Samsung menaruh perhatian besar pada engsel di Galaxy Z TriFold 2 karena komponen ini menjadi kunci untuk membuat bodi perangkat lipat tiga itu lebih tipis. Perubahan tersebut juga diarahkan agar perangkat terasa lebih ringan dan lebih nyaman dipakai dalam aktivitas harian.
Langkah itu menunjukkan bahwa Samsung tidak sekadar ingin menghadirkan ponsel lipat yang unik, tetapi juga berusaha menyempurnakan sisi praktisnya. Pada generasi berikutnya, fokus perusahaan asal Korea Selatan itu disebut tidak hanya pada desain yang ramping, tetapi juga pada pemangkasan bobot agar perangkat lebih mudah dibawa.
Engsel jadi pusat pembaruan desain
Pada perangkat lipat, engsel memegang peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mekanisme buka-tutup layar. Bagian ini ikut menentukan ketebalan bodi, bobot perangkat, keluwesan lipatan, hingga kesan premium saat perangkat digenggam.
Karena itu, pembaruan engsel pada Galaxy Z TriFold 2 dipandang sangat penting untuk arah desain generasi selanjutnya. Informasi yang dikutip dari Medcom menyebut solusi engsel baru ini dirancang dari nol untuk membantu memangkas ketebalan bodi secara signifikan.
Sebagai pembanding, Galaxy Z TriFold generasi pertama tercatat memiliki ketebalan 12,9 mm saat terlipat. Ukuran itu menunjukkan masih ada ruang untuk membuat perangkat lebih ringkas agar lebih mendekati kenyamanan penggunaan ponsel lipat yang umum.
Bobot juga masuk perhatian
Selain urusan ketebalan, Samsung juga disebut ingin menekan bobot perangkat. Tujuannya agar Galaxy Z TriFold 2 tidak terasa terlalu berat saat digunakan dalam rutinitas harian.
Pada model awal, bobot perangkat berada di kisaran 309 gram. Angka tersebut dinilai cukup besar bagi sebagian pengguna, terutama jika dibandingkan dengan ponsel lipat lain yang tetap harus mengutamakan mobilitas.
Fokus pada bobot memperlihatkan bahwa Samsung mencoba menyeimbangkan inovasi dan kenyamanan. Di segmen foldable, desain yang kompleks memang menarik perhatian, tetapi perangkat tetap perlu praktis saat dibawa, dibuka, dan dipakai dalam waktu lama.
Pengaruhnya bisa meluas ke lini lain
Pengembangan engsel yang lebih ramping untuk TriFold 2 tidak hanya relevan bagi satu perangkat. Teknologi ini disebut berpotensi diterapkan ke lini ponsel lipat Samsung lainnya, termasuk Galaxy Z Fold dan Galaxy Z Flip.
Jika pendekatan tersebut benar-benar dipakai lebih luas, dampaknya bisa terasa pada seluruh ekosistem foldable Samsung. Engsel yang lebih tipis dapat menjadi fondasi penyegaran desain untuk generasi perangkat lipat berikutnya.
Penerapan lintas lini juga menunjukkan bahwa inovasi dari TriFold bukan sekadar eksperimen yang berdiri sendiri. Sebaliknya, hasil pengembangannya bisa menjadi acuan untuk meningkatkan pengalaman pengguna di seri lipat Samsung yang sudah lebih dulu dikenal pasar.
Jejak dari model pertama TriFold
Galaxy Z TriFold generasi pertama sendiri hadir sebagai perangkat eksperimental. Model itu dikenalkan pada akhir 2025 dengan konsep layar lipat tiga yang bisa berubah menjadi tablet berukuran 10 inci.
Perangkat tersebut sempat dihentikan dalam waktu singkat setelah pemasaran terbatas. Meski begitu, Samsung tetap melanjutkan eksplorasi pada format ini dengan mencari bentuk yang lebih lebar dan engsel yang lebih canggih.
Arah pengembangan itu memperlihatkan bahwa Samsung belum menutup pintu bagi perangkat multi-lipat. Pengalaman dari model awal tampak dipakai sebagai dasar untuk memperbaiki daya tahan, struktur, dan kenyamanan penggunaan pada generasi berikutnya.
Di tengah tantangan bobot dan ketebalan, Samsung tetap berupaya menjaga nilai pembaruan tanpa mengorbankan fungsi harian. Galaxy Z TriFold 2 berpotensi menjadi langkah penting dalam perkembangan perangkat lipat tiga, terutama jika desain engsel yang lebih ramping benar-benar bisa diterapkan.
