Dua potong pizza keju dapat membuat asupan lemak jenuh seseorang hampir menyentuh batas harian yang dianjurkan. Satu potong pizza keju diperkirakan mengandung sekitar 5 gram lemak jenuh, sehingga jumlahnya menjadi sekitar 10 gram dalam dua potong.
American Heart Association menganjurkan pembatasan lemak jenuh sekitar 6% dari total kalori harian. Pada pola makan 2.000 kalori, batas tersebut setara kira-kira 12 gram lemak jenuh per hari.
Selisih yang tersisa dapat cepat terisi ketika pizza memakai pepperoni, sosis, bacon, atau keju ekstra. Karena itu, jumlah potongan yang disantap perlu menjadi perhatian, selain pilihan kerak dan topping.
Topping dan Keju Menentukan Beban Lemak
Mozzarella per ons diperkirakan mengandung 3,2 gram lemak jenuh serta 18 mg kolesterol. Pepperoni mengandung sekitar 5 gram lemak jenuh dan 27 mg kolesterol, sedangkan daging giling mengandung 1,7 gram lemak jenuh serta 25 mg kolesterol.
Gabungan keju dan daging olahan dapat menaikkan kandungan lemak jenuh dalam satu porsi secara berarti. Ahli gizi Morgan Walker, M.S., RD, LDN, menyoroti pepperoni dan sosis sebagai topping yang perlu diperhatikan karena sering dikonsumsi bersama keju.
Berbeda dengan daging dan keju, paprika, jamur, bawang bombay, serta tomat tidak mengandung kolesterol. Alternatif daging nabati juga disebut tidak mengandung kolesterol.
| Jenis Pizza per 100 Gram | Kolesterol | Lemak Total |
|---|---|---|
| Keju, kerak tipis | 29,7 mg | 12,8 gram |
| Keju, kerak biasa | 17,7 mg | 10,4 gram |
| Keju, kerak tebal | 18,6 mg | 11,3 gram |
| Pepperoni, kerak biasa | 25,8 mg | 12,6 gram |
| Pepperoni, kerak tebal | 23,5 mg | 13,1 gram |
Data U.S. Department of Agriculture yang dikutip Medical News Today menunjukkan kandungan kolesterol dan lemak total berbeda menurut jenis pizza. Pizza pepperoni berkerak tebal dalam tabel tersebut memiliki lemak total tertinggi, yakni 13,1 gram per 100 gram.
Kaitan dengan Kolesterol LDL
Pola makan tinggi lemak jenuh dapat menghambat kemampuan tubuh membersihkan kolesterol LDL dari aliran darah. Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan produksi kolesterol oleh tubuh, sehingga kadar LDL dapat naik.
Kolesterol LDL kerap disebut sebagai kolesterol “jahat”. Walker menjelaskan bahwa konsumsi pizza dalam porsi besar secara rutin, terutama yang kaya daging olahan dan keju, dapat memengaruhi kolesterol serta risiko kardiovaskular secara keseluruhan.
Risiko tersebut tidak hanya dipengaruhi satu kali makan pizza. Akumulasi kalori dan lemak jenuh menjadi lebih penting ketika porsi besar dijadikan kebiasaan berulang.
Serat Juga Perlu Diperhitungkan
Adonan pizza umumnya menggunakan tepung terigu putih yang diperkaya nutrisi, tetapi kandungan seratnya tidak tinggi. Konsumsi biji-bijian olahan yang terlalu sering dapat membuat asupan biji-bijian utuh tidak mencapai jumlah yang dianjurkan.
Serat berperan menjaga kesehatan pencernaan dan membantu mengurangi kadar kolesterol tinggi. Pola makan kaya serat juga dikaitkan dengan penurunan risiko kanker usus besar.
Pizza tidak harus dihilangkan sepenuhnya dari pola makan. Ahli gizi Chris Mohr, Ph.D., RD, menilai satu atau dua potong pizza yang disertai salad seminggu sekali berbeda dengan konsumsi pizza keju berkerak isi bersama soda setiap malam.
Pilihan sehari-hari seperti buah, sayuran, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, ikan berlemak, dan lemak tak jenuh dapat membantu menjaga keseimbangan makan. Dalam pola tersebut, pizza masih dapat dinikmati dalam porsi wajar dengan tetap memperhatikan lemak jenuh dan kolesterol LDL.
