Di el-Fasher, Sudan barat, ribuan orang masih berada dalam penahanan Rapid Support Forces atau RSF dengan kondisi yang disebut sangat buruk. Sudan Doctors Network menyebut setidaknya ada 20 dokter, lebih dari 1.470 warga sipil, dan 907 personel militer yang tersebar di sejumlah lokasi penahanan di kota itu.
Lembaga medis lokal tersebut menggambarkan situasi para tahanan sebagai “dire” dan menuding adanya pelanggaran serius di pusat-pusat penahanan. Tuduhan yang muncul mencakup pembunuhan saat penyiksaan dan interogasi, pembunuhan bermotif etnis, serta pelanggaran berat lain termasuk eksekusi lapangan.
Kondisi penahanan yang terus memburuk
Sudan Doctors Network melaporkan para tahanan tidak ditempatkan di satu lokasi saja, melainkan dipindahkan ke beberapa fasilitas berbeda. Di antaranya adalah Penjara Shalla, sebuah rumah sakit anak, dan kontainer kargo yang dipakai sebagai tempat penahanan.
Dalam laporan itu, tercatat pula 370 perempuan dan 426 anak ikut berada di antara para tahanan. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak konflik di el-Fasher tidak hanya menimpa kombatan, tetapi juga warga sipil dalam jumlah besar.
Sejumlah tahanan disebut mengalami luka akibat serangan artileri, namun tidak memperoleh perawatan medis yang memadai. Situasi itu membuat keadaan mereka semakin rentan di tengah penahanan yang sudah dinilai buruk sejak awal.
Layanan kesehatan ikut terpukul
Penahanan para dokter ikut memperparah kondisi layanan kesehatan di el-Fasher. Persediaan obat dan peralatan medis dilaporkan berada dalam keadaan “kritikal”, sementara akses terhadap pertolongan medis semakin tersendat.
Sudan Doctors Network menegaskan bahwa kekerasan saat perebutan kota memiliki kaitan langsung dengan runtuhnya layanan kesehatan dan memburuknya kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut. Dengan tenaga medis yang ikut ditahan, kemampuan fasilitas kesehatan untuk merespons kebutuhan darurat menjadi semakin terbatas.
Situasi di pusat-pusat penahanan juga makin berat setelah wabah kolera muncul sejak awal Februari. Sanitasi yang buruk, minimnya air bersih, dan malnutrisi mempercepat penyebaran penyakit di antara para tahanan.
El-Fasher dalam perang Sudan yang lebih luas
El-Fasher sebelumnya menjadi benteng terakhir tentara Sudan di Darfur sebelum jatuh ke tangan RSF pada akhir Oktober. Kota itu kini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam perang saudara antara RSF dan Angkatan Bersenjata Sudan yang pecah sejak April 2023.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut perang tersebut telah menewaskan ratusan ribu orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi. PBB juga menggambarkan situasi itu sebagai “krisis kemanusiaan terburuk di dunia”.
RSF sendiri telah lama dituduh melakukan berbagai kejahatan terhadap kemanusiaan selama perang berlangsung. Pada Februari, para ahli yang didukung PBB menyatakan RSF menjalankan “kampanye penghancuran yang terkoordinasi” terhadap komunitas non-Arab di dan sekitar el-Fasher, dan tanda-tanda yang muncul disebut “mengarah pada genosida”.
Hingga laporan terbaru itu muncul, belum ada tanggapan langsung dari RSF atas tuduhan yang disampaikan Sudan Doctors Network. Di saat yang sama, risiko terhadap warga sipil di Darfur masih berlanjut di lokasi lain, termasuk setelah Emergency Lawyers melaporkan serangan tentara Sudan ke kamp pengungsi Hamidiyah dekat Zalingei yang menewaskan enam orang dan melukai puluhan lainnya.







