DTCC Ubah Cara Kelola Agunan, Chainlink Masuk ke Infrastruktur Pasar Efek AS

Author: Redaksi Android62

DTCC makin serius mendorong pengelolaan agunan ke arah yang lebih otomatis dan selalu aktif dengan menggandeng infrastruktur Chainlink. Langkah ini diarahkan ke Collateral AppChain milik DTCC, platform digital collateral yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal keempat 2026.

Fokus utamanya ada pada upaya memangkas hambatan yang selama ini membuat agunan bergerak lambat di pasar keuangan. Aset kerap tertahan di antara institusi dan zona waktu yang berbeda, sehingga perpindahan collateral tidak selalu bisa berlangsung mulus.

Melalui kerja sama ini, DTCC ingin memanfaatkan tokenisasi dan distributed ledger technology untuk mendorong mobilitas agunan yang lebih cepat. Pendekatan tersebut ditujukan untuk menghadirkan perpindahan collateral yang nyaris real-time, baik di pasar keuangan tradisional maupun di jaringan blockchain.

Dalam platform baru itu, Chainlink Runtime Environment akan menjadi komponen utama untuk orkestrasi, akses data, dan otomatisasi. DTCC juga akan menggunakan data standard Chainlink untuk membantu mempercepat modernisasi proses back-office yang selama ini dikenal lambat dan terfragmentasi.

Collateral AppChain dirancang menjalankan alur kerja otomatis yang mencakup pengecekan kelayakan, valuasi aset, margining, optimasi collateral, dan settlement. Sistem ini juga dibuat agar tidak perlu lagi membangun koneksi satu per satu ke setiap sumber data.

Nadine Chakar, managing director dan global head of digital assets DTCC, menegaskan bahwa perusahaan ingin memanfaatkan tokenisasi dan distributed ledger technology untuk memodernisasi mobilitas collateral. Ia juga menyebut integrasi Chainlink CRE dan data standard akan membantu membangun lingkungan on-chain terpadu untuk menghadirkan harga aset, valuasi, dan data perjanjian collateral lainnya secara on-chain.

DTCC menargetkan kerangka kerja yang dapat digunakan ulang agar platform itu lebih mudah dikembangkan ke jenis data baru, kelas aset baru, dan use case collateral yang lebih luas. Arah ini membuat modernisasi tidak berhenti pada satu alur kerja saja, melainkan bisa meluas seiring kebutuhan pasar.

Kolaborasi dengan Chainlink juga memperpanjang kerja sama yang sudah terjalin sebelumnya. Pada 2024, keduanya menjalankan Smart NAV, pilot yang menguji pembawaan data net asset value reksa dana ke blockchain dengan partisipasi JPMorgan, Franklin Templeton, dan BNY Mellon.

Skala DTCC membuat langkah ini punya bobot besar bagi pasar. Pada 2025, DTCC memproses transaksi efek senilai $4.7 quadrillion dan memegang kustodi efek dari lebih dari 150 negara dengan nilai $114 trillion.

Dengan ukuran operasi seperti itu, keberhasilan Collateral AppChain akan menjadi sinyal penting bagi arah modernisasi infrastruktur pasar. Jika berjalan sesuai target, integrasi Chainlink berpotensi membawa pengelolaan collateral institusional ke sistem yang lebih cepat, lebih otomatis, dan lebih terhubung lintas pasar.

Berita Terbaru