Dominasi China di Pasar Mobil Listrik Indonesia, Ekosistem Lokal Masih Tertinggal Jauh

Author: Redaksi Android62

Sekitar 60 persen kendaraan elektrifikasi yang beredar di Indonesia masih berasal dari China. Angka itu menunjukkan pasar mobil listrik di dalam negeri memang bergerak cepat, tetapi fondasi industrinya belum ikut tumbuh sekuat penjualannya.

Peneliti senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB, Agus Purwadi, menilai kondisi tersebut memperlihatkan ketergantungan yang masih besar pada produk dan rantai pasok luar negeri. Di satu sisi, pilihan mobil listrik semakin banyak, tetapi di sisi lain ekosistem lokal belum mampu mengejar laju pertumbuhan pasar.

Dominasi produk China masih kuat

Agus menyebut pola serupa juga terlihat di kawasan Asia Pasifik. Thailand bahkan ikut merasakan tekanan pada industrinya karena arus produk China di pasar kendaraan listrik begitu kuat.

Berbeda dengan itu, India dan Vietnam dinilai mengambil arah yang lebih strategis. Kedua negara tersebut tidak hanya mengejar penjualan, tetapi juga membangun dasar industri lewat penguatan merek lokal, peningkatan kandungan komponen dalam negeri, dan basis produksi yang lebih dalam.

Menurut Agus, langkah seperti itu membuat perkembangan kendaraan listrik tidak berhenti sebagai pasar konsumsi. Ekosistem yang tumbuh dengan fondasi industri yang kuat akan lebih tahan menghadapi persaingan global.

Pertumbuhan EV belum otomatis mengangkat pasar nasional

Meski penjualan mobil listrik naik, pertumbuhan itu belum cukup untuk mendorong pasar otomotif Indonesia secara keseluruhan. Agus melihat banyak model baru justru mengambil porsi dari pasar yang sudah ada, bukan menciptakan permintaan tambahan dalam skala besar.

Kondisi ini juga berkaitan dengan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Karena itu, lonjakan penjualan mobil listrik belum mampu mengangkat penjualan kendaraan roda empat nasional kembali ke level tinggi.

Agus menggambarkan kondisi pasar saat ini masih berada di kisaran 800.000 unit. Ia juga menilai penjualan mobil nasional masih sulit kembali menembus 1 juta unit per tahun.

TKDN dinilai perlu lebih relevan

Selain dominasi produk impor, Agus menyoroti penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN. Ia menilai pemain baru masih bisa relatif mudah memenuhi ambang 40 persen melalui skema perakitan dan komitmen riset dan pengembangan.

Dalam penjelasannya, komponen perakitan bisa menyumbang sekitar 30 persen, sedangkan riset dan pengembangan sekitar 10 persen, meski pada praktiknya bagian R&D itu sering masih sebatas rencana. Agus juga menekankan bahwa perakitan mobil listrik jauh lebih sederhana dibanding kendaraan bermesin pembakaran internal.

Dari situ, kebutuhan yang muncul bukan hanya mendorong masuknya produk baru. Kebijakan juga perlu memastikan ada transfer teknologi, penguatan manufaktur, dan dampak ekonomi yang lebih luas bagi industri pendukung dalam negeri.

Insentif perlu menyesuaikan fase pasar

Agus menilai insentif yang awalnya dirancang untuk mendorong adopsi awal perlu dievaluasi mengikuti perkembangan pasar. Saat penetrasi kendaraan listrik sudah melewati fase awal, aturan TKDN dan insentif dinilai harus menyesuaikan struktur pasar yang berubah.

Tanpa pembaruan kebijakan, risiko ketimpangan baru di industri bisa muncul. Indonesia dapat terus menjadi pasar besar bagi kendaraan listrik, tetapi tetap tertinggal dalam membangun basis produksi dan komponen lokal yang kuat.

Pada tahap ini, penguatan riset, pengembangan rantai pasok domestik, dan keberpihakan yang lebih tepat pada industri lokal menjadi penting agar transisi kendaraan listrik tidak berhenti pada angka penjualan semata. Ekosistem nasional masih perlu mengejar ketertinggalan agar pertumbuhan EV benar-benar memberi manfaat industri yang lebih luas.

Source: otomotif.kompas.com
Berita Terbaru