Elektrifikasi Tak Boleh Cuma Pindahkan Pembeli Lama, Pasar Mobil Diminta Membesar

Author: Redaksi Android62

Pasar otomotif Indonesia dinilai tidak cukup hanya bergeser dari mobil konvensional ke kendaraan elektrifikasi. Industri diminta memanfaatkan era ini untuk menciptakan konsumen baru agar pasar nasional benar-benar tumbuh lebih besar.

Chief Operating Officer BAIC Indonesia, Dhani Yahya, menilai fokus pelaku industri seharusnya tidak berhenti pada perebutan pembeli yang sudah ada. Menurut dia, kehadiran teknologi baru dan pemain baru semestinya memperluas pasar, bukan sekadar memindahkan transaksi dari satu jenis kendaraan ke jenis lain.

“Pasar atau segmen otomotif di Indonesia masih punya ruang untuk berkembang,” kata Dhani. Ia menilai konsumen akan ikut diuntungkan jika pasar membesar karena persaingan dapat mendorong harga lebih kompetitif, teknologi membaik, dan layanan meningkat.

Ruang kepemilikan mobil masih lebar

Dhani mengacu pada rasio kepemilikan mobil di Indonesia yang masih rendah. Dari 1.000 penduduk, baru sekitar 99 orang atau kepala keluarga yang memiliki kendaraan roda empat.

Menurut dia, kondisi itu menunjukkan basis konsumen mobil di Indonesia masih bisa diperluas. Ia menilai industri seharusnya tidak terpaku pada angka penjualan sekitar 1 juta unit, karena pasar masih memungkinkan untuk naik lebih tinggi.

Dhani bahkan menargetkan pasar otomotif Indonesia bisa berkembang menjadi 2 juta unit. Dari level saat ini yang berada di kisaran 1,1 juta sampai 1,2 juta unit, ia melihat peluang menuju 1,5 juta unit masih terbuka.

Ia juga menilai Indonesia masih tertinggal dibanding beberapa negara Asia lain dalam rasio kepemilikan mobil per 1.000 penduduk. Thailand dan Malaysia disebut memiliki angka yang lebih tinggi, sementara Singapura tidak bisa dijadikan pembanding langsung karena keterbatasan wilayah.

Elektrifikasi tumbuh di beberapa segmen

Gambaran perluasan pasar itu muncul seiring menguatnya penjualan kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menunjukkan total penjualan mobil elektrifikasi sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai 93.839 unit.

Jumlah tersebut berasal dari gabungan battery electric vehicle atau BEV, hybrid electric vehicle atau HEV, dan plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV. Komposisi ini menunjukkan elektrifikasi di Indonesia kini tidak lagi bertumpu pada satu teknologi saja.

Kontributor terbesar masih datang dari mobil listrik murni. Pada lima bulan pertama 2026, penjualan BEV tercatat 57.087 unit dan tumbuh sekitar 80 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Segmen hybrid juga terus menguat. Penjualannya mencapai 34.151 unit atau naik 49,7 persen secara tahunan dari 22.819 unit.

Sementara itu, PHEV menjadi segmen dengan laju pertumbuhan paling agresif. Penjualannya melonjak lebih dari empat kali lipat, dari 504 unit menjadi 2.097 unit.

Kebijakan dinilai harus ikut membuka pasar baru

Di tengah tren tersebut, Dhani menilai pemerintah perlu memastikan pertumbuhan industri tidak berhenti pada bertambahnya merek, distributor, atau manufaktur. Menurut dia, banyaknya pemain baru belum cukup bila hanya saling mengambil pasar yang sudah ada.

Ia menekankan perlunya kebijakan yang benar-benar mendorong pasar baru. Salah satu contoh yang ia sebut adalah dukungan terhadap kendaraan hybrid, selain bentuk dukungan lain yang bisa memperbesar pasar otomotif nasional.

Pendekatan seperti itu dinilai penting agar elektrifikasi memberi dampak lebih luas pada industri. Bukan hanya memperkaya pilihan produk, tetapi juga membuka akses bagi lebih banyak konsumen untuk masuk ke pasar mobil.

Dengan demikian, era elektrifikasi dipandang sebagai momentum ekspansi, bukan sekadar transisi teknologi. Saat pilihan BEV, HEV, dan PHEV terus bertambah, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan itu ikut menaikkan jumlah pemilik mobil di Indonesia.

Source: otomotif.kompas.com
Berita Terbaru