FFI Perketat Penjurian, Piala Citra Diminta Makin Layak Jadi Tolok Ukur

Author: Redaksi Android62

Festival Film Indonesia menyiapkan penyempurnaan mekanisme penjurian untuk FFI 2026 agar Piala Citra tetap menjadi standar utama pencapaian perfilman nasional. Perubahan ini diarahkan untuk memastikan film pemenang benar-benar memenuhi standar artistik, teknis, dan profesional yang ditetapkan ajang tersebut.

Ketua Bidang Penjurian FFI 2026, Budi Irawanto, menegaskan bahwa arah pembaruan itu lahir dari kebutuhan menjaga kualitas penghargaan. Dalam pembukaan FFI 2026 di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Kamis (19/6/26), ia menyampaikan, “Semangat kita adalah menghasilkan film pemenang yang betul-betul mencerminkan standar yang kita tetapkan.”

Alur Penjurian Dibuat Lebih Ringkas

Pembaruan paling mencolok terletak pada penjurian film cerita panjang. FFI memangkas tahapan dari empat menjadi tiga agar proses lebih ringkas, tetapi tetap menjaga kualitas penilaian.

Skema baru itu mencakup seleksi awal untuk menentukan daftar panjang dan daftar pendek, lalu nominasi melalui voting dan penilaian, kemudian penentuan pemenang oleh Dewan Juri Akhir. Menurut Budi, susunan ini diharapkan melahirkan film pemenang yang lebih unggul dan berbobot.

Asosiasi Profesi dan Akademi Citra Tetap Dilibatkan

Pada seleksi awal, Komite Penjurian masih menggandeng asosiasi profesi agar penilaian film masuk mendapat masukan dari pihak yang memahami bidangnya masing-masing. Pola ini dipertahankan supaya penilaian tetap relevan dengan kepakaran yang dibutuhkan.

Di tahap nominasi, Akademi Citra yang berisi para pemenang Piala Citra dari tahun-tahun sebelumnya ikut memberi suara bersama asosiasi profesi. Kombinasi itu dirancang agar keputusan nominasi dan pemenang mencerminkan capaian terbaik secara teknis, artistik, dan tematik.

Aturan Pendaftaran Ikut Disesuaikan

Selain penjurian, FFI 2026 juga memperbarui sejumlah ketentuan pendaftaran. Film yang didaftarkan boleh berasal dari produksi mandiri maupun koproduksi dengan pihak asing, selama sebagian besar unsur kreatifnya dikerjakan oleh warga negara Indonesia.

FFI juga membuka ruang yang setara bagi film yang tayang di bioskop, ruang pemutaran alternatif, platform digital, maupun festival film di Indonesia. Kebijakan ini menunjukkan keinginan FFI menjangkau lebih banyak karya yang beredar di berbagai kanal penayangan.

Hak Cipta Jadi Bagian dari Edukasi

Pembaruan lain yang ikut diberlakukan adalah kewajiban peserta menyertakan surat pencatatan ciptaan. Ketentuan itu diposisikan sebagai bagian dari edukasi mengenai pentingnya perlindungan hak kekayaan intelektual di ekosistem film.

Budi menyebut perubahan dalam FFI 2026 disusun dari masukan publik dan diskusi dengan pemangku kepentingan perfilman. Menurut dia, FFI perlu terus menyesuaikan diri agar tetap relevan dengan arah perkembangan industri dan tetap dipercaya sebagai ajang penghargaan film paling bergengsi di Indonesia.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru