Emas Tembus US$4.121,78, Rupiah Kian Tertekan Mendekati Rp18.000 per Dolar AS

Lonjakan harga emas dunia menjadi sorotan ketika rupiah kembali tertekan hingga mendekati batas psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan pagi Rabu, 22 Juli 2026, harga emas naik 1,08 persen atau 43,97 poin menjadi US$4.121,78 per troy ounce.

Di saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah 0,30 persen atau sekitar 54,2 poin ke posisi Rp17.909,9 per dolar AS. Pergerakan yang berlawanan ini mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap aset yang dipandang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kenaikan emas tidak berlangsung bersamaan dengan penguatan besar dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS atau DXY justru turun tipis 0,02 persen ke level 101,015.

Kontras tersebut menunjukkan bahwa tekanan pada rupiah tidak hanya berkaitan dengan arah dolar AS terhadap mata uang utama dunia. Sentimen domestik dan regional ikut menjadi perhatian pasar, termasuk potensi keluarnya arus modal dari pasar keuangan.

Pergerakan Rupiah terhadap Mata Uang Utama

Tekanan rupiah tidak hanya terlihat terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang di kawasan. Dari beberapa mata uang yang dipantau, rupiah hanya mencatat penguatan tipis terhadap won Korea Selatan.

Mata UangPergerakan RupiahLevel
Dolar ASMelemah 0,30%Rp17.909,9
EuroStagnanRp20.446
Won Korea SelatanMenguat 0,06%Rp12,09
Yen JepangMelemah 0,02%Rp109,76
Dolar SingapuraMelemah 0,03%Rp13.860,43
Yuan TiongkokMelemah 0,08%Rp2.645,52
Ringgit MalaysiaMelemah 0,23%Rp4.371,17

Terhadap euro, rupiah bergerak stagnan pada level Rp20.446 per euro. Sementara terhadap won Korea Selatan, rupiah menguat 0,06 persen ke Rp12,09 per won.

Penguatan terhadap won belum mengubah gambaran tekanan yang lebih luas terhadap mata uang lain. Rupiah melemah 0,02 persen terhadap yen Jepang hingga berada di Rp109,76 per yen.

Nilai tukar rupiah juga turun 0,03 persen terhadap dolar Singapura menjadi Rp13.860,43 per dolar Singapura. Terhadap yuan Tiongkok, rupiah melemah 0,08 persen ke Rp2.645,52 per yuan.

Ringgit Menjadi Tekanan Regional Terbesar

Pelemahan yang paling dalam di antara mata uang regional tercatat terhadap ringgit Malaysia. Rupiah turun 0,23 persen dan berada di level Rp4.371,17 per ringgit.

Pergerakan terhadap ringgit memberi gambaran bahwa tekanan pasar tidak hanya datang dari hubungan rupiah dengan dolar AS. Posisi rupiah terhadap sebagian besar mata uang kawasan juga menjadi indikator yang diperhatikan pelaku pasar.

Data pasar yang dikutip Medcom.id menempatkan minat terhadap aset aman sebagai salah satu latar utama pergerakan tersebut. Emas yang menguat tajam mencerminkan sikap hati-hati investor dalam menghadapi risiko global.

Dalam situasi seperti ini, pelemahan DXY belum cukup meredakan tekanan terhadap rupiah. Pasar tetap menilai faktor domestik dan regional, terutama kemungkinan pergeseran arus modal.

Pasar Menanti Kebijakan Suku Bunga dan Data Ekonomi

Arah pergerakan berikutnya akan dipengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral global. Rilis data ekonomi dalam beberapa hari ke depan juga menjadi faktor yang dinantikan pelaku pasar.

Perhatian investor terhadap emas dan perkembangan nilai tukar rupiah akan tetap berlanjut selama ketidakpastian global belum mereda. Posisi rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS menjadikan dinamika pasar keuangan semakin penting untuk dipantau.

Source: www.medcom.id
Berita Terkait