Dividen BBCA Naik Ke Kisaran 6%, Namun Potensi Rugi Harga Masih Mengintai

Author: Redaksi Android62

Kenaikan dividend yield BBCA ke kisaran 6% tidak serta-merta membuat saham ini otomatis aman untuk diburu. Di tengah tekanan harga yang masih berat, potensi dividen tetap harus dibaca bersama risiko penurunan nilai saham yang jauh lebih besar.

Sepanjang tahun berjalan, saham PT Bank Central Asia Tbk itu sudah melemah 36,76%. Kondisi tersebut membuat banyak investor melirik peluang dari imbal hasil dividen, tetapi potensi keuntungan itu belum tentu cukup untuk menutup risiko kerugian harga.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah, menilai dividend yield BBCA terdorong naik karena harga sahamnya terkoreksi. Secara teori, saham blue chip seperti BBCA dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memang bisa tampak memberi imbal hasil lebih tinggi saat harganya turun.

Dari kinerja keuangan tahun buku 2025, total dividen interim dan final BBCA berada di kisaran Rp 336 per lembar saham. Ketika harga saham sempat bergerak ke area Rp 5.075 pada Senin pagi, dividend yield yang terlihat naik menjadi sekitar 6%.

Angka itu memang terlihat menarik jika dibandingkan dengan bunga deposito bank konvensional. Namun, besarnya yield tidak otomatis cocok untuk semua profil investor, terutama bila tujuan investasi masih berfokus pada pergerakan harga jangka pendek.

Fath mengingatkan bahwa investor tidak boleh terpaku pada dividend yield yang membesar hanya karena harga saham turun. Dalam kondisi seperti ini, risiko capital loss tetap dominan dan perlu dihitung bersama potensi dividen yang diterima.

Menurutnya, strategi berburu dividen di tengah pasar yang bergejolak lebih sesuai untuk investor dengan horizon panjang. Ia menilai periode investasi minimal 3 tahun atau lebih memberi peluang lebih besar agar dividen bisa menutup fluktuasi harga saham.

Peringatan ini menjadi penting bagi investor jangka pendek. Jika dana ditempatkan di bawah satu tahun, dividen yang diterima tidak akan cukup untuk menutup kerugian dari penurunan harga saham yang masih tertekan.

Situasi BBCA menunjukkan bahwa dividend yield tinggi tidak selalu identik dengan saham yang aman atau murah. Yield bisa membesar karena pembagian dividen yang besar, tetapi bisa juga naik karena harga saham jatuh lebih cepat.

Bagi investor, kondisi ini menuntut perhitungan yang lebih hati-hati terhadap tujuan investasi, toleransi risiko, dan lamanya dana ditempatkan. Di saat yang sama, pergerakan BBCA juga menegaskan bahwa saham unggulan tetap dapat terkoreksi tajam ketika sentimen pasar melemah.

Dengan harga yang masih berada di bawah tekanan, BBCA tetap menarik untuk dicermati bukan hanya dari sisi dividen. Arah pemulihan harga akan sangat menentukan apakah imbal hasil itu benar-benar memberi manfaat atau justru kalah oleh risiko penurunan lanjutan.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru