Foufo Dihidupkan dengan Motion Capture, Bayu Skak Tampil Berani Menantang Standar Besar

Karakter alien Foufo menjadi pusat perhatian karena dibangun dengan gabungan CGI dan motion capture yang menuntut persiapan teknis sangat rinci. Bayu Skak menyebut pendekatan itu membuat proses penggarapan film Foufo terasa setara dengan teknik yang biasa dipakai film-film besar.

Di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Bayu menjelaskan bahwa tim produksi tidak sekadar merekam adegan, tetapi juga harus memetakan lingkungan sekitar sebelum pengambilan gambar selesai. Langkah itu diperlukan agar efek visual, termasuk pantulan cahaya pada mata Foufo, bisa terlihat meyakinkan saat masuk tahap pascaproduksi.

Gerak dan suara dibagi ke dua aktor

Foufo tidak hanya dibentuk lewat teknologi visual, tetapi juga melalui kolaborasi dua aktor dengan peran berbeda. Bambang Ceper menangani gerak karakter, sedangkan Ade Bibier mengisi suara alien tersebut.

Pola kerja itu membuat sosok Foufo punya ekspresi dan kepribadian yang lebih utuh di layar. Ade Bibier menyebut pengalaman ini baru baginya karena harus melakukan dubbing secara langsung bersama Bambang Ceper.

Tim animasi lokal ikut memegang peran besar

Untuk pengerjaan animasi, Skak Studios dan Sinemart menggandeng studio animasi lokal asal Surabaya, Hompimpa. Sekitar 120 animator ikut mengerjakan sosok makhluk luar angkasa itu di tengah maraknya pemanfaatan kecerdasan buatan di industri kreatif.

Keterlibatan tim sebesar itu memperlihatkan bahwa karakter Foufo dibangun melalui kerja teknis yang panjang dan tidak sederhana. Detail visual, gerak tubuh, dan karakter suara disatukan agar hasil akhirnya tetap terasa hidup.

Kostum tebal jadi tantangan fisik tersendiri

Bagi Bambang Ceper, tantangan terbesar justru muncul dari kostum yang dipakai saat syuting. Ia mengatakan kostum itu sangat tebal dan hanya kuat dipakai sekitar 30 menit sebelum tubuhnya terasa kepanasan.

Karena kondisi tersebut, tim produksi menyiapkan ruang tunggu dengan dua unit AC khusus agar Bambang bisa beristirahat di sela pengambilan gambar. Situasi itu menunjukkan bahwa peran karakter alien ini menuntut tenaga fisik yang besar meski hasil akhirnya tampil sebagai sosok CGI.

Pengalaman baru bagi Bayu Skak sebagai sutradara

Bayu mengaku penggarapan karakter berbasis motion capture memberinya pengalaman baru di kursi sutradara. Ia harus menyesuaikan banyak elemen teknis sebelum syuting agar proses visual di tahap akhir berjalan sesuai kebutuhan cerita.

Menurut Bayu, posisi kamera, area sekitar lokasi, hingga pantulan cahaya pada mata karakter perlu dicatat dengan cermat. Foufo memiliki mata besar yang membutuhkan refleksi alami agar tampil realistis di layar.

Komedi fiksi ilmiah bernuansa Madura

Foufo digarap sebagai film komedi fiksi ilmiah yang juga membawa budaya Madura ke layar lebar. Sebagian besar dialog menggunakan bahasa Madura, khususnya dialek Bangkalan, dengan sekitar 90 persen pemain berasal dari daerah tersebut.

Film ini disutradarai Bayu Skak, dengan Bayu Skak dan Ricky R. Setiawan sebagai produser, serta David Suwarto sebagai produser eksekutif. Deretan pemainnya antara lain Tretan Muslim, Habib Ja’farm Ade ‘Bibier’ Kurnyawan, Benidictus Siregar, Bambang Ceper, Siti Kam, Fuad Sasmita, Sangat Mahendra, Anggun Dwi, Ina Pogang, Rifqy Abdillah, Kiano, Hari Otong, Rizky Bibir, dan DJ Rara.

Cerita film ini berpusat pada Muslim, pengepul rongsok keturunan Madura yang terdesak melunasi sisa biaya ibadah haji ibunya. Masalah berubah ketika ia menemukan bangkai UFO dan alien sekarat, lalu menyembunyikannya dan memberinya nama Foufo.

Perpaduan teknologi visual, kerja fisik di balik kostum, dan keterlibatan banyak animator membuat Foufo tampil sebagai proyek yang ambisius. Di sisi cerita, film ini tetap mempertahankan akar komedi lokal dengan latar Madura dan bahasa dialek Bangkalan yang dominan.

Bagi Bayu Skak, tantangan terbesar bukan hanya menghadirkan alien yang terlihat meyakinkan, tetapi juga memastikan karakter itu punya emosi dan gerak yang menyatu dengan dunia film. Pendekatan tersebut menjadi alasan mengapa Foufo diposisikan sebagai komedi fiksi ilmiah dengan pengerjaan yang sangat serius.

Source: www.medcom.id
Berita Terkait