Dragonfly Akan Menjelajah Titan, Drone Nuklir NASA Dibekali Misi Mencari Jejak Kehidupan

Dragonfly menjadi salah satu misi paling ambisius NASA karena wahana ini tidak sekadar mendarat, tetapi akan terbang berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain di Titan. Dengan desain octocopter dan tenaga nuklir, drone ini disiapkan untuk menelusuri permukaan bulan terbesar Saturnus yang menyimpan banyak petunjuk tentang lingkungan kimia yang sangat berbeda dari Bumi.

Misi ini menempatkan Titan sebagai target utama pencarian jejak kehidupan di dunia es yang asing. Bukan karena Titan mirip Bumi, melainkan justru karena banyak unsurnya sangat ekstrem, mulai dari atmosfer tebal, suhu sangat dingin, hingga keberadaan danau metana dan etana di permukaannya.

Mengapa Titan begitu menarik bagi ilmuwan

Titan memiliki diameter sekitar 5.150 kilometer dan bahkan lebih besar dari Merkurius. Bulan ini juga menjadi satu-satunya satelit yang diketahui memiliki atmosfer tebal, dengan tekanan sekitar 1,5 kali atmosfer Bumi.

Kondisi itu membuat Titan berbeda dari banyak benda langit lain di tata surya. Suhu di permukaannya sekitar minus 180 derajat Celsius, sehingga air membeku sekeras batu, sementara metana dan etana justru bisa mengalir dan membentuk danau besar, terutama di wilayah dekat kutub.

Data dari wahana Cassini memperlihatkan adanya siklus metana yang menyerupai siklus air di Bumi. Metana menguap dari danau, membentuk awan, lalu kembali turun sebagai hujan atau salju sebelum mengalir lagi ke danau melalui sungai.

Dragonfly dirancang untuk menjelajah, bukan hanya diam di satu tempat

Berbeda dari rover yang bergerak perlahan di permukaan, Dragonfly dibuat agar mampu melompat dari satu titik ke titik lain. Wahana ini memakai empat pasang baling-baling, sehingga gerak jelajahnya dinilai lebih efisien untuk meneliti wilayah Titan yang luas dan beragam.

Atmosfer Titan yang lebih tebal dari Bumi justru menguntungkan bagi penerbangan. Di sisi lain, gravitasi Titan hanya sekitar 14 persen dari gravitasi Bumi, sehingga wahana terbang dapat bekerja lebih mudah dibandingkan di banyak dunia lain.

Badan utama Dragonfly memiliki panjang sekitar empat meter dan lebar satu meter. Massanya mencapai 875 kilogram, sementara sistem rotornya memakai empat baling-baling berdiameter 1,35 meter, masing-masing dengan dua bilah yang berputar berlawanan di setiap sudut untuk membantu daya angkat dan mengurangi torsi.

Instrumen sains dibawa untuk membaca kimia Titan

Dragonfly membawa sejumlah peralatan untuk memeriksa Titan dari dekat. Instrumen itu meliputi pemetaan mineral, spektrometer massa untuk menganalisis kimia permukaan, alat bor untuk mengambil sampel, perangkat meteorologi atmosfer, dan kamera.

Seluruh sistem tersebut ditenagai MMRTG atau Multi-Mission Radioisotope Thermoelectric Generator. Teknologi ini mengubah panas dari peluruhan plutonium menjadi listrik, dan pernah digunakan dalam misi antariksa jauh seperti Curiosity dan Perseverance.

Pilihan tenaga nuklir menjadi penting karena Titan sangat jauh dari Matahari dan memiliki lingkungan yang keras. Dalam kondisi seperti itu, tenaga surya tidak menjadi pilihan utama, sehingga sumber energi radioisotop memberi kestabilan operasi yang lebih baik bagi wahana.

Perjalanan jauh dan pendaratan yang penuh risiko

NASA menargetkan peluncuran Dragonfly pada Juli 2028, lalu wahana ini akan menempuh perjalanan sekitar enam tahun menuju Titan. Setelah tiba, tantangan terbesar justru muncul saat memasuki atmosfer Titan dengan presisi tinggi.

Tahap itu akan berlangsung mirip fase berisiko tinggi yang kerap disebut “seven minutes of terror” pada misi Mars. Dragonfly akan menembus atmosfer dengan pelindung panas, kemudian parasut mengambil alih ketika kecepatannya turun, sebelum octocopter menyalakan penerbangan bertenaga untuk mendarat ketika masih berada lebih dari satu kilometer di atas permukaan.

Wahana ini juga akan memilih titik pendaratan secara mandiri dengan bantuan radar dan lidar. Sistem tersebut dibutuhkan karena kondisi permukaan Titan berubah dari satu area ke area lain, sehingga keputusan cepat menjadi sangat penting saat misi berlangsung.

Shangri-La dan Selk menjadi sasaran awal

Target awal Dragonfly adalah Shangri-La, wilayah gumuk pasir di dekat ekuator bagian selatan Titan. Pasir di kawasan ini diduga bukan tersusun dari silikat seperti di Bumi, melainkan butiran hidrokarbon beku.

Setelah itu, Dragonfly direncanakan melakukan sejumlah penerbangan menuju kawah tumbukan besar bernama Selk. Lokasi ini dianggap penting karena dapat memperlihatkan material dari bawah permukaan yang terangkat akibat tumbukan purba, sehingga ilmuwan bisa mempelajari struktur dalam Titan dan sejarah geologinya.

Walau tidak akan menjangkau danau metana terbesar di Titan, misi ini tetap dianggap sangat bernilai. Data yang dikumpulkan Dragonfly diharapkan membantu menjawab apakah kimia organik di dunia dingin seperti Titan pernah menghasilkan unsur awal kehidupan, atau justru menunjukkan bahwa kehidupan memerlukan kondisi yang jauh lebih spesifik dari yang selama ini diperkirakan.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer