PT Astra International Tbk (ASII) tetap menyiapkan dividen tunai jumbo meski laba bersihnya turun. Perseroan menyetujui pembagian Rp15,7 triliun untuk tahun buku 2025, atau setara 47,8 persen dari laba bersih yang dibukukan.
Keputusan itu diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta pada Kamis (23/4/2026). Di saat kinerja belum sepenuhnya pulih, langkah ini memberi sinyal bahwa Astra masih menjaga ruang besar untuk berbagi keuntungan kepada pemegang saham.
Dividen per saham tetap tinggi
Astra menetapkan total dividen tunai Rp390 per saham. Nilai itu sudah termasuk dividen interim Rp98 per saham yang lebih dulu dibayarkan pada 31 Oktober 2025.
Dengan pembayaran interim tersebut, sisa dividen final yang belum dibayarkan mencapai Rp292 per saham. Pembayaran dividen final dijadwalkan berlangsung pada 25 Mei 2026.
Skema pembagian ini menunjukkan bahwa Astra tetap mempertahankan tingkat distribusi laba yang tinggi. Kebijakan tersebut muncul di tengah kondisi usaha yang masih dibayangi tekanan pada beberapa lini utama.
Laba dan pendapatan sama-sama melemah
Sepanjang 2025, Astra membukukan laba bersih Rp32,76 triliun. Angka itu turun 3,34 persen dibandingkan periode sebelumnya, sehingga ruang pertumbuhan perusahaan bergerak lebih hati-hati.
Pendapatan bersih konsolidasian juga turun menjadi Rp323,4 triliun. Penurunan 2 persen ini memperlihatkan bahwa tekanan bisnis belum benar-benar mereda di sejumlah sektor yang selama ini menjadi penopang grup.
Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro, mengatakan penurunan laba terutama dipicu oleh harga batu bara yang lebih rendah dan pelemahan pasar mobil baru. Dua faktor tersebut langsung memberi dampak pada bisnis yang kontribusinya besar terhadap kinerja Astra.
Sejumlah lini masih memberi penyangga
Di tengah tekanan itu, tidak semua unit usaha mengalami pelemahan. Djony menegaskan bahwa bisnis pertambangan emas, jasa keuangan, dan penjualan sepeda motor masih mencatat performa solid.
Kondisi tersebut penting bagi struktur usaha Astra karena membantu menjaga keseimbangan ketika salah satu lini menghadapi tekanan. Arus pendapatan dari sektor yang masih kuat ikut menopang kestabilan grup secara keseluruhan.
Beban pokok pendapatan perusahaan juga turun menjadi Rp251,94 triliun. Penurunan ini mencerminkan adanya penyesuaian biaya di tengah situasi pasar yang lebih menantang.
Kas dan aset masih menopang keputusan
Hingga akhir Desember 2025, kas bersih Astra di luar anak perusahaan jasa keuangan tercatat sebesar Rp7,2 triliun. Posisi kas ini menjadi salah satu alasan perusahaan masih mampu menyalurkan dividen dalam jumlah besar.
Pada saat yang sama, nilai aset bersih per saham ASII naik 8 persen menjadi Rp5.692 pada 31 Desember 2025. Kenaikan ini menunjukkan fondasi neraca perseroan tetap terjaga meskipun kinerja laba dan pendapatan melambat.
Di pasar, pembagian dividen besar biasanya dibaca sebagai tanda keyakinan manajemen terhadap ketahanan bisnis. Dalam kasus Astra, sinyal itu muncul bersamaan dengan kinerja yang melemah namun belum mengganggu kemampuan perusahaan menjaga pembagian nilai kepada pemegang saham.
Kombinasi laba yang turun, pendapatan yang tertekan, dan dividen yang tetap besar membuat Astra kembali mencuri perhatian investor. Di tengah tekanan harga batu bara dan lesunya pasar mobil baru, kemampuan grup mempertahankan kas dan distribusi dividen menunjukkan bahwa daya tahannya masih kuat menghadapi perubahan siklus usaha.







