Penjualan tiket FIFA Series di Indonesia belum menunjukkan kondisi habis terjual, tetapi situasi itu dinilai tidak bisa dibaca dengan ukuran yang sama seperti Piala Dunia. Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa karakter ajang tersebut berbeda, sehingga tingkat kehadiran penonton di stadion sangat mungkin naik turun.
Menurut Erick, minat publik pada pertandingan seperti FIFA Series dipengaruhi banyak hal, mulai dari lawan yang dihadapi hingga jam laga. Karena itu, tidak semua pertandingan memiliki daya tarik yang mampu memicu pembelian tiket secara massal seperti ajang tertinggi sepak bola dunia.
Ukuran Antusiasme Tidak Hanya dari Stadion
Erick menilai antusiasme masyarakat terhadap Timnas Indonesia tidak semata-mata tercermin dari jumlah kursi yang terisi di stadion. Dukungan publik juga terlihat kuat melalui layar kaca, dan hal itu tetap menjadi indikator yang diperhitungkan federasi.
Dalam pandangan PSSI, penonton kini terbagi ke dua jalur. Sebagian memilih hadir langsung di arena pertandingan, sementara sebagian lain mengikuti laga dari rumah melalui siaran televisi.
Mengapa FIFA Series Berbeda dari Piala Dunia
Perbedaan paling mencolok terletak pada skala dan daya tarik kompetisinya. Piala Dunia berada di level tertinggi sehingga hampir seluruh tiket biasanya diburu publik tanpa banyak pertimbangan.
Sementara itu, FIFA Series memiliki karakter yang lebih selektif bagi penonton. Keputusan untuk datang ke stadion bisa berubah tergantung siapa lawannya, seberapa menarik jadwal pertandingan, dan seberapa besar minat publik pada laga tersebut.
Berikut sejumlah faktor yang menurut Erick memengaruhi penjualan tiket:
- Skala turnamen tidak sebesar Piala Dunia.
- Minat hadir di stadion bisa berubah sesuai lawan.
- Banyak pendukung memilih menonton lewat televisi.
- Dukungan terhadap Timnas Indonesia tetap besar di berbagai platform.
Rating Siaran Masih Menjadi Tolok Ukur Penting
Erick juga menyebut data yang diterimanya menunjukkan rating siaran langsung pertandingan Timnas Indonesia di FIFA Series masih berada pada kisaran 50-60 persen. Angka itu dipandang sebagai tanda bahwa perhatian publik belum menurun.
Bagi PSSI, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pusat perhatian penonton tidak hanya berada di stadion. Respons publik melalui siaran televisi tetap memberi gambaran bahwa laga Timnas Indonesia masih memiliki jangkauan besar.
Situasi itu juga memperkuat penilaian bahwa evaluasi sebuah turnamen tidak cukup memakai satu ukuran saja. Okupansi stadion memang penting, tetapi jangkauan siaran dan perhatian publik di layar kaca ikut membentuk gambaran utuh tentang penerimaan masyarakat.
Fokus PSSI Tidak Hanya pada Tiket
Di luar urusan penjualan tiket, perhatian publik juga tertuju pada performa Timnas Indonesia di bawah pelatih John Herdman. Skuad Merah Putih sempat kalah 0-1 dari Bulgaria, namun sebelumnya menang 4-0 atas St. Kitts and Nevis.
Erick meminta publik memberi waktu bagi Herdman untuk beradaptasi dengan pemain Indonesia. Ia menilai proses penyesuaian tidak bisa dipaksa berlangsung cepat, terutama dalam agenda yang juga dimanfaatkan sebagai ruang pembenahan tim.
Dalam konteks itu, FIFA Series dipandang PSSI bukan sekadar ajang mencari hasil instan. Proses adaptasi pelatih, respons penonton di stadion, dan tingginya rating siaran sama-sama dibaca sebagai bagian dari perkembangan Timnas Indonesia.
Source: mediaindonesia.com






