Desakan Copot Infantino Menguat, Polemik Balogun Bayangi Pemilihan FIFA

Desakan agar Gianni Infantino dicopot dari jabatan Presiden FIFA menguat setelah polemik penangguhan hukuman Folarin Balogun pada Piala Dunia 2026. Kritik itu muncul ketika Infantino telah menyatakan rencana maju lagi untuk masa jabatan 2027 hingga 2031.

Pemilihan Presiden FIFA berikutnya dijadwalkan berlangsung di Maroko pada 18 Maret tahun depan. Meski tekanan publik meningkat, belum terlihat kandidat kuat yang diperkirakan mampu menjadi penantang serius bagi Infantino.

Kritik dari Tokoh Sepak Bola

Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter menilai penyelenggaraan Piala Dunia 2026 telah merusak kredibilitas ajang sepak bola terbesar tersebut. Ia meminta dunia sepak bola mencopot Infantino setelah turnamen berakhir.

Blatter juga menyoroti kedekatan Infantino dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konteks keputusan disiplin Balogun. “Politik tidak boleh menutupi permainan,” kata Blatter.

TokohJabatanSikap
Sepp BlatterMantan Presiden FIFAMeminta Infantino dicopot.
Javier TebasPresiden LaLigaMenilai masa jabatan Infantino sudah habis.
Aleksander CeferinPresiden UEFADilaporkan berbeda pandangan dengan FIFA.

Presiden LaLiga Javier Tebas ikut menyebut kasus Balogun sebagai persoalan yang sangat serius. Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, ia menilai FIFA beruntung karena Amerika Serikat tersingkir sebelum persoalan itu membesar.

“Mereka beruntung Belgia menyingkirkan AS karena jika tidak, kasus bisa muncul yang mungkin akan membuat Infantino kehilangan pekerjaannya,” kata Tebas. Menurutnya, kemenangan Belgia membuat isu tersebut seolah dapat dikubur, padahal kasus itu hanya “puncak gunung es”.

Penangguhan Hukuman Balogun

Polemik bermula setelah Folarin Balogun menerima kartu merah saat Amerika Serikat menghadapi Bosnia. Penyerang Amerika Serikat itu kemudian dijatuhi sanksi larangan bermain sebelum keputusan tersebut ditinjau kembali.

Bola.compas.com melaporkan Donald Trump menghubungi Infantino dan meminta agar keputusan itu ditinjau. Komite disiplin FIFA setelah itu menangguhkan hukuman Balogun sehingga ia dapat tampil pada laga 16 besar melawan Belgia.

Amerika Serikat akhirnya kalah 1-4 dari Belgia dalam pertandingan tersebut. Hasil itu tidak menghentikan perdebatan mengenai prosedur serta alasan di balik penangguhan sanksi pemain tuan rumah itu.

Beban Kompetisi dan Ketegangan UEFA

Tebas juga kembali mengkritik kebijakan FIFA yang memperluas kompetisi internasional. Menurutnya, kebijakan tersebut menambah beban bagi liga domestik dan klub.

Saat ditanya mengenai kemungkinan Infantino mundur, Tebas menjawab tegas bahwa waktunya sudah habis. Namun, ia menilai situasi pemilihan saat ini membuat peluang Infantino bertahan tetap besar karena tidak ada oposisi kuat.

Perbedaan pandangan juga dilaporkan terjadi antara FIFA dan UEFA yang dipimpin Aleksander Ceferin. Ceferin bahkan tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 setelah muncul ketegangan terkait prosedur disiplin, operasional pertandingan, dan penugasan perwasitan.

Rangkaian kritik itu menempatkan tata kelola FIFA dalam sorotan menjelang pemilihan presiden berikutnya. Persoalan Balogun menjadi titik utama yang dipakai para pengkritik untuk mempertanyakan independensi keputusan organisasi tersebut.

Source: bola.kompas.com
Berita Terkait