Forerunner 255 Masih Dipilih Pelari Di 2026, Karena GPS Dan Baterainya Tetap Kuat

Author: Redaksi Android62

Di pasar bekas, Garmin Forerunner 255 justru makin menarik karena harga jualnya turun jauh dari harga awal. Selisih itu membuat jam ini terlihat lebih masuk akal bagi pelari yang ingin perangkat latihan serius tanpa harus masuk ke kelas flagship baru.

Saat pertama meluncur, Garmin Forerunner 255 dibanderol mulai Rp5,8 jutaan. Kini, beberapa variannya di Indonesia tercatat berada di kisaran Rp2,5-3,9 jutaan untuk unit bekas, tergantung model dan kelengkapan musik.

Harga bekas yang masih kompetitif

Berikut kisaran harga yang tercatat untuk beberapa varian Garmin Forerunner 255 di Indonesia.

Model Harga baru Harga bekas
Garmin Forerunner 255 Rp5,8 jutaan Rp2,5-3,8 jutaan
Garmin Forerunner 255S Rp5,8 jutaan Rp2,5-3,8 jutaan
Garmin Forerunner 255 Music Rp6,6 jutaan Rp3,5-3,9 jutaan
Garmin Forerunner 255S Music Rp6,6 jutaan Rp3,5-3,9 jutaan

Perbedaan harga ini membuat seri tersebut tetap dilirik, terutama oleh pengguna yang memprioritaskan fungsi latihan. Di kelas bekas, nilainya terasa semakin kuat karena fiturnya belum terlihat usang.

Fokusnya tetap untuk latihan, bukan gaya

Alasan utama Forerunner 255 masih dicari adalah arahnya yang jelas ke kebutuhan pelari. Garmin menempatkan fitur-fitur latihan di pusat pengalaman, bukan sekadar mengejar tampilan premium seperti banyak smartwatch baru.

Jam ini sudah mendukung multi band GPS, triathlon mode, HRV tracking, training analysis, running power, dan dukungan multisport lengkap. Selain itu, ada daily suggested workout dan morning report yang memberi rekomendasi latihan berdasarkan kondisi tubuh, kualitas tidur, dan waktu pemulihan.

Bagi banyak pengguna, pendekatan seperti ini terasa lebih berguna dalam aktivitas harian. Perangkatnya lebih mirip alat bantu latihan ketimbang aksesori gaya.

Akurasi GPS dan baterai jadi daya tarik utama

Salah satu nilai jual terkuat Forerunner 255 ada pada GPS multi band atau dual frequency. Fitur ini membantu pelacakan tetap presisi saat dipakai di area perkotaan padat, jalur trail, atau lokasi dengan sinyal GPS yang sulit.

Kemampuan seperti itu biasanya ditemukan pada smartwatch olahraga yang lebih mahal. Karena itu, banyak pelari menilai Forerunner 255 punya value yang tinggi di kelasnya.

Garmin juga memilih layar transflective MIP, bukan AMOLED. Keputusan ini membuat layar lebih hemat baterai dan tetap jelas saat digunakan di bawah sinar matahari, sesuatu yang penting untuk pelari outdoor, maraton, dan trail run.

Pilihan layar tersebut juga membantu menjaga fokus pada latihan. Untuk sebagian runner, tampilan yang tidak terlalu mencolok justru lebih cocok karena fungsi utama jam tetap menjadi alat olahraga.

Masih relevan untuk dipakai lama

Daya tahan baterai menjadi alasan lain mengapa Forerunner 255 belum kehilangan peminat. Varian 46mm bisa bertahan hingga 14 hari untuk penggunaan smartwatch biasa, sementara mode GPS dapat mencapai 30 jam.

Angka itu masih sangat kompetitif pada 2026, apalagi jika dibandingkan dengan banyak smartwatch lifestyle modern yang perlu diisi ulang setiap satu atau dua hari. Kombinasi layar MIP dan sistem operasi Garmin yang efisien membuat jam ini tetap nyaman dipakai untuk latihan intens, hiking, dan event lari jarak jauh.

Masih cocok untuk pelari serius

Garmin Forerunner 255 juga didukung lebih dari 30 mode olahraga, termasuk lari, renang, sepeda, HIIT, dan triathlon. Kelengkapan ini membuat perangkat tersebut tetap relevan bagi pengguna yang butuh jam olahraga serbaguna.

Walau bukan smartwatch paling fashionable, target utama Forerunner 255 memang bukan di area itu. Jam ini dibuat untuk membantu latihan lebih efektif dengan fitur yang langsung terpakai di lapangan, dan itulah yang membuatnya masih dicari hingga 2026.

Source: www.idntimes.com
Berita Terbaru