Pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam mode hati-hati. Mata uang Garuda ditutup di level Rp 17.667 per dolar AS, turun 13 poin dari penutupan sebelumnya di Rp 17.653 per dolar AS.
Pergerakan intraday juga memperlihatkan arah yang belum solid. Rupiah sempat dibuka menguat tipis 2 poin atau 0,01% ke Rp 17.651 per dolar AS, tetapi tekanan jual kembali muncul hingga sesi berakhir.
Tekanan dari luar negeri belum mereda
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi gabungan sentimen eksternal dan domestik. Dari luar negeri, pasar terus mencermati konflik di Timur Tengah yang membuat pelaku pasar bersikap defensif.
Amerika Serikat memang memberi sinyal ingin mengakhiri konflik dengan Iran di kawasan tersebut. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut perang di Iran telah memasuki tahap akhir setelah proses pembicaraan dinilai berjalan positif.
Namun, sinyal itu belum cukup kuat untuk menenangkan pasar. Trump juga memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dapat memicu aksi militer AS yang lebih besar terhadap Iran.
Harga minyak dan kebijakan The Fed menahan ruang penguatan
Situasi di Selat Hormuz ikut menjaga kewaspadaan pasar tetap tinggi. Kondisi yang sebagian besar masih tertutup itu membuat harga minyak dunia tetap berada pada level tinggi, meski sempat terkoreksi tajam pada awal pekan.
Di saat yang sama, risalah rapat Federal Open Market Committee atau FOMC The Federal Reserve menambah dorongan bagi penguatan dolar AS. Mayoritas pejabat bank sentral AS disebut masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika inflasi bertahan di atas target 2%.
Nada hawkish tersebut membuat dolar AS tetap kuat. Dalam kondisi seperti itu, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung lebih tertekan karena investor memilih aset yang dianggap lebih aman.
Sikap investor di dalam negeri ikut berhati-hati
Tekanan pada rupiah tidak hanya datang dari luar negeri. Dari sisi domestik, meningkatnya sikap risk off investor juga ikut menahan ruang penguatan mata uang Garuda.
Sikap waspada itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto menerapkan kebijakan baru terhadap ekspor komoditas sumber daya alam strategis. Kebijakan tersebut mencakup minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy yang diwajibkan dikirim melalui satu eksportir milik negara.
Respons pasar terhadap kebijakan itu membuat investor lebih berhati-hati dalam memandang aset Indonesia. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat bergerak lebih lemah hingga 30 poin sebelum akhirnya memangkas sebagian tekanan di sesi sore.
Pasar masih mencari arah
Kondisi penutupan kemarin memperlihatkan rupiah belum lepas dari tekanan gabungan. Selama dolar AS tetap kuat, harga minyak bertahan tinggi, dan sentimen risk off belum mereda, volatilitas rupiah masih berpotensi berlanjut dalam perdagangan berikutnya.
Source: www.beritasatu.com