DPK Melaju Lebih Cepat, Kredit Jatim Masih Tertahan Di 1,97 Persen Pada Awal 2026

Dana Pihak Ketiga di Jawa Timur justru bergerak lebih kencang daripada penyaluran kredit pada awal 2026. Hingga Februari 2026, DPK tercatat Rp830,757 triliun atau tumbuh 4,19 persen secara tahunan, sementara kredit baru naik 1,97 persen menjadi Rp620,090 triliun.

Kondisi itu membuat arah intermediasi bank di daerah ini perlu dicermati lebih dekat. Selisih laju antara dana simpanan dan kredit juga ikut menekan rasio Loan to Deposit Ratio atau Financing to Deposit Ratio ke level 74,64 persen dari 76,52 persen pada Desember 2025.

Kredit masih tertahan

Otoritas Jasa Keuangan Jawa Timur melihat pertumbuhan kredit yang belum kuat ini sebagai bagian dari pola awal tahun. Secara tahun berjalan, kredit masih terkontraksi minus 0,89 persen, sehingga penyaluran pembiayaan belum sepenuhnya pulih.

Kepala OJK Jawa Timur Yunita Linda Sari menekankan pentingnya stabilitas sektor jasa keuangan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi daerah. Ia juga menilai tekanan inflasi yang meningkat pada awal 2026 ikut memberi pengaruh pada kondisi pembiayaan perbankan.

Meski secara tahunan kredit di Februari 2026 masih tumbuh, laju 1,97 persen itu tetap jauh di bawah capaian Desember 2024 yang mencapai 8,62 persen. Pertumbuhan tersebut juga tidak banyak berubah dari Desember 2025 yang berada di 1,90 persen.

Dana simpanan tetap kuat

Berbeda dengan kredit, dana masyarakat yang tersimpan di bank justru menunjukkan penguatan. OJK menilai peningkatan DPK itu mencerminkan masih terjaganya kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan di Jawa Timur.

Kenaikan DPK yang lebih cepat dari kredit menandakan likuiditas bank masih terjaga. Namun, kondisi itu juga menunjukkan dana yang masuk belum sepenuhnya tersalurkan ke pembiayaan secara agresif.

Pergerakan tersebut ikut membuat rasio LDR/FDR turun. Bagi perbankan, angka itu menjadi salah satu penanda bahwa penghimpunan dana berjalan lebih cepat daripada ekspansi kredit.

Risiko kredit tetap perlu dijaga

Di sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah masih berada di batas aman. Meski demikian, OJK mencatat NPL Gross naik menjadi 3,63 persen dari 3,37 persen pada Desember 2025, sedangkan NPL Net meningkat menjadi 1,57 persen dari 1,47 persen.

Kenaikan dua rasio itu memberi sinyal perlunya kewaspadaan di tengah pembiayaan yang belum tumbuh kuat. Dunia usaha dan rumah tangga masih menyesuaikan diri dengan tingkat suku bunga, sementara permintaan domestik yang lemah dan ketidakpastian ekonomi global membuat bank lebih selektif menyalurkan kredit.

Dari sisi permodalan, industri perbankan Jawa Timur masih memiliki bantalan yang tebal. Capital Adequacy Ratio tercatat 30,48 persen, turun tipis dari 31,38 persen pada Desember 2025, tetapi tetap dinilai sangat kuat untuk menopang ekspansi usaha dan menyerap potensi risiko.

OJK menyebut kondisi perbankan Jawa Timur pada Februari 2026 tetap solid dengan likuiditas memadai dan struktur modal yang kuat. Meski begitu, pertumbuhan pembiayaan yang masih terbatas membuat sikap hati-hati tetap diperlukan agar kualitas kredit tidak memburuk.

Source: duta.co

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer