Dimas Rebut Klasemen Umum Di Tanjakan Jebel Chréa, Indonesia Borong Dua Gelar Di Aljazair

Author: Redaksi Android62
Add on Google

Jakarta Pro Cycling Team pulang dari Tour de Algérie Cycliste 2026 dengan hasil besar yang langsung mengangkat nama Indonesia di lintasan internasional. Dalam ajang multistage yang keras itu, Dimas Nur Fadhil Rizqi merebut gelar juara umum, sementara Rohman mengamankan maillot King of Mountain.

Pencapaian tersebut terasa menonjol karena Tour de Algérie bukan lomba ringan. Balapan ini berlangsung dalam 10 etape dengan total jarak lebih dari 1.697 kilometer, melintasi wilayah Aljazair dari Oran hingga Tizi Ouzou.

Sorotan utama datang dari Dimas yang berhasil menutup balapan sebagai pemimpin klasemen akhir. Ia sempat berada di bawah tekanan karena posisi teratas dikuasai pembalap Belgia Yorben Lauryssen dari Tarteletto-Isorex selama delapan etape pertama.

Perubahan besar terjadi pada etape kesembilan. Saat lintasan bergerak dari Hammam Righa menuju Jebel Chréa, Dimas mampu memanfaatkan tanjakan berat menuju area di ketinggian lebih dari 1.400 meter untuk mengambil alih klasemen umum.

Setelah momen itu, posisinya tidak tergeser lagi sampai garis finis. Dimas pun menutup Tour de Algérie 2026 sebagai juara umum dan mengungguli Vainqueur Masengesho serta Anatolii Budiak di podium akhir.

Bagi pembalap berusia 19 tahun kelahiran 12 Mei 2006 itu, hasil tersebut juga membawa makna tambahan. Dimas meraih maillot putih sebagai pembalap muda terbaik, yang menjadi maillot putih pertamanya di ajang UCI Tour.

Ia menyebut capaian itu sebagai pengalaman berharga dalam kariernya. Dimas juga menempatkannya sebagai salah satu kenangan paling berkesan di 2026 dan sudah mulai memikirkan target berikutnya, yaitu merebut maillot kuning pada kesempatan lain.

Selama perlombaan, Dimas mengandalkan Polygon Helios. Sepeda buatan Indonesia itu menjadi andalan Jakarta Pro Cycling Team untuk menghadapi kompetisi multistage yang menuntut daya tahan, strategi, dan ketepatan membaca balapan.

Di sisi lain, Rohman juga membawa pulang hasil penting lewat gelar King of Mountain. Ia tampil stabil di lintasan menanjak dan mengumpulkan poin lebih baik daripada sejumlah pesaing kuat dari Jerman dan Belgia.

Selisihnya memang hanya dua poin, tetapi cukup untuk memastikan status raja tanjakan di Tour de Algérie 2026. Catatan itu menegaskan reputasinya sebagai spesialis medan berat yang bisa menjaga performa sepanjang lomba.

Prestasi Rohman di Aljazair juga menambah daftar pencapaiannya. Pada 2025, ia meraih gelar Juara Nasional Individual Road Race dan menyumbang medali perak untuk nomor Road Race di SEA Games Thailand.

Setelah tampil di Tour de Algérie, Rohman langsung mengalihkan perhatian ke target berikutnya. Ia ingin mempertahankan gelar juara nasional dan memusatkan fokus pada Asian Games 2026, khususnya nomor Individual Time Trial.

“Alhamdulillah sangat senang, tapi kemenangan ini belum juga menjadi kepuasan bagi saya pribadi,” kata Rohman. Ia juga menegaskan ambisinya untuk terus berprestasi setinggi mungkin dan membidik gold medal di ITT Asian Games.

Keberhasilan Jakarta Pro Cycling Team terasa penting karena Tour de Algérie Cycliste dikenal sebagai salah satu ajang kompetitif dalam kalender UCI. Lomba ini diikuti tim-tim dari Eropa, Afrika, hingga Asia, dengan race director dan jury internasional dipimpin Jorge Gual Martinez asal Spanyol.

Dalam konteks itu, dua gelar utama yang dibawa pulang tim Indonesia menjadi penegasan bahwa pembalap nasional bisa bersaing di level tinggi. Dukungan tim, keluarga, dan teknologi Polygon Helios ikut mengiringi hasil yang memberi sinyal positif bagi masa depan balap sepeda Indonesia.

Source: www.viva.co.id
Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terbaru