Etanol 5 Persen Di BBM Non-Subsidi Mulai 2026, Ini Sebenarnya Aman Bagi Mobil?

Author: Redaksi Android62

Mulai semester II 2026, bensin non-subsidi di Pulau Jawa akan memasuki fase baru karena kewajiban pencampuran bioetanol 5 persen atau E5. Kebijakan ini membuat banyak pemilik mobil bertanya hal yang paling praktis: apakah campuran etanol akan aman untuk tangki, saluran bahan bakar, dan mesin, atau justru memicu masalah baru?

Kekhawatiran soal karat memang muncul sejak isu ini ramai dibahas. Namun, penjelasan teknis menunjukkan bahwa sumber masalah tidak sesederhana sekadar etanol di dalam bensin.

Apa yang membuat etanol dipersoalkan

Dr. Ing. Tri Yuswidjajanto Zaenuri dari Program Studi Teknik Mesin ITB menjelaskan bahwa etanol dapat bereaksi dengan lapisan antikarat tertentu yang mengandung timbal. Jika lapisan itu rusak, logam di bawahnya menjadi lebih mudah terkena oksigen dan akhirnya berpotensi berkarat.

Meski begitu, Tri menegaskan bahwa etanol bukan penyebab utama karat pada tangki. Menurut dia, faktor yang lebih menentukan justru sifat etanol yang higroskopis, atau mudah menyerap air dari udara.

Peran air dalam potensi korosi

Saat kadar air di dalam bahan bakar meningkat, air itulah yang bisa bereaksi dengan logam pada tangki maupun sistem bahan bakar. Dalam kondisi seperti itu, korosi muncul karena keberadaan air di dalam sistem, bukan semata-mata karena etanol yang dicampurkan ke bensin.

Penjelasan ini penting karena memberi gambaran bahwa risiko tidak otomatis datang dari campuran etanolnya. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kandungan air dan kondisi sistem bahan bakar itu sendiri.

Mobil modern dinilai masih aman

Di sisi lain, pengamat otomotif ITB Yannes Martinus Pasaribu menilai campuran etanol rendah masih tergolong aman untuk kendaraan bermotor. Ia menyebut kadar E3,5 masih berada di bawah batas aman internasional seperti E10 yang sudah digunakan luas di banyak negara.

Yannes juga menyampaikan bahwa etanol dapat membantu meningkatkan daya dan torsi mesin. Selain itu, kandungan ini bisa menekan emisi karbon monoksida, hidrokarbon, dan partikel kecil lainnya.

Yang paling menentukan adalah kualitas campuran

Menurut Yannes, bioetanol tidak menimbulkan masalah pada sistem bahan bakar maupun komponen mesin selama kadar campurannya sesuai standar. Karena itu, perhatian utama bukan hanya pada jenis bahan bakar, tetapi juga pada kualitas pencampuran dan pengendaliannya.

Dengan kata lain, kekhawatiran pemilik mobil tidak bisa dipukul rata. Selama komposisi tetap sesuai standar, mobil modern dinilai tidak perlu terlalu cemas menghadapi BBM campur etanol.

Aturan resmi dan wilayah yang terdampak

Kewajiban campur bioetanol ini disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi. Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi menyebut aturan tersebut merupakan amanat Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025.

Kebijakan ini berlaku untuk seluruh badan usaha penyedia BBM non-PSO yang memasarkan produknya di Pulau Jawa. Artinya, dampak paling langsung akan dirasakan pengguna bensin non-subsidi di wilayah itu ketika aturan mulai dijalankan pada semester II 2026.

Source: otodriver.com
Berita Terbaru