Pemerintah menyiapkan program bensin campuran etanol E20 sebagai salah satu langkah untuk menekan impor BBM yang masih tinggi. Untuk mendukung kebijakan itu, kebutuhan etanol diperkirakan mencapai 4 juta kiloliter dari pasokan dalam negeri.
Skala kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa program E20 bukan kebijakan kecil. Pemerintah harus menyiapkan rantai pasok bioetanol yang besar agar pencampuran 20 persen etanol dalam bensin bisa berjalan secara konsisten.
Impor bensin masih menjadi tekanan utama
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan konsumsi bensin nasional saat ini berada di kisaran 40 juta kiloliter per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi bensin domestik baru sekitar 14,3 juta kiloliter.
Dengan selisih yang besar itu, impor bensin masih mendekati 25 juta kiloliter. Menurut Bahlil, angka tersebut akan turun setelah Kilang Balikpapan diresmikan pada Januari 2026.
Tambahan produksi dari kilang itu disebut mencapai 5,5 juta kiloliter bensin. Namun, impor bensin tetap belum hilang sepenuhnya dan masih diperkirakan tersisa sekitar 20 juta kiloliter per tahun.
| Komponen | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| Konsumsi bensin nasional | 40 juta kiloliter per tahun | Menjadi dasar perhitungan kebutuhan energi |
| Produksi bensin domestik saat ini | 14,3 juta kiloliter | Masih jauh di bawah kebutuhan nasional |
| Impor bensin saat ini | Mendekati 25 juta kiloliter | Terjadi karena selisih pasokan dan konsumsi |
| Tambahan dari Kilang Balikpapan | 5,5 juta kiloliter | Mulai dihitung setelah peresmian Januari 2026 |
| Impor bensin setelah tambahan produksi | Sekitar 20 juta kiloliter | Masih tersisa meski pasokan domestik bertambah |
| Kebutuhan etanol untuk E20 | 4 juta kiloliter | Disiapkan untuk mendukung bauran 20 persen |
4 juta kiloliter etanol jadi kunci program
Kebutuhan etanol sekitar 4 juta kiloliter itu disiapkan untuk menopang konsumsi bensin nasional dalam skema E20. Pemerintah memandang langkah ini sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi nasional.
Bahlil menilai pendekatan tersebut bisa mengikuti pola pengembangan biodiesel yang sebelumnya dilakukan bertahap. Ia merujuk pada program biodiesel berbasis kelapa sawit yang tumbuh dari B10 hingga B50.
Dengan pendekatan serupa, pemerintah ingin mendorong substitusi bahan bakar fosil impor melalui pencampuran bensin dengan etanol produksi dalam negeri. Strategi ini ditempatkan sebagai pelengkap peningkatan kapasitas kilang yang sedang berjalan.
Hulu pertanian disiapkan masuk rantai energi
Bahan baku etanol yang disiapkan berasal dari tebu, singkong, dan jagung. Tiga komoditas itu diposisikan sebagai fondasi utama untuk membangun industri bioetanol domestik.
Pemerintah juga menyatakan akan menjadi off taker bagi etanol yang dihasilkan petani dan pelaku usaha di sektor hulu. Peran itu ditujukan untuk menjamin penyerapan produksi dan memberi kepastian pasar.
Skema tersebut membuat program E20 tidak hanya menyentuh sektor energi, tetapi juga pertanian. Tebu, singkong, dan jagung diposisikan sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi impor sekaligus menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Lebih dari sekadar campuran BBM
Pengembangan E20 muncul di tengah kebutuhan energi nasional yang terus besar dan kapasitas domestik yang belum cukup menutup permintaan. Karena itu, pemerintah menempatkan pengurangan impor lewat dua jalur, yakni memperkuat kilang dan membangun substitusi melalui bioetanol.
Pemerintah juga mengaitkan kebijakan ini dengan target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Dalam konteks itu, bioetanol dipandang sebagai salah satu instrumen transisi energi yang lebih konkret.
Jika pasokan bahan baku dan penyerapan produksi berjalan stabil, E20 berpotensi menjadi model integrasi antara kebijakan energi, industri, dan pertanian. Untuk saat ini, fokus utama pemerintah adalah memastikan 4 juta kiloliter etanol dapat tersedia secara konsisten dari dalam negeri.
Source: kabaroto.com






