Feelin’ Good Mengunci Java Jazz, Lisa Simone Hidupkan Warisan Nina Simone dengan Hangat

Author: Redaksi Android62

Di BYD Hall, Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Banten, Lisa Simone menutup penampilannya dengan lagu Feelin’ Good yang membuat banyak penonton ikut bernyanyi bersama. Momen itu menjadi penegas bahwa pertunjukannya di International Java Jazz Festival 2026 tidak hanya kuat secara vokal, tetapi juga berhasil membangun kedekatan langsung dengan ribuan penonton yang hadir pada Sabtu (30/5) malam.

Sepanjang malam, Lisa tampil bersama big band Harbourside Jazz asal Australia dan menghadirkan suasana yang hangat serta emosional. Panggung festival pun berubah menjadi ruang tribut yang terasa personal, terutama karena ia membawakan lagu-lagu yang sangat lekat dengan nama besar Nina Simone, sang ibu.

Pilihan repertoar itu membuat penampilannya menonjol di antara deretan aksi panggung lain di festival tersebut. Lisa tidak sekadar menyanyikan lagu-lagu lama, tetapi menghidupkan kembali makna yang menempel pada setiap nomor dengan karakter vokalnya yang kuat.

Tribut yang terasa dekat dengan keluarga

Salah satu bagian paling berkesan datang saat Lisa membawakan Do I Move You?. Di tengah lagu, ia berbagi cerita tentang putrinya, ReAnna Simone, yang pernah memilih lagu itu ketika masih kecil saat diminta menentukan lagu yang ingin dinyanyikan.

Kenangan itu ia sampaikan dengan nada yang hangat dan penuh rasa haru. Cerita tersebut membuat penampilannya terasa lebih intim, sekaligus menunjukkan bahwa warisan musik Nina Simone tidak berhenti di panggung, tetapi juga hidup dalam pengalaman keluarga Lisa.

Kesan personal itu semakin kuat karena Lisa menjaga komunikasi dengan penonton sejak awal. Ia membuka interaksi dengan sapaan singkat yang langsung disambut sorak, lalu bergerak luwes dari satu lagu ke lagu lain tanpa kehilangan energi panggung.

Warisan Nina Simone yang terus hidup

Di atas panggung, Lisa memperlihatkan bagaimana identitas artistiknya masih terkait erat dengan warisan sang ibu. Nama Nina Simone hadir bukan hanya lewat lagu yang dibawakan, tetapi juga lewat cara Lisa membangun pertunjukan dengan narasi dan emosi.

Istilah Griot yang pernah diperkenalkan Nina Simone juga menjadi bagian penting dari identitas Lisa. Griot merujuk pada sosok penjaga cerita, budaya, dan sejarah melalui seni, dan karakter itu tercermin dalam cara Lisa menyampaikan lagu serta cerita di sela pertunjukan.

Dengan pendekatan itu, penampilannya terasa lebih dari sekadar konser festival biasa. Pertunjukan tersebut menghadirkan lapisan makna yang menghubungkan sejarah, keluarga, dan ekspresi musik dalam satu alur yang konsisten.

Lagu-lagu yang menjaga penonton tetap terhubung

Repertoar yang dibawakan Lisa tersusun dengan dinamika emosi yang berganti-ganti sepanjang malam. Ia membawakan I’m Gonna Leave You, My Baby Just Cares For Me, Do I Move You?, Work Song, Dysfunction, dan Feelin’ Good.

Urutan itu menjaga perhatian penonton tetap menyala sampai bagian akhir. Dari nomor pembuka yang kuat hingga lagu penutup yang akrab, alurnya membuat suasana di BYD Hall terus bergerak dan tidak kehilangan intensitas.

Kehadiran Harbourside Jazz ikut memperkaya warna pertunjukan. Format big band membuat sajian musik terdengar penuh dan berlapis, sehingga vokal Lisa punya ruang yang cukup untuk menonjol di atas aransemen yang hidup.

Di akhir penampilan, Lisa menyampaikan terima kasih kepada penonton yang memenuhi ruang pertunjukan malam itu. Ia juga berharap bisa bertemu lagi dalam waktu dekat sebelum meninggalkan panggung dengan senyum lebar.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru