Dari Henti Jantung ke Bisa Berjalan Lagi, Kisah Erica van Barneveld yang Mengubah Harapan

Erica van Barneveld selamat dari henti jantung setelah diseksi aorta, lalu kembali berjalan berkat prosedur minimal invasif yang saat itu masih tergolong baru. Kisahnya menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi medis dapat mengubah hasil dari situasi yang nyaris merenggut nyawa.

Perjalanan itu bermula pada Sabtu sore, 18 Juni 2011, ketika Erica sedang menyaksikan pertandingan sepak bola anak-anaknya di Belanda. Saat berdiri sambil memegang segelas anggur, ia tiba-tiba merasa tubuhnya sangat tidak enak sebelum nyeri hebat menekan dadanya.

Ia sempat mencoba berjalan ke kamar kecil, tetapi langkahnya terhenti dan ia jatuh. Erica kemudian dilarikan ke rumah sakit di Nieuwegein dengan ambulans dalam perjalanan sekitar 30 menit.

Diagnosis yang berubah di ruang operasi

Di rumah sakit, dokter semula menduga ia mengalami penyumbatan pembuluh darah koroner. Namun kondisi Erica memburuk cepat di meja operasi, hingga jantungnya berhenti berdetak dan ia dinyatakan clinically dead.

Tim medis lalu mengaktifkan mesin jantung-paru dan menemukan penyebab sebenarnya, yaitu diseksi aorta. Pada kondisi ini, lapisan dalam aorta robek sehingga aliran darah menuju jantung terhenti total dan membutuhkan tindakan segera.

Tahap PerawatanKondisi EricaTindakan Medis
Awal kejadianNyeri dada hebat, lalu jatuhEvakuasi dengan ambulans ke rumah sakit
Di ruang operasiJantung berhenti berdetakMesin jantung-paru diaktifkan
Setelah diagnosisDiseksi aorta ditemukanOperasi jantung terbuka dan bypass
Pemulihan awalKoma selama tiga hariPerawatan intensif lanjutan

Tak ada waktu untuk menunggu lama. Tim bedah langsung melakukan operasi jantung terbuka dan membuat bypass pada bagian aorta yang rusak untuk menyelamatkan nyawanya.

Setelah operasi, Erica menjalani koma selama tiga hari. Ketika sadar, ia masih belum memahami apa yang telah terjadi pada tubuhnya.

Masalah baru setelah operasi besar

Dua minggu kemudian ia boleh pulang, tetapi kondisinya belum pulih. Tubuhnya masih dipenuhi cairan, ia tidak bertenaga, dan belum bisa berjalan, sementara di rumah ada empat anak kecil yang menunggunya.

Tak lama setelah itu, ia harus kembali dirawat. Pemeriksaan menunjukkan fungsi pompa jantungnya tinggal sekitar 20 persen dan katup mitralnya bocor, kondisi yang biasanya ditangani dengan operasi besar kedua.

Dalam situasi itu, dokter Jan van der Heyden menawarkan pilihan lain karena tubuh Erica terlalu lemah untuk menjalani operasi jantung terbuka lagi. Opsi tersebut adalah perbaikan katup mitral minimal invasif dengan teknik transkateter, yang masih dalam tahap penelitian saat itu.

Teknik ini memasang klip khusus pada katup mitral yang bocor melalui pembuluh darah di selangkangan, sehingga pasien tidak perlu menjalani operasi besar. Bagi Erica, inilah satu-satunya harapan yang masuk akal.

Ia harus menunggu beberapa minggu karena prosedur itu lebih dulu diterapkan pada pasien yang lebih tua. Setelah hasilnya menjanjikan, giliran Erica menjalani tindakan tersebut dan kabar baik datang segera setelah ia sadar.

Dokter mengatakan, “Berhasil. Kamu akan bisa berjalan lagi,” dan Erica benar-benar bisa turun dari tempat tidur serta berjalan kembali.

Rehabilitasi panjang dan kehidupan setelahnya

Meski prosedur eksperimental itu berhasil, pemulihan Erica tetap panjang. Ia menjalani rehabilitasi selama satu tahun sebelum akhirnya mampu kembali menjalani kehidupan sehari-hari dan merawat anak-anaknya.

Putranya, Gert-Jan van Ginkel, mengatakan keluarga mereka sangat bersyukur karena sang ibu bisa kembali pulang dalam kondisi sehat. Baginya, mengenang masa itu tetap emosional karena ia pernah berdiri di samping tempat tidur ibunya di rumah sakit.

Erica kemudian ikut mendorong pengenalan teknik transkateter untuk perbaikan katup mitral minimal invasif ke berbagai rumah sakit di Belanda. Ia ingin lebih banyak pasien yang tidak mampu menjalani operasi besar tetap punya kesempatan hidup.

Menurut Erica, setiap pasien memang harus dievaluasi secara cermat, tetapi inovasi memberi peluang yang sebelumnya hampir tidak ada. Ia juga menyebut bahwa perannya dalam perjalanan ini merupakan kehormatan besar.

Teknologi yang terus berkembang

Lima belas tahun setelah tindakan yang menyelamatkan hidupnya, Erica melihat sendiri bagaimana teknologi berkembang. Saat ia menjalani prosedur pada 2011, dokter harus memasang klip pada katup jantung yang terus bergerak tanpa bantuan pencitraan secanggih sekarang.

Kini, solusi panduan real-time berbasis kecerdasan buatan dari Philips membantu dokter menentukan posisi pemasangan klip dengan jauh lebih presisi. Keakuratan ini penting karena perbaikan katup mitral minimal invasif dilakukan ketika jantung tetap berdetak.

Erica menyebut jantungnya masih mengalami kebocoran katup tingkat 2, tetapi dokter kini semakin mampu menurunkannya hingga tingkat 0. Ia juga mengakui bahwa dirinya tidak lagi bisa berolahraga berat seperti berlari, meski tetap memilih fokus pada hal yang masih bisa dilakukan.

“Saya selalu mencoba untuk fokus pada apa yang bisa saya lakukan, alih-alih apa yang tidak bisa saya lakukan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya tetap positif dan bekerja sama dengan dokter selama proses pengobatan.

Kini Erica memiliki salon rambut dan menjalani kehidupan yang hampir normal. Setiap 18 Juni, ia memperingati hari itu sebagai ulang tahun keduanya, sambil mengingat pesan sederhana yang ia pegang dari pengalamannya: Carpe Diem, nikmati setiap momen.

Berita Terkait