Dee Lestari Kembali ke Musik, Album Baru Ini Dibangun dari Luka dan Rindu

Author: Redaksi Android62

Dee Lestari menandai kembalinya ke dunia musik lewat album ketiganya, (Jangan) Jatuh Cinta, yang dirilis pada 10 Juni 2026. Album ini menjadi momentum penting karena hadir setelah jeda panjang, ketika publik lebih sering mengenalnya sebagai penulis buku populer.

Rilisan ini terasa seperti pertemuan dua sisi kreatif Dee yang lama berjalan paralel. Di satu sisi, ia dikenal lewat karya literasi seperti Supernova, Aroma Karsa, dan Filosofi Kopi, sementara di sisi lain ia kembali membuka ruang untuk musik yang pernah membesarkan namanya.

Delapan lagu, satu rangkaian emosi

(Jangan) Jatuh Cinta berisi delapan lagu yang dirangkai sebagai pembacaan ulang atas pengalaman cinta, kehilangan, dan penerimaan. Dee menyusunnya dengan pendekatan yang personal dan reflektif, sehingga tiap nomor membawa warna emosi yang berbeda.

Lagu-lagu di dalamnya juga memperlihatkan cara Dee membangun album ini sebagai karya yang kolaboratif. Sejumlah musisi dari lintas generasi dilibatkan untuk memberi sentuhan aransemen dan vokal yang berlapis.

Kolaborasi yang memberi warna berbeda

Lagu pembuka yang juga berjudul (Jangan) Jatuh Cinta digarap bersama Rendy Pandugo dan Teddy Adhitya. Sementara itu, Patah Hati mendapat sentuhan Gala Yudhatama dan Pandji Akbari dengan nuansa yang disebut lebih dinamis.

Kabarku sebelumnya sudah lebih dulu dirilis sebagai single dan melibatkan Fellow Amateurs, kolektif yang digawangi Mikha Angelo bersama rekan-rekannya. Kehadiran lagu ini memperkuat karakter album yang banyak bertumpu pada pertemuan antar-musisi.

Ada pula Hujan Bulan Juni yang digarap bersama Gardika Gigih dan Barsena Bestandhi melalui konsep live session dan choir. Di sisi lain, Jadi Udara hadir dengan aransemen Dimas Wibisana serta vokal latar Arina Ephipania dari Mocca.

Duet dengan Afgan membawa lapisan emosional tersendiri

Salah satu nomor yang paling menonjol adalah Cuma Satu Nama, yang dibawakan sebagai duet bersama Afgan. Lagu ini memiliki kedekatan emosional yang kuat karena liriknya ditulis Dee bersama mendiang suaminya, Reza Gunawan.

Kolaborasi tersebut memberi bobot makna yang berbeda di tengah album yang banyak berbicara soal rasa dan perpisahan. Kehadiran Afgan juga menambah dimensi vokal yang membuat lagu itu menjadi salah satu sorotan utama.

Penutup yang merangkum pelepasan

Album ini ditutup dengan Bintang Utara, lagu yang digarap bersama Lafa Pratomo dan membawa tema relasi orang tua dan anak. Lagu tersebut juga memuat pesan tentang proses belajar melepaskan, sehingga terasa pas sebagai penutup yang kontemplatif.

Selain materi baru, album ini memuat versi segar dari Perahu Kertas yang memberi nuansa berbeda pada katalog lagu Dee. Kombinasi lagu lama dan baru membuat (Jangan) Jatuh Cinta terasa seperti rangkuman perjalanan emosional yang matang, dengan lirik puitis yang tetap melekat pada nama Dee Lestari.

Secara keseluruhan, daftar lagu dalam album ini terdiri dari (Jangan) Jatuh Cinta, Patah Hati, Kabarku, Hujan Bulan Juni, Jadi Udara, Perahu Kertas, Cuma Satu Nama, dan Bintang Utara. Keberadaan album ini memperlihatkan bahwa Dee kembali ke musik dengan pendekatan yang lebih matang, kolaboratif, dan tetap intim secara emosional.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru