Jerman dan ditempatkan di panti jompo di Gera. Ia menjalani pekerjaan berat, termasuk memandikan dan mengganti pakaian penghuni panti, hingga berat badannya turun cukup banyak.
Biaya kuliah di Universitas Mainz relatif terjangkau karena tidak ada uang pangkal. Biaya per semester berada pada kisaran 350 hingga 367 Euro dan telah mencakup fasilitas transportasi gratis.
Dedi menilai peluang kerja setelah lulus tetap terbuka karena Jerman masih kekurangan dokter dan dokter gigi. Ia juga melihat budaya akademik di negara itu lebih terbuka bagi mahasiswa yang kembali menempuh pendidikan pada usia 50 tahun atau 65 tahun selama memenuhi persyaratan studi.







