Fitur AOD Samsung Ternyata Tetap Menyedot 10-15% Baterai Sehari, LTPO Belum Banyak Membantu

Bagi banyak pengguna Samsung, AOD terasa seperti fitur kecil yang nyaris tak terlihat dampaknya. Namun, data pengujian menunjukkan fitur ini tetap menggerus baterai sekitar 10% hingga 15% dalam pemakaian normal selama satu hari kerja sekitar 14 jam.

Angka itu membuat AOD tidak bisa disebut gratis dari sisi daya. Walau tidak sebesar layar penuh, konsumsi yang muncul terus-menerus tetap memberi beban nyata pada baterai ponsel.

Kenapa AOD tetap memakai daya

AOD berjalan di atas layar OLED yang mampu menyalakan piksel secara terpisah. Karena hanya sebagian kecil piksel yang aktif untuk menampilkan jam atau notifikasi, konsumsi dayanya jauh lebih hemat dibanding layar yang menyala penuh.

Meski begitu, OLED tetap bukan panel yang bisa aktif tanpa biaya seperti E-ink. Itulah sebabnya AOD tetap menguras baterai, walau tidak sedramatis yang sering dibayangkan pengguna.

Samsung sejak Galaxy S7 pernah menyebut efek AOD berada di bawah 1% per jam. Klaim itu sempat sejalan dengan pengujian independen TechSpot pada tahun yang sama, lalu hasil serupa kembali muncul dalam pengujian DXOMark beberapa tahun setelahnya.

Hasil uji flagship Samsung

DXOMark menguji lini flagship 2022 yang mencakup Samsung Galaxy S22 Ultra, iPhone 14 Pro, Google Pixel 7 Pro, dan Xiaomi 12S Ultra. Pada Galaxy S22 Ultra, daya tahan baterai turun dari 417 jam tanpa AOD menjadi 136 jam saat fitur itu aktif.

Hasil tersebut setara dengan sekitar 1% baterai per jam, atau kurang lebih 10% hingga 15% dalam satu hari. Pola yang sama juga terlihat saat Galaxy S7 Edge dan S22 Ultra diuji dalam kondisi serupa dengan radio ponsel dimatikan dan mode pesawat aktif.

Temuan itu menunjukkan bahwa panel LTPO di flagship Samsung belum otomatis membuat AOD jauh lebih hemat. Padahal, layar LTPO pada S22 Ultra diklaim bisa memangkas konsumsi daya hingga 22% dibanding AMOLED biasa.

LTPO tidak selalu jadi penyelamat

Banyak pengguna mengira generasi yang lebih baru akan membawa lompatan efisiensi yang besar. Namun, data yang tersedia justru menempatkan dampak AOD di kisaran yang mirip dari satu perangkat ke perangkat lain.

Karena itu, perbandingan antarperangkat tidak sesederhana melihat nama model atau teknologi layarnya saja. Pada praktiknya, AOD tetap punya biaya daya yang konsisten meski dipakai di kelas flagship dengan panel yang lebih canggih.

Gambaran di lini Galaxy A-series

Pengujian pada Galaxy A-series memang tidak sebanyak pada jajaran flagship. Meski begitu, PhoneArena pernah mencatat konsumsi AOD di Galaxy A5 berada di level sub-1%, sementara laporan pengguna Galaxy A54 juga menempatkannya di sekitar 1% per jam.

Perbedaan ini masuk akal karena layar A-series memiliki resolusi lebih rendah, sekitar 2,5 juta piksel. Sementara itu, flagship Galaxy S-series berada di kisaran sekitar 4,4 juta piksel.

Jumlah piksel yang lebih tinggi ikut menaikkan kebutuhan daya, karena setiap sub-piksel merah, hijau, dan biru dikendalikan transistor terpisah. Dengan begitu, AOD pada panel beresolusi tinggi memang punya ruang konsumsi yang sedikit lebih besar.

Beban baterai tidak datang dari layar saja

AOD sering disorot karena terlihat aktif terus, tetapi layar bukan satu-satunya komponen yang menguras baterai. Modem smartphone sendiri bisa menarik daya dua kali lebih besar dari layar, terutama saat sinyal lemah atau jarak ke menara seluler jauh.

Artinya, kondisi jaringan bisa memberi dampak yang lebih besar terhadap daya tahan baterai dibanding AOD itu sendiri. Dalam situasi tertentu, beban dari modem dapat lebih berat daripada piksel kecil yang hanya menampilkan jam dan notifikasi.

Bagi pengguna yang merasa 10% kapasitas baterai terlalu mahal untuk sebuah fitur pasif, Samsung menyediakan opsi yang lebih hemat. AOD bisa diatur agar hanya muncul saat ponsel disentuh atau digerakkan, sehingga layar tetap tidak aktif ketika tidak ada interaksi.

Berita Terkait