Unai Emery kembali masuk ke panggung yang paling akrab baginya saat Freiburg dan Aston Villa bertemu di final Europa League di Beşiktaş Park, Istanbul. Di laga ini, Villa membawa ambisi mengakhiri puasa trofi selama 30 tahun, sementara Freiburg mengejar gelar besar pertama dalam sejarah klub.
Nama Emery menjadi sorotan karena rekam jejaknya di kompetisi ini memang tidak biasa. Pelatih asal Spanyol itu sudah tampil di final Europa League untuk keenam kalinya dan memegang rekor empat gelar juara di ajang tersebut.
Di sisi lain, Freiburg datang dengan beban sekaligus peluang yang sama besarnya. Klub Bundesliga itu belum pernah meraih titel besar, dan pencapaian terbaik mereka di Europa League sebelum musim ini hanya sampai babak 16 besar pada 2022/23 dan 2023/24.
Perjalanan Freiburg ke final musim ini menunjukkan perubahan besar. Mereka finis ketujuh di fase liga, lalu tampil tajam di fase gugur dengan mencetak tiga gol atau lebih dalam empat dari enam laga saat menyingkirkan Genk, Celta, dan Braga.
Aston Villa juga melaju dengan cara yang meyakinkan. Mereka memenangi tujuh dari delapan laga fase liga, finis di posisi kedua, lalu melewati Lille, Bologna, dan Nottingham Forest untuk mencapai partai puncak.
Bila menilik performa terkini, kedua tim datang dengan modal yang sama-sama kuat. Freiburg membawa catatan SNSUNN di semua ajang dan baru saja menang 4-1 atas Leipzig di Bundesliga untuk mengunci peringkat ketujuh liga Jerman.
Aston Villa tidak kalah stabil. Mereka mencatat pola SUSNNN di semua kompetisi dan baru menaklukkan Liverpool 4-2 di Premier League, hasil yang membuat mereka tetap berada di posisi keempat liga Inggris.
Situasi itu membuat final di Istanbul terasa seimbang dari sisi momentum. Freiburg hadir dengan kepercayaan diri dari kebangkitan domestik, sedangkan Aston Villa membawa dorongan dari konsistensi di liga dan perjalanan Eropa yang rapi.
Reputasi Emery di laga penentu
Pengalaman Emery bisa menjadi pembeda paling jelas di tengah duel dua tim yang sama-sama produktif. Ia sudah berkali-kali menghadapi tekanan laga penentuan dan memahami betul tuntutan final di ajang ini.
Emery juga menilai pengalamannya di Conference League, Champions League, dan Europa League sangat penting. Ia memandang final ini sebagai awal dari babak baru setelah perjalanan panjangnya di Eropa bersama tim-tim berbeda, sekaligus menegaskan rasa percaya diri timnya jelang laga di Istanbul.
Kekuatan utama dari kedua kubu
Freiburg datang dengan identitas permainan atraktif di bawah Julian Schuster. Beberapa nama penting mereka selama perjalanan ini adalah Vincenzo Grifo, kiper Noah Atubolu, dan gelandang 20 tahun Johan Manzambi.
Susunan awal Freiburg menampilkan Atubolu di bawah mistar, lalu Kübler, Ginter, Lienhart, dan Treu di lini belakang. Eggestein dan Höfler mengisi lini tengah, sementara Beste, Manzambi, dan Grifo mendukung Matanović di depan.
Aston Villa bertumpu pada kepemimpinan John McGinn, kreativitas Morgan Rogers, dan ketajaman Ollie Watkins. Susunan awal mereka menempatkan Martínez di gawang, dengan Cash, Konsa, Pau Torres, dan Digne di belakang, Lindelöf bersama Tielemans di tengah, serta McGinn, Rogers, Buendía, dan Watkins di lini serang.
Pertemuan ini juga menjadi ujian mental bagi dua tim yang sama-sama percaya diri. Freiburg ingin membuktikan bahwa kebersamaan dan dukungan yang kuat di sekitar klub bisa mendorong mereka melewati batas sejarah, sementara Aston Villa berusaha memastikan perjalanan panjang mereka berakhir dengan trofi.
Source: de.uefa.com






