Harga emas dunia kembali berada di bawah tekanan berat setelah bergerak menuju penurunan mingguan untuk ketiga kalinya secara beruntun. Pelemahan ini terjadi saat dolar Amerika Serikat menguat dan pasar masih membaca bahwa suku bunga tinggi Federal Reserve berpeluang bertahan lebih lama.
Di perdagangan Jumat waktu setempat, emas spot turun 0,9% menjadi US$ 4.169,44 per ons troy. Sebelumnya, harga sempat menyentuh level terendah sejak 11 Juni 2026 di US$ 4.119,78 per ons troy.
Tekanan teknis dan sentimen pasar
Posisi emas juga makin rapuh karena sejak 5 Juni sudah bergerak di bawah rata-rata pergerakan 200 hari. Pada saat yang sama, kontrak emas berjangka AS turun 1,4% menjadi US$ 4.186,50 per ons troy.
Penguatan dolar membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang lain. Kondisi ini menekan permintaan dan memperberat pelemahan logam mulia tersebut di pasar global.
Analis senior Tradu.com, Nikos Tzabouras, menilai emas masih berisiko turun lebih dalam. Ia menyebut emas bisa saja menembus level US$ 4.000 per ons troy karena masih berada dalam lingkungan pasar yang menantang.
Ekspektasi The Fed masih membayangi
Selain faktor dolar, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lebih lama juga menekan minat terhadap emas. Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada di level tinggi.
Proyeksi terbaru The Fed yang dirilis pekan ini menunjukkan sembilan dari 19 pembuat kebijakan masih memperkirakan suku bunga acuan perlu dinaikkan pada tahun ini. Meski begitu, bank sentral AS tetap mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75%.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar memperkirakan peluang sekitar 70% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September 2026. Ekspektasi tersebut ikut menjaga tekanan pada emas karena pasar menilai kebijakan moneter AS masih cenderung ketat.
Tzabouras menambahkan, arah emas selanjutnya akan sangat dipengaruhi data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan. Selain itu, negosiasi antara AS dan Iran serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed juga menjadi perhatian utama investor.
Logam mulia lain ikut tertekan
Pelemahan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak turun 1,1% menjadi US$ 65,11 per ons troy, platinum melemah 1,7% ke level US$ 1.667,14 per ons troy, dan paladium turun 1,9% menjadi US$ 1.254,69 per ons troy.
Ketiga logam tersebut juga bergerak menuju penurunan mingguan. Ini menunjukkan tekanan di pasar logam mulia masih cukup luas, seiring sentimen yang belum berpihak pada aset safe haven.
Geopolitik dan proyeksi harga ikut memengaruhi arah pasar
Ketidakpastian geopolitik tetap menjadi perhatian setelah pemerintah Swiss menyatakan perundingan antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah tidak akan digelar pada Jumat. Keputusan itu muncul setelah pembatalan kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Swiss.
Di sisi lain, seorang pejabat senior AS mengatakan Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku pada Jumat siang waktu setempat. Perkembangan ini ikut memengaruhi sentimen pasar yang masih mencari arah baru.
Goldman Sachs juga memangkas proyeksi harga emas pada akhir 2026 menjadi US$ 4.900 per ons troy dari sebelumnya US$ 5.400 per ons troy. Meski targetnya diturunkan, bank investasi itu tetap mempertahankan pandangan positif terhadap prospek emas dalam jangka menengah, walaupun risiko penurunan jangka pendek masih terbuka.
Source: www.beritasatu.com






