Pita terang dan gelap pada ekor seekor buaya purba dari Spanyol memberi petunjuk visual yang sangat jarang muncul dalam catatan fosil. Corak tersebut ditemukan pada Montsecosuchus, reptil kecil yang hidup sekitar 125 juta tahun lalu.
Jejak belang itu menyerupai pola pada anakan alligator modern, meski belum dapat memastikan warna persis tubuh hewan tersebut. Temuan ini mengisyaratkan bahwa garis pada ekor mungkin sudah hadir sejak tahap awal evolusi kelompok buaya.
Ukuran Montsecosuchus juga jauh dari bayangan umum tentang buaya purba berukuran raksasa. Panjang tubuhnya kurang dari satu meter dan bobotnya diperkirakan tidak melebihi 4 kilogram, atau sebanding dengan kucing rumahan.
Fosil ini tidak hanya menyisakan rangka, melainkan juga bagian kulit bersisik dan struktur tulang rawan. Pelestarian jaringan seperti itu membuat spesimen tersebut penting untuk menelaah bentuk tubuh hewan purba secara lebih lengkap.
Jejak Kulit yang Langka
Peneliti meneliti fosil itu dengan sinar ultraviolet untuk mencari sisa jaringan lunak yang tidak tampak dalam pengamatan biasa. Metode tersebut dipilih karena fosil dari lokasi yang sama sebelumnya diketahui mampu mengawetkan jaringan lunak, termasuk pada serangga.
Pemeriksaan UV memperlihatkan sisik yang menutupi tubuh serta struktur tulang rawan di sekitar tulang rusuk dan lengan. Temuan tulang rawan pada fosil tergolong langka karena bagian tersebut lebih mudah rusak daripada tulang.
| Bagian tubuh | Temuan | Makna |
|---|---|---|
| Kulit tubuh | Sisik terawetkan | Menunjukkan penutup tubuh |
| Dada dan lengan | Struktur tulang rawan | Pelestarian jaringan langka |
| Ekor | Pita terang dan gelap | Petunjuk pola belang |
| Leher dan lengan | Dugaan organ sensorik | Petunjuk reseptor kulit |
Sisik pada lengan dan kaki tampak memiliki ukuran yang berbeda, sehingga penutup tubuh hewan ini tidak seragam. Perbedaan tersebut membantu memperlihatkan bagaimana kulit Montsecosuchus tersusun di berbagai bagian tubuhnya.
Tim juga menemukan struktur yang diduga merupakan organ sensorik pada sisik. Pada buaya modern, organ sejenis berperan sebagai reseptor sentuhan dan suhu di sejumlah area tubuh.
Sensor Terkonsentrasi di Bagian Tertentu
Pada spesimen ini, dugaan organ sensorik tidak tersebar luas, tetapi terkonsentrasi di leher dan lengan. Pola itu membuka kemungkinan bahwa reseptor kulit tersebut mula-mula berkembang secara lokal sebelum meluas ke bagian tubuh lain.
Rincian anatomi tersebut memberi bahan baru untuk memahami perubahan tubuh kelompok buaya dari masa ke masa. Namun, susunan tubuhnya juga menyisakan pertanyaan mengenai cara hewan kecil ini bergerak di habitatnya.
Montsecosuchus hidup di lingkungan yang disebut hampir seluruhnya akuatik, tetapi tidak memiliki struktur sirip sejajar di sepanjang ekor. Pada buaya modern, struktur tersebut lazim membantu pergerakan saat berenang.
Ketiadaan ciri itu menjadi kontras dengan jari-jari tangan dan kaki yang memanjang, yang berkaitan dengan hewan akuatik. Gabungan ciri tersebut belum menghasilkan jawaban pasti mengenai kebiasaan bergerak spesies ini.
Óscar Castillo-Visa, salah satu penulis studi, mengatakan kepada IFLScience bahwa bentuk hewan itu lebih menyerupai kucing rumahan daripada buaya besar yang mengintimidasi. Ia menduga hewan tersebut mungkin lebih banyak berlari daripada berenang, meski dugaan itu belum menjelaskan seluruh keanehan anatominya.
Fosil Lama yang Kembali Diperiksa
Spesimen Montsecosuchus ditemukan di Formasi La Pedrera de Meià, wilayah timur laut Spanyol, dan pertama kali dideskripsikan pada 1915. Pemeriksaan baru terhadap fosil lama itu kemudian menyingkap detail tubuh yang sebelumnya tersembunyi.
Penelitian tentang hewan ini telah dipublikasikan dalam Zoological Journal of the Linnean Society. Fosil tersebut kini menyediakan petunjuk tentang sisik, pola ekor, jaringan tulang rawan, serta kemungkinan cara hidup buaya purba berukuran kecil.







