Tekanan pada rupiah belum menunjukkan tanda mereda setelah mata uang Garuda sempat menyentuh Rp 17.512 per dolar Amerika Serikat pada Selasa (12/5) pukul 10.18 WIB. Sementara itu, data Bloomberg masih menempatkan rupiah di level Rp 17.511 per dolar AS hingga pukul 12.30 WIB, menandakan pasar masih berada dalam suasana rapuh.
Pelemahan 0,56 persen itu muncul ketika beberapa sentimen negatif bergerak bersamaan. Arus keluar modal asing, kekhawatiran terhadap rebalancing indeks global, dan tensi geopolitik membuat rupiah menghadapi tekanan dari berbagai arah.
Aksi jual asing ikut menambah beban
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai pelepasan aset oleh investor asing menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah. Ia melihat aksi jual terjadi di pasar saham dan Surat Utang Negara menjelang pengumuman MSCI.
Kondisi itu membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di Indonesia. Saat arus dana asing melemah, rupiah menjadi lebih mudah tertekan karena tidak lagi mendapat dukungan yang kuat dari sisi modal masuk.
Tensi Hormuz dan dolar sebagai aset aman
Myrdal juga menyoroti ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Situasi tersebut mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman dan ikut menekan mata uang negara berkembang.
Di saat yang sama, permintaan valuta asing untuk impor minyak mentah dan remitansi dividen ke luar negeri menambah beban bagi rupiah. Kombinasi ini membuat tekanan eksternal terasa lebih kuat dibanding penyangga dari dalam negeri.
Level Rp 17.500 sudah ditembus
Menurut Myrdal, batas resistansi Rp 17.500 telah jebol. Ia menilai ruang pelemahan berikutnya dapat mengarah ke level psikologis Rp 17.700 bila tekanan dari luar belum mereda.
Meski begitu, rupiah masih punya peluang pulih jika tensi geopolitik turun, perang berakhir, harga minyak melemah, dan musim dividen selesai. Tanpa intervensi konkret dari Bank Indonesia, ia menilai rupiah tetap rentan bergerak lebih lemah.
Konflik Timur Tengah menjaga tekanan tetap tinggi
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi melihat pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut ke Rp 17.550 dalam pekan ini. Ia menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah setelah gagalnya proposal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Ibrahim menyebut konfrontasi fisik di jalur perdagangan strategis masih berlangsung meski sempat muncul klaim perdamaian. Ia juga mengaitkannya dengan serangan terhadap infrastruktur energi Iran oleh Uni Emirat Arab pada April lalu yang memicu lonjakan harga minyak Brent.
Kenaikan harga minyak mendorong biaya transportasi global ikut naik. Dari sana, indeks dolar AS kembali menguat dan menambah tekanan pada rupiah serta mata uang negara berkembang lainnya.
Faktor domestik belum cukup kuat menahan tekanan
Dari sisi dalam negeri, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 belum cukup kuat menopang rupiah. Ia menyebut struktur pertumbuhan masih bertumpu pada konsumsi masyarakat dan belanja negara.
Menurut dia, kontribusi investasi belum cukup besar untuk memberi dukungan yang solid pada nilai tukar. Karena itu, sentimen negatif dari luar negeri masih lebih dominan dalam mempengaruhi pergerakan rupiah.
Pasar juga masih menunggu evaluasi transparansi bursa saham Indonesia oleh MSCI. Ketidakpastian tersebut membuat investor tetap berhati-hati, sehingga volatilitas rupiah diperkirakan masih tinggi selama tekanan dari geopolitik, harga minyak, dan arus dana asing belum mereda.







