Ekspor BYD Menguat Tajam, Penjualan Di China Masih Tertekan Delapan Bulan Beruntun

Ekspansi luar negeri kini menjadi penopang paling penting bagi BYD saat pasar domestik masih belum pulih. Pada April, pengiriman ke luar negeri melesat 70,9 persen dan menembus lebih dari 134.000 unit, sementara penjualan di China justru kembali melemah untuk bulan kedelapan berturut-turut.

Kondisi itu membuat sumber pertumbuhan BYD terlihat bergeser. Jika sebelumnya pasar dalam negeri menjadi mesin utama, kini kontribusi ekspor makin besar untuk menjaga laju bisnis grup otomotif asal China tersebut.

Di sisi lain, total distribusi BYD pada April tetap menunjukkan pergerakan yang tidak sepenuhnya negatif. Perusahaan mencatat 314.100 unit kendaraan, turun 15,7 persen dibanding periode yang sama, tetapi masih naik 6,2 persen dari Maret.

Jika kendaraan komersial dan bus ikut dihitung, total penjualan BYD pada April mencapai 321.123 unit. Namun, tekanan terbesar tetap datang dari pasar penumpang domestik yang belum menunjukkan pemulihan yang meyakinkan.

Tekanan di pasar China belum selesai

Penurunan penjualan di China disebut dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya masa libur panjang terkait perayaan Imlek dan pemotongan insentif kendaraan listrik di China.

Karena tren turun sudah berlangsung sejak September, masalah yang dihadapi BYD tampak lebih luas dari sekadar gangguan musiman. Kondisi itu membuat pelemahan pasar domestik menjadi tantangan utama yang belum teratasi.

Selama empat bulan pertama, penjualan kendaraan penumpang BYD tercatat 1.003.039 unit. Angka tersebut turun 26,4 persen dibanding periode yang sama sebelumnya, sehingga memperlihatkan bahwa tekanan di pasar utama perusahaan masih berat.

Ekspor memberi ruang bernapas

Berbeda dengan pasar domestik, penjualan luar negeri justru bergerak jauh lebih cepat. Dalam empat bulan pertama, BYD membukukan 455.707 unit penjualan luar negeri, naik 59,8 persen.

Lonjakan itu memperlihatkan bahwa ekspansi internasional semakin menjadi bantalan penting bagi perusahaan. Tanpa kontribusi pasar luar negeri yang menguat, pelemahan delapan bulan berturut-turut di China akan terasa jauh lebih dalam pada total kinerja grup.

Arah tersebut juga sejalan dengan target BYD yang ingin menjual 1,5 juta kendaraan di luar negeri pada 2026. Di tengah pasar domestik yang masih lesu, target itu kini terlihat semakin strategis untuk menopang skala bisnis perusahaan.

Kinerja tiap merek bergerak tidak serempak

Di dalam grup BYD, performa antar-merek tidak menunjukkan hasil yang sama. Fang Cheng Bao justru menjadi salah satu titik terang karena mencatat pertumbuhan kuat pada April.

Merek yang fokus pada kendaraan off-road itu membukukan penjualan 29.138 unit, atau naik 190,2 persen. Kenaikan tersebut kontras dengan kondisi merek utama BYD di pasar lokal yang masih tertekan.

Sementara itu, Denza yang menyasar segmen premium justru turun 26,9 persen. Penjualannya pada April berada di kisaran 11.250 unit, menandakan segmen atas pun belum kebal dari perlambatan.

Berbeda lagi dengan Yangwang, yang bergerak naik 95,6 persen menjadi 264 unit. Meski volumenya masih kecil dibanding merek lain dalam grup, pertumbuhan itu menunjukkan bahwa tekanan BYD tidak seragam di semua lini.

Kombinasi antara ekspor yang melonjak dan pasar China yang melemah membuat BYD tetap menarik untuk dipantau. Di saat satu sisi bisnis memberi dorongan kuat, sisi lain masih menunjukkan bahwa pemulihan domestik belum benar-benar terbentuk.

Source: otodriver.com

Berita Terkait