Fenomena Awan Iridesen Di Bogor, BRIN Tegaskan Warna Pelangi Itu Normal

Kemunculan awan pelangi di langit Bogor menarik perhatian warga karena warnanya yang tampak tidak biasa. Fenomena itu sempat memunculkan beragam tafsir di media sosial, padahal penjelasannya berada pada proses alam yang dikenal normal.

Peneliti BRIN Thomas Jamalludin menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan tanda tertentu, melainkan gejala atmosfer yang jarang terlihat. Warna-warni yang muncul berasal dari pembiasan cahaya matahari oleh tetes air di awan pada sudut yang tepat.

Awan iridesen di balik tampilan warna-warni

Thomas menyebut fenomena itu sebagai awan iridesen atau iridescent cloud. Pada kondisi ini, awan tipis memiliki banyak tetesan air atau kristal es dengan ukuran yang hampir sama.

Saat itu terjadi, sinar matahari hanya mengenai sebagian kecil partikel awan dalam satu waktu. Cahaya kemudian terpecah dan memunculkan warna-warna lembut yang bisa terlihat dari permukaan bumi.

Tidak selalu muncul, karena butuh syarat khusus

Awan pelangi tidak hadir setiap saat karena kemunculannya bergantung pada kondisi tertentu. Awan semi-transparan atau awan yang baru terbentuk disebut paling berpeluang menampilkan warna tersebut.

Fenomena ini paling sering terlihat pada awan altocumulus, cirrocumulus, awan lentikular, dan awan cirrus. Warnanya umumnya tampak seperti pastel, meski pada keadaan tertentu bisa terlihat cukup cerah.

Mengapa kadang sulit dilihat

Jika iridesensi muncul sangat dekat dengan matahari, warnanya kerap kalah oleh silau cahaya matahari. Karena itu, awan pelangi lebih mudah diamati ketika posisi pengamat tidak langsung menghadap sumber cahaya utama.

Pengamatan juga bisa dibantu dengan menutupi matahari memakai tangan atau mencari posisi di balik pohon maupun bangunan. Kacamata hitam dapat mengurangi silau, sementara pantulan langit di cermin cembung atau genangan air juga bisa membantu melihat warna yang muncul.

Berbeda dari halo dan korona

Fenomena ini tidak sama dengan halo yang juga dapat terlihat di langit. Iridesensi terjadi karena difraksi dari tetesan air kecil atau kristal es kecil yang menyebarkan cahaya secara individual.

Jika kristal es berukuran lebih besar, yang biasanya muncul adalah halo, bukan iridesensi. Pada awan tipis dengan partikel berukuran serupa, warna bisa terlihat semakin jelas dan membentuk pola tertentu, termasuk korona yang tampak sebagai cakram terang dikelilingi cincin berwarna di sekitar matahari atau bulan.

Kemunculan awan pelangi di Bogor memperlihatkan bagaimana kondisi atmosfer tertentu dapat menghasilkan pemandangan yang menarik tanpa kaitan dengan tanda bencana. Awan yang tampak biasa pun bisa berubah menjadi warna-warni ketika cahaya matahari dan partikel air di dalamnya bertemu pada sudut yang tepat.

Source: teknologi.bisnis.com

Berita Terkait