Fosil Cannabis 48 Juta Tahun dari Jerman, Petunjuk Baru Asal-Usul Ganja dan Domestikasi Manusia

Author: Redaksi Android62

Penemuan fosil cannabis berusia 56 hingga 48 juta tahun membuat asal-usul ganja dipandang ulang oleh para ilmuwan. Temuan yang berasal dari Jerman itu menunjukkan bahwa riwayat genus Cannabis jauh lebih tua daripada dugaan yang selama ini populer.

Yang menarik, fosil tersebut tidak sekadar tua, tetapi juga memiliki bentuk yang sangat mirip dengan cannabis modern. Kesan itu muncul setelah spesimen yang lama tersimpan di museum akhirnya dianalisis secara menyeluruh, padahal fosilnya pertama kali ditemukan pada 1883 oleh Paul Friedrich.

Jejak yang lama tersembunyi di museum

Fosil ini baru mendapatkan perhatian serius setelah lama berada dalam koleksi museum. Saat diperiksa lebih detail, para peneliti melihat ciri-ciri yang dianggap kuat mengarah pada cannabis, terutama dari bentuk daun dan pola tulang daunnya.

Ludwig Luthardt dari Natural History Museum menyebut kemiripan itu terlihat jelas. Namun, para ilmuwan tetap berhati-hati karena kesamaan bentuk tidak otomatis berarti spesimen itu adalah nenek moyang langsung ganja yang dikenal sekarang.

Asal-usul yang tidak sesederhana dugaan lama

Temuan dari Jerman juga membuat dugaan lama soal asal cannabis modern ikut dipertanyakan. Selama ini, Cannabis sativa dan Cannabis indica kerap dikaitkan dengan dataran tinggi Tibet atau wilayah pegunungan Himalaya dalam berbagai kajian awal.

Kajian terhadap fosil tersebut membuka kemungkinan bahwa peta evolusi genus Cannabis lebih luas dari perkiraan sebelumnya. Luthardt bahkan menilai spesimen itu kemungkinan berasal dari spesies berbeda, bukan bentuk langsung dari tanaman modern yang kini dikenal.

Hubungan panjang dengan manusia

Salah satu bagian paling penting dari temuan ini adalah dugaan bahwa manusia sudah membiakkan ganja sejak Zaman Batu. Ilmuwan menyebut Cannabis sativa dan Cannabis indica yang ada saat ini merupakan hasil domestikasi dan pembiakan selektif oleh manusia.

Dengan kata lain, tanaman “asli” yang menjadi dasar proses itu disebut sudah tidak ada lagi. Hal ini membuat hubungan manusia dengan cannabis tampak sangat panjang, jauh sebelum tanaman tersebut masuk ke pembahasan modern.

Apa yang belum bisa dipastikan dari fosil ini

Meski berumur sangat tua, fosil itu belum bisa menjawab semua pertanyaan tentang sifat tanaman purba tersebut. Para peneliti belum dapat memastikan apakah cannabis pada masa itu memiliki kandungan psikotropika seperti ganja modern.

Kendalanya ada pada trichome, struktur pada tanaman modern yang menyimpan THC. Struktur itu tidak bisa diamati dari fosil, sehingga ilmuwan belum berani menyimpulkan apakah cannabis purba memiliki efek yang sama dengan tanaman masa kini.

Mengapa temuan ini penting bagi sejarah tanaman

Temuan fosil ini memperkuat pandangan bahwa sejarah cannabis jauh lebih kompleks daripada yang selama ini dibayangkan. Fakta bahwa famili Cannbaceae sudah ada sejak era Cretaceous, sekitar 90 juta tahun lalu, membuat keberadaan genus Cannabis yang sangat tua terasa lebih masuk akal.

Meski begitu, perjalanan ilmiahnya masih panjang karena lokasi fosil tidak mudah diakses dan riset terhadap flora dari masa tersebut juga masih terbatas. Karena itu, fosil dari Jerman menjadi petunjuk penting bahwa asal-usul ganja tidak bisa dipersempit hanya pada satu lokasi atau satu periode tertentu.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru