Dukungan ke Trump Menyusut di Tengah Lonjakan Bensin, Survei CBS Soroti Tekanan Ekonomi Warga AS

Author: Redaksi Android62

Sebanyak 38 persen warga Amerika Serikat menyatakan frustrasi terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Donald Trump, sementara 32 persen mengaku marah. Survei CBS News/YouGov itu memperlihatkan bahwa tekanan biaya hidup kini sudah berubah menjadi sumber kemarahan politik yang nyata.

Penilaian publik terhadap cara Trump menangani inflasi juga melemah tajam. Dalam survei yang dirilis 17 Mei, hanya 27 persen responden yang menyetujui kinerjanya, turun dari 31 persen pada April, dan menjadi angka terendah sejak Trump kembali menjabat untuk periode kedua.

Tekanan itu terasa bukan hanya di kalangan pemilih lawan politik. Di basis Partai Republik sendiri, tingkat persetujuan terhadap Trump turun dari 74 persen pada Maret menjadi 63 persen, menandakan kekhawatiran ekonomi mulai merembes ke kelompok pendukungnya.

Beban kebutuhan hidup makin berat

Lebih dari tiga perempat responden mengatakan pendapatan mereka tidak lagi mampu mengejar kenaikan harga kebutuhan hidup. Kondisi ini membuat banyak rumah tangga merasa daya beli mereka semakin tergerus dari waktu ke waktu.

Harga bensin menjadi salah satu pemicu utama keluhan tersebut. Sebanyak 59 persen responden menyebut bensin menekan keuangan mereka, dan 26 persen mengatakan dampaknya sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Inflasi pada April tercatat mencapai level tertinggi sejak 2023. Lonjakan itu terutama dipicu kenaikan harga bensin sebesar 5,4 persen setelah sebelumnya sempat melonjak 21,2 persen pada Maret.

Secara tahunan, harga bensin sudah naik 28,4 persen dan mendekati 4 dolar AS per galon. Kenaikan ini ikut mendorong biaya transportasi dan menambah tekanan pada kebutuhan pokok rumah tangga.

Konflik Iran ikut menambah ketidakpastian

Kenaikan harga energi dikaitkan dengan perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari. Konflik itu mengganggu jalur distribusi energi dan memperburuk persepsi publik terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Situasi semakin rumit setelah Iran menutup efektif Selat Hormuz. Jalur laut strategis tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga gangguan pengiriman segera berdampak pada biaya energi.

Di tengah kondisi itu, hampir 70 persen responden mengaku tidak mendapat penjelasan yang jelas mengenai situasi di Selat Hormuz. Ketidakjelasan tersebut ikut menambah kecemasan publik terhadap masa depan harga energi.

Kekhawatiran tidak lagi dianggap sesaat

Sebanyak 65 persen responden menilai kebijakan Trump justru memperburuk ekonomi dalam jangka pendek. Sementara itu, 50 persen percaya dampak buruknya akan terasa dalam jangka panjang.

Temuan tersebut menunjukkan banyak warga tidak memandang tekanan harga sebagai masalah sementara. Bagi mereka, kondisi ini sudah menjadi risiko ekonomi yang lebih luas dan berpotensi bertahan.

Trump sebelumnya sempat menyatakan bahwa dirinya tidak terlalu memikirkan kondisi finansial warga Amerika saat membahas kemungkinan negosiasi untuk mengakhiri perang. Pernyataan itu ikut menambah sorotan terhadap cara pemerintah merespons dampak ekonomi dari konflik.

Di sisi lain, serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari disebut menyasar sejumlah fasilitas, termasuk lokasi nuklir, sekolah, dan rumah sakit. Laporan tersebut juga menyebut tewasnya Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, sebelum Iran membalas lewat 100 gelombang serangan dalam operasi True Promise 4.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku sejak awal April, tetapi blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung. Teheran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai blokade dicabut dan perang benar-benar berakhir, sementara warga AS terus menghadapi tekanan harga dan ketidakpastian ekonomi.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru