Desktop belum benar-benar tersisih di Indonesia. Walau tablet unggul tipis secara nasional pada 2026, perangkat meja itu masih memegang ceruk yang kuat di kalangan pekerja, sarjana, dan kelompok dengan daya beli lebih tinggi.
Data APJII menunjukkan penetrasi tablet berada di 2,39%, sementara komputer meja hanya 0,85%. Namun, angka agregat itu tidak otomatis berarti desktop kalah di semua lapisan pengguna, karena preferensi perangkat bergerak tajam mengikuti usia, pendidikan, dan pendapatan.
Gen-Z memberi ruang bagi tablet
Perubahan paling menarik tampak pada generasi Z. Di kelompok ini, tablet mencatat penetrasi 3,0% dan sedikit mengungguli desktop yang berada di 2,8%.
Pola tersebut sejalan dengan gaya hidup digital yang lebih mobile dan kebutuhan hiburan visual yang tetap portabel. Di sisi lain, perangkat yang lebih besar tetap dicari ketika aktivitas utama berpusat pada kenyamanan layar dan mobilitas ringan.
Desktop tetap kuat di kalangan milenial dan generasi lebih tua
Berbeda dengan Gen-Z, milenial justru lebih dekat dengan desktop. Pada kelompok ini, desktop mencatat 3,6%, sedangkan tablet berada di 2,3%.
Di generasi X hingga baby boomers, desktop juga masih mendapat ruang. Ergonomi meja kerja tradisional menjadi salah satu alasan perangkat ini bertahan di tengah serbuan perangkat yang lebih ringkas.
Pendidikan ikut menentukan pilihan perangkat
Jika ditarik ke sisi pendidikan, desktop kembali menunjukkan daya tahan yang jelas. Pada kelompok pendidikan tinggi atau sarjana, desktop mencapai 5,0%, sementara tablet berada di 3,2%.
Keseimbangan terjadi pada kelompok pendidikan menengah atau SMP. Di segmen ini, desktop dan tablet sama-sama berada di 1,9%, menjadi satu-satunya titik imbang dalam pemetaan APJII.
Kelompok pendidikan dasar memperlihatkan jarak yang paling lebar. Pada responden yang tidak tamat SD, desktop tercatat 4,2%, sedangkan tablet hanya 0,7%.
Daya beli mempertegas ceruk desktop
Faktor pendapatan bulanan ikut membentuk arah penggunaan perangkat. Polanya bergerak linier, dengan masyarakat berdaya beli lebih tinggi cenderung memilih perangkat stasioner yang lebih tangguh.
Di titik ini, desktop tampil sebagai perangkat yang lekat dengan kebutuhan komputasi berat. Tablet tetap berada pada wilayah yang lebih praktis, terutama untuk konsumsi konten dan penggunaan yang mengandalkan mobilitas.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa dua perangkat ini tidak saling meniadakan. Tablet menguat di kalangan muda dan segmen entry-level, sementara desktop tetap relevan bagi pengguna yang membutuhkan produktivitas kelas berat.
Dalam konteks yang lebih luas, dominasi smartphone masih sangat besar dengan porsi akses internet 84,31%. Meski begitu, persaingan tablet dan desktop tetap penting sebagai penanda bagaimana perilaku digital masyarakat Indonesia terus bergerak mengikuti kebutuhan sehari-hari.
