Delapan Lengan Gurita Bisa Bekerja Sendiri, Rahasia Koordinasi Alam Yang Melampaui Manusia

Kemampuan gurita untuk menjalankan banyak tugas sekaligus bukan sekadar tampilan yang terlihat rumit dari luar. Pada hewan ini, kendali gerak tidak hanya bertumpu pada otak pusat, karena delapan lengannya ikut memproses dan merespons rangsangan secara mandiri.

Itulah sebabnya gurita sering dianggap sebagai contoh ekstrem multitasking di alam. Saat satu lengan meraba atau memegang sesuatu, lengan lain bisa tetap bergerak, membuka cangkang, atau menanggapi lingkungan tanpa harus menunggu perintah penuh dari otak.

Lengan yang bekerja seperti pusat kendali kecil

Di dalam tiap lengan gurita terdapat struktur saraf bernama axial nervous cord atau ANC. Struktur ini menjadi perhatian dalam studi yang dimuat di Nature Communications karena membantu menjelaskan bagaimana lengan gurita dapat bekerja dengan tingkat kompleksitas yang tinggi.

ANC kerap dibandingkan dengan sumsum tulang belakang pada vertebrata karena sama-sama memiliki daerah badan sel, area neuropil, dan saluran panjang yang menghubungkan bagian tubuh dengan otak. Meski begitu, lengan gurita berkembang dengan pola yang jauh lebih bebas dan tidak mengikuti bentuk anggota tubuh manusia atau hewan vertebrata lain.

Lengan gurita juga tidak bertulang. Secara teknis, bagian ini merupakan hidrostat berotot, yaitu susunan otot, jaringan ikat, dan jaringan saraf yang membuatnya sangat lentur serta mudah dibentuk sesuai kebutuhan.

Otak tidak bekerja sendirian

Salah satu alasan gurita mampu melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan adalah sebaran neuron yang besar di delapan lengannya. Temuan dalam makalah yang dirujuk menunjukkan bahwa neuron di lengan justru jumlahnya lebih banyak dibandingkan neuron di otak.

Susunan seperti ini memberi tiap lengan tingkat otonomi yang tinggi. Karena itu, gurita bisa memakai satu lengan untuk meraba atau memegang, sementara lengan lain tetap aktif bergerak dan merespons rangsangan dari lingkungan.

Pengisap di sepanjang lengan juga ikut mendukung kemampuan tersebut. Setiap pengisap dapat dikendalikan secara mandiri, dapat mengubah bentuk, serta mampu mencium, mengecap, dan merasakan.

Koordinasi yang tersebar di seluruh tubuh

Cara kerja gurita menunjukkan bahwa koordinasi tubuhnya tidak sepenuhnya terpusat di otak. Sistem sarafnya mendistribusikan kontrol gerak ke bagian-bagian yang lebih mandiri, sehingga beberapa lengan bisa menjalankan fungsi berbeda secara bersamaan.

Dalam praktiknya, gurita dapat bergerak di dasar laut sambil menggunakan lengan lain untuk membuka cangkang. Pola ini memperlihatkan bahwa kemampuan multitasking pada gurita lahir dari organisasi saraf yang tersebar, bukan dari satu pusat kendali saja.

Studi terbaru juga menyebut ANC tersusun dalam beberapa segmen yang memanjang di sepanjang lengan. Susunan modular ini memungkinkan pengendalian gerakan didelegasikan ke neuron di tiap segmen, bukan dikendalikan penuh oleh otak.

Mengapa sistem ini sangat berguna

Setiap segmen pada lapisan badan sel ANC berperan sebagai unit pemrosesan lokal untuk kontrol motorik lengan. Dengan cara ini, gurita bisa menyelesaikan banyak tugas secara efisien dalam satu waktu.

Di alam, kemampuan tersebut sangat membantu ketika gurita harus bergerak, mencari makan, dan sekaligus merespons situasi sekitar. Delapan lengan yang didukung banyak neuron membuat hewan ini menjadi salah satu contoh paling menonjol tentang bagaimana kecerdasan dan koordinasi tubuh dapat berkembang di laut.

Karena desain biologisnya memang memberi tiap lengan ruang untuk bekerja hampir seperti unit mandiri, gurita sulit dibandingkan dengan manusia dalam hal multitasking. Pada hewan ini, melakukan banyak hal sekaligus bukan hanya soal kebiasaan, melainkan bagian dari sistem tubuh yang memang dibangun untuk bekerja secara tersebar.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait