Disiplin Organisasi dan Ekonomi Umat Jadi Syarat Lompatan Besar Muhammadiyah Jawa Barat

Muhammadiyah Jawa Barat diminta menyiapkan lompatan besar dengan bertumpu pada disiplin organisasi, etos kemajuan, dan penguatan ekonomi umat. Pesan itu disampaikan Haedar Nashir di hadapan peserta Pengajian Bersama Ketum PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Bandung.

Haedar menilai tiga hal itu tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Jika ingin persyarikatan makin kuat, maka disiplin, semangat maju, dan kemandirian ekonomi harus dipadukan dalam kerja organisasi sehari-hari.

Disiplin sebagai fondasi gerak organisasi

Dalam pandangannya, disiplin organisasi menjadi syarat utama agar Muhammadiyah tidak berjalan longgar. Ia mengingatkan agar setiap program baru tidak langsung diterima hanya karena terlihat menjanjikan, melainkan perlu dikaji secara matang terlebih dahulu.

Haedar juga menyoroti kebiasaan permisif yang kerap muncul dalam organisasi. Menurutnya, kekeliruan tetap harus dikoreksi meski terhadap pihak tertentu ada rasa sungkan.

“Kalau salah harus dikoreksi. Jangan karena segan lalu organisasi menjadi longgar,” tegasnya.

Ia menilai ketegasan semacam itu penting supaya organisasi tetap sehat dan mampu bergerak cepat. Di tengah persaingan yang makin ketat, disiplin menjadi modal agar Muhammadiyah Jawa Barat tidak kehilangan arah.

Persaingan kampus makin ketat

Haedar melihat dunia perguruan tinggi saat ini sudah berada dalam kompetisi yang semakin sengit. Karena itu, Muhammadiyah di Jawa Barat diminta terus berlomba menghadirkan keunggulan agar tetap relevan dan berdaya saing.

Ia menempatkan capaian Universitas Muhammadiyah Bandung sebagai salah satu modal penting bagi optimisme ke depan. Menurutnya, kepemimpinan Ahmad Dahlan di lingkungan PWM Jawa Barat telah memberi warna baru bagi kemajuan persyarikatan di wilayah itu.

Meski begitu, modal tersebut tetap harus dijaga dengan kerja yang disiplin dan orientasi kemajuan yang terukur. Haedar menilai para pimpinan dan rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Jawa Barat perlu bekerja sungguh-sungguh serta tahan menghadapi tantangan.

Kemajuan harus tampak dalam manfaat sosial

Dorongan kemajuan yang disampaikan Haedar tidak berhenti pada semangat berlomba saja. Ia mengaitkannya dengan spirit Fastabiqul Khairat dalam Surah Al-Baqarah ayat 148, yang menurutnya harus diwujudkan dalam pengamalan Islam yang luas dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia juga mengutip pandangan Ibnu Abbas yang menekankan bahwa umat Islam tidak hanya dituntut taat pada risalah agama, tetapi juga aktif menghadirkan manfaat sosial. Dari pemahaman itu, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah diminta tampil sebagai organisasi yang memberi solusi, dari tingkat pusat hingga ranting.

Bagi Haedar, menjadi Khairu Ummah berarti menjadi umat yang paling bermanfaat bagi manusia. Karena itu, ia menegaskan bahwa peran Muhammadiyah harus hadir di tengah persoalan masyarakat, bukan hanya dalam aktivitas internal organisasi.

Ia menyebut peran itu penting saat terjadi bencana, ketika membantu kelompok marginal, dan saat meredam konflik yang membutuhkan jalan keluar. Dalam situasi seperti itu, Muhammadiyah diharapkan tampil sebagai Syuhada ‘alan-nas atau saksi bagi umat manusia.

Ekonomi umat ikut ditarik ke garis depan

Selain disiplin dan etos kemajuan, Haedar memberi perhatian besar pada pemberdayaan ekonomi umat. Ia menilai organisasi tidak cukup bertumpu pada ibadah spiritual, tetapi juga harus membangun kemandirian ekonomi yang kuat.

Menurutnya, Majelis Ekonomi memiliki posisi yang sama penting dengan Majelis Tabligh. Ia juga menyampaikan bahwa penguasaan ekonomi pada akhirnya bisa memengaruhi politik, sehingga Muhammadiyah perlu memiliki cara pandang baru dalam memperkuat ekonomi umat.

Untuk menggambarkan daya pengaruh itu, Haedar memakai ilustrasi tentang kelompok Yahudi yang jumlahnya relatif kecil namun memiliki pengaruh global karena penguasaan ekonomi dan teknologi. Ia menggunakan contoh tersebut untuk menegaskan bahwa kapasitas organisasi akan sangat menentukan dalam menghadapi perubahan zaman.

Pengelolaan tambang dan kerja kolektif

Saat menyinggung isu pengelolaan tambang oleh Muhammadiyah yang sempat menyita perhatian publik, Haedar menegaskan bahwa keputusan itu diambil secara rasional. Ia menyebut pengelolaannya akan dilakukan secara profesional oleh pihak-pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya demi kemaslahatan umat.

Haedar juga mengingatkan bahwa keberhasilan persyarikatan tidak lahir secara instan. Kerja keras, kesabaran, dan keikhlasan disebutnya sebagai tiga kunci utama dalam perjalanan organisasi.

Ia menilai semangat rereongan atau gotong royong perlu terus dijaga agar seluruh unsur persyarikatan bisa bergerak bersama. Dengan modal itu, Haedar optimistis Muhammadiyah Jawa Barat dapat meraih kemajuan besar dan semakin berpengaruh dalam lima tahun ke depan.

Source: muhammadiyah.or.id

Berita Terkait