Banyak orang mengejar fokus dengan cara menambah jam kerja, padahal kuncinya justru sering ada pada cara mengatur energi sejak awal hari. Allison Tibbs, wellness-focused executive coach sekaligus CEO Nourished Life Coaching & Consulting, menilai kebiasaan harian yang dijaga konsisten punya dampak besar pada fokus dan tenaga.
Salah satu yang paling penting adalah memulai pagi dengan lebih tenang, bukan langsung terburu-buru masuk ke pekerjaan. Pagi yang dipenuhi kepanikan membuat energi cepat terkuras karena tubuh dan pikiran belum sempat siap menghadapi aktivitas utama.
Tibbs menyarankan rutinitas ringan seperti meditasi, yoga selama 15 menit, atau jalan santai. Aktivitas sederhana seperti ini membantu menenangkan pikiran dan membuat tubuh lebih siap menjalani hari.
Saat pagi terasa lebih terkendali, fokus biasanya lebih tahan lama. Energi mental tidak habis di awal, sehingga pekerjaan penting tidak terasa terlalu berat sebelum benar-benar dimulai.
Kebiasaan berikutnya adalah mengenali jam paling produktif dalam sehari. Tibbs menyebut periode ini sebagai “power hours”, yaitu waktu ketika otak bekerja paling optimal untuk tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Pada jam-jam seperti ini, pekerjaan yang benar-benar penting sebaiknya mendapat prioritas. Waktu terbaik justru tidak ideal dipakai untuk hal yang mudah memecah perhatian atau tugas yang kurang penting.
Agar momen itu lebih efektif, Tibbs menyarankan menghindari notifikasi ponsel dan multitasking. Ia juga menekankan pentingnya menyiapkan air minum, snack, serta workspace yang rapi supaya perhatian tidak mudah terpecah.
Hal-hal kecil seperti ini sering dianggap sepele, tetapi dampaknya besar saat seseorang perlu fokus penuh. Lingkungan kerja yang tertata membantu energi mental tetap terarah pada satu tugas.
Bukan sekadar sibuk
Kebiasaan ketiga berkaitan dengan kemampuan membedakan kesibukan dan produktivitas. Tibbs menilai banyak orang tidak bermasalah pada manajemen waktu, melainkan pada cara menentukan prioritas.
Ia memakai pendekatan sederhana: do, delegate, delete. Artinya, kerjakan hal yang benar-benar penting, delegasikan tugas yang bisa dibantu orang lain, lalu hilangkan pekerjaan yang tidak perlu.
Cara ini membantu menghemat tenaga mental. Jika terlalu banyak hal dikerjakan sekaligus, fokus mudah pecah dan hasil kerja cenderung tidak maksimal.
Dengan memilah tugas secara tegas, energi bisa diarahkan ke pekerjaan yang paling berdampak. Langkah ini juga membantu seseorang tidak cepat kehabisan tenaga di tengah hari.
Tiga kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa fokus yang kuat tidak harus dibangun lewat begadang atau dorongan untuk terus bekerja tanpa henti. Justru dari pagi yang lebih tenang, penggunaan jam paling produktif yang lebih tepat, dan prioritas yang lebih jelas, energi bisa dipakai dengan lebih efisien sepanjang hari.
Source: www.beautynesia.id






