Campak masih menjadi ancaman serius karena penularannya sangat mudah dan perlindungan kelompok belum terbentuk optimal. Di Indonesia, cakupan imunisasi campak-rubela belum mencapai ambang yang dibutuhkan untuk kekebalan kelompok, sehingga risiko penularan masih terbuka lebar.
Data BPOM menunjukkan ada 10 kematian terkait campak secara nasional pada tahun 2026. Temuan itu juga memperlihatkan sekitar 8% kasus terjadi pada kelompok usia dewasa di atas 18 tahun, sehingga campak tidak lagi bisa dipandang sebagai penyakit anak semata.
Mengapa orang dewasa tetap perlu waspada
Selama ini imunisasi campak sering dikaitkan dengan masa kanak-kanak, padahal kasus pada orang dewasa menunjukkan perlindungan tidak boleh berhenti di sana. Imunisasi pada orang dewasa juga ikut membantu membangun kekebalan komunal yang lebih luas.
Kelompok dewasa berisiko tinggi seperti tenaga kesehatan, pelaku perjalanan internasional, dan individu yang memiliki kontak erat dengan pasien imunokompromais disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait vaksinasi lanjutan. Langkah ini penting agar perlindungan tetap sesuai kebutuhan masing-masing orang.
Waktu suntik vaksin yang dianjurkan
Secara global, WHO merekomendasikan dosis pertama vaksin campak diberikan pada usia sekitar 9 bulan di wilayah dengan risiko tinggi. Untuk perlindungan yang lebih optimal, WHO juga merekomendasikan dosis kedua yang umumnya dijadwalkan pada usia 15–18 bulan.
Dalam konteks Indonesia, persetujuan BPOM terhadap vaksin MMR dinilai sebagai langkah berbasis ilmiah yang membantu perlindungan individu sekaligus mendukung kekebalan komunal. Respons cepat dianggap penting untuk menghadapi wabah campak yang sedang berlangsung, terutama agar anak-anak dan kelompok rentan lain mendapat perlindungan lebih baik.
Cakupan imunisasi masih belum memadai
Risiko penularan masih besar karena cakupan imunisasi yang tinggi belum tercapai. Kementerian Kesehatan melaporkan cakupan imunisasi MR pada 2024 baru 92% untuk dosis pertama atau MR1, sedangkan MR2 masih 82,3%.
Angka itu belum cukup untuk memutus rantai penularan. Untuk penyakit yang sangat mudah menular seperti campak, cakupan imunisasi umumnya harus berada di atas 95% agar kekebalan kelompok bisa terbentuk.
Dampak campak bisa jauh lebih berat dari sekadar demam
Infeksi campak tidak berhenti pada gejala awal seperti demam dan ruam. Penyakit ini dapat berkembang menjadi komplikasi berat, termasuk pneumonia, ensefalitis, SSPE, hingga kematian.
Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan meski data yang dipublikasikan menunjukkan penurunan dibandingkan puncak awal tahun. Otoritas kesehatan juga menekankan perlunya penguatan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk menekan penularan dan dampaknya.
Akses vaksin dan edukasi publik ikut menentukan
BPOM disebut membantu mempercepat akses masyarakat terhadap obat dan vaksin baru melalui proses yang responsif dan tepat waktu. Dalam tiga tahun terakhir, GSK mencatat rata-rata satu registrasi obat atau vaksin baru setiap enam bulan untuk mempercepat akses terhadap terapi inovatif dan pencegahan.
Edukasi publik juga diperkuat melalui kanal media sosial @ayokitavaksin, yang menyediakan informasi mengenai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Upaya ini diharapkan membuat masyarakat lebih memahami bahwa campak bukan hanya ancaman bagi anak-anak, tetapi juga bagi orang dewasa yang belum terlindungi dengan baik.
Source: lifestyle.bisnis.com