F-17 tidak benar-benar lenyap dari sejarah penerbangan tempur Amerika Serikat. Nama itu justru bergeser ketika YF-17 Cobra milik Northrop Aircraft berkembang menjadi F-18 Hornet setelah Angkatan Laut Amerika Serikat melihat nilai desainnya.
Peralihan itu membuat banyak orang mengira ada nomor yang hilang, padahal yang terjadi adalah perubahan arah program. Dari situ pula muncul kisah mengapa penamaan jet tempur Amerika tampak rapi di satu sisi, tetapi menyisakan celah yang memancing rasa penasaran.
F-17 yang hampir masuk dinas
YF-17 terbang pertama kali pada 1976 dengan bantuan NASA. Pesawat ini lahir dari program Lightweight Fighter milik Angkatan Udara Amerika Serikat dan sempat dipandang sebagai kandidat serius untuk masa depan jet tempur ringan.
Namun kontrak program itu akhirnya jatuh ke General Dynamics. Perusahaan tersebut mengubah YF-16 menjadi F-16 Falcon, sementara YF-17 tidak berhenti menjadi proyek yang tersisih.
Angkatan Laut Amerika Serikat kemudian memberi kontrak kepada Northrop, dan jalur pengembangan YF-17 berlanjut menjadi F-18 Hornet. Dari varian itulah keluarga Super Hornet kemudian muncul untuk operasi berbasis kapal induk.
Mengapa F-13 tidak pernah muncul
Berbeda dengan F-17, persoalan F-13 lebih dekat ke wilayah kebiasaan dan simbol. Dalam sistem penamaan modern Angkatan Udara Amerika Serikat, tidak pernah ada pesawat tempur modern yang memakai nama F-13.
The Runway, publikasi daring Angkatan Udara Australia, menyebut penjelasan paling sederhana sebagai triskaidekaphobia, yakni ketakutan terhadap angka 13. Penjelasan itu tidak resmi, tetapi dianggap masuk akal karena dunia militer kerap berhati-hati terhadap simbol dan angka tertentu.
Jika dilihat dari tradisi itu, penghindaran terhadap angka 13 bukan hal yang aneh. Untuk pesawat tempur yang dirancang melesat lebih dari 1.000 mil per jam dan bertugas menjaga wilayah udara Amerika, kehati-hatian semacam itu mudah dipahami.
Nomor yang dilewati tidak berhenti di sana
Kebiasaan melompati nomor ternyata juga terlihat pada F-19. Northrop sempat melewati angka itu saat mengembangkan penerus F-5 Tiger, lalu memilih F-20.
Langkah tersebut berkaitan dengan pola penamaan pesawat Uni Soviet yang sering memakai nomor ganjil, seperti MiG-19 dan MiG-21. Meski begitu, F-20 sendiri tidak pernah melampaui tahap prototipe.
Pola ini menunjukkan bahwa nomor pada jet tempur tidak selalu mengikuti urutan matematika yang kaku. Keputusan bisa dipengaruhi strategi, persepsi lawan, kontrak militer, dan pertimbangan yang tidak selalu dijelaskan ke publik.
Rumor yang tampak logis, tetapi tidak sepenuhnya terbuka
Dari luar, hilangnya F-13 dan F-17 mudah terlihat seperti misteri besar. Namun jejak F-17 justru jelas, karena namanya berlanjut melalui F-18 yang kemudian masuk layanan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Sementara itu, F-13 lebih dekat ke kemungkinan takhayul daripada dokumen teknis yang terbuka. Dunia pertahanan jarang mengakui unsur seperti itu secara langsung, tetapi cerita tentang nomor yang dihindari tetap hidup karena sesuai dengan cara industri ini bekerja.
Industri tersebut serba hati-hati, sarat simbol, dan tidak selalu transparan. Itulah sebabnya celah kecil dalam penamaan jet tempur bisa bertahan lama sebagai bahan rasa ingin tahu publik.







