Dua resepsi mewah milik El Rumi dan Al Ghazali sama-sama mencuri perhatian, tetapi daya tarik visualnya tidak dibangun dengan cara yang serupa. Satu tampil lewat warna merah yang tegas dan dramatis, sementara yang lain mengandalkan putih, kristal, dan rangkaian bunga yang lebih lembut.
Perbedaan itu langsung terlihat dari keseluruhan suasana ruang. El Rumi menghadirkan kesan glamor dan hangat, sedangkan Al Ghazali memilih nuansa yang bersih, tenang, dan elegan.
Warna menjadi pembeda paling kuat
Pilihan warna dekorasi memberi identitas yang sangat jelas pada masing-masing resepsi. Pada acara El Rumi, merah mendominasi hampir seluruh tampilan sehingga suasana terasa berani dan mencolok.
Sebaliknya, resepsi Al Ghazali memakai putih sebagai warna utama. Hasilnya, ruangan terlihat lebih lembut dan menghadirkan kesan formal yang tidak terlalu ramai secara visual.
Keduanya tetap memakai hijau sebagai penguat suasana
Meski arah konsepnya berbeda, unsur daun hijau tetap hadir di dua resepsi tersebut. Pada dekorasi El, elemen hijau dipakai sebagai latar yang membuat tampilan terasa lebih penuh dan megah.
Di resepsi Al, daun hijau disusun di bagian atas dan membentuk kanopi. Penataan ini memberi efek teduh sekaligus dramatis tanpa menghilangkan kesan rapi.
Lampu gantung ikut mengubah karakter dekorasi
Pencahayaan juga punya peran besar dalam membedakan dua konsep ini. El Rumi menggunakan lampu gantung berbentuk silinder yang memberi sentuhan modern dan berbeda dari dekorasi yang biasanya terkesan klasik.
Sementara itu, Al Ghazali memilih lampu kristal. Detail ini membuat suasana terlihat lebih mewah dan klasik, terutama ketika pencahayaan malam mulai menonjolkan bunga dan struktur dekorasi.
Rangkaian bunga menegaskan emosi visual yang berbeda
Bunga di resepsi El banyak memakai warna merah dengan tambahan daun hijau. Kombinasi itu membuat suasana terasa tegas dan romantis sekaligus.
Pada resepsi Al, bunga putih dan peach menjadi fokus utama. Pilihan ini menghasilkan kesan yang lebih lembut, menenangkan, dan elegan.
Pelaminan, kursi, hingga kue pun mengikuti konsep masing-masing
Perbedaan konsep berlanjut ke area pelaminan. El dan Syifa memakai sofa abu-abu muda dengan bantalan empuk yang terlihat modern dan nyaman, sedangkan Al memilih kursi kayu dengan sandaran rotan yang memberi nuansa alami dan hangat.
Kue pernikahan juga dibuat mengikuti karakter dekorasi. Kue El tampil bertingkat tinggi dengan gaya klasik, sementara kue Al terlihat lebih lebar dengan topping buah beri yang melimpah.
Area dansa dibuat dengan pendekatan yang tidak sama
Bagian dance floor menjadi detail lain yang menunjukkan perbedaan arah konsep. Pada resepsi El, lantainya dibuat glossy dan sedikit lebih tinggi seperti panggung sehingga tampil lebih menonjol.
Di resepsi Al, dance floor dibuat datar dan polos agar menyatu dengan area tamu undangan. Dari sini terlihat bahwa kemewahan bisa hadir lewat cara yang sangat berbeda, tergantung bagaimana konsep dibangun.
Adu dekorasi resepsi El Rumi dan Al Ghazali menunjukkan bahwa kemewahan tidak harus hadir dengan bahasa visual yang sama. El menonjol lewat merah yang dramatis, sedangkan Al memperlihatkan sisi elegan melalui putih, kristal, dan susunan dekorasi yang lebih lembut.
Source: www.idntimes.com






