Friendster Dibuat Sangat Minimalis, Koneksi Cuma Lahir Saat Dua Ponsel Bertemu

Author: Redaksi Android62

Friendster versi baru mencoba memutus kebiasaan umum media sosial besar dengan cara yang sangat ekstrem. Aplikasi iPhone itu tidak menawarkan algoritma, tidak memasang iklan, dan bahkan pada awalnya tidak langsung memberi daftar teman.

Langkah tersebut membuat pengalaman awal terasa kosong, tetapi justru di situlah letak idenya. Friendster baru ingin mendorong koneksi yang benar-benar terjadi di dunia nyata, bukan sekadar hubungan yang dibentuk oleh rekomendasi layar.

Koneksi yang dimulai dari pertemuan langsung

Di aplikasi ini, dua orang harus bertemu secara fisik dan menempelkan ponsel iPhone mereka saat aplikasi terbuka. Setelah itu, barulah koneksi terbentuk dan pengguna bisa melihat teman dari teman mereka, lalu meminta untuk mengirim pesan.

Desain seperti ini sengaja dibuat agar pertemuan tatap muka menjadi pusat pengalaman. Jika dua teman tidak menempelkan ponsel selama setahun, koneksi itu juga bisa memudar.

Mike Carson, programmer yang membeli nama Friendster seharga 30.000 dolar AS, mengatakan lewat Medium bahwa ia terinspirasi menghidupkan kembali merek itu karena pengalaman bertemu istrinya melalui OkCupid. Ia melihat layanan seperti itu dapat mengubah arah hidup seseorang karena orang bisa bertemu, jatuh cinta, dan membangun keluarga.

Vine ikut hidup lagi dengan arah yang berbeda

Kebangkitan Vine juga tidak sekadar bermain pada rasa rindu masa lalu. Platform video pendek yang dulu dibeli Twitter pada 2012 itu muncul lagi dalam bentuk baru bernama Divine, dengan format video enam detik yang berulang tetap dipertahankan.

Namun, fokus Divine tidak berhenti pada format lama. Platform ini menaruh perhatian pada kepemilikan kreator dan autentikasi konten, termasuk lewat model Cryptographic Video Authenticity untuk membantu audiens mengenali konten asli.

Divine juga diposisikan sebagai ruang untuk media autentik yang bukan hasil AI. Arah ini menonjolkan kreativitas dan batasan, bukan dorongan algoritma iklan yang terus memaksa orang menggulir layar.

Jack Dorsey, salah satu pendiri Twitter, ikut mendukung kebangkitan itu. Ia menilai Divine dapat menyediakan berbagai alat dan layanan untuk membantu pertumbuhan ekonomi kreator.

Mengapa nama lama tiba-tiba terdengar relevan lagi

Kembalinya dua merek lama ini muncul saat banyak pengguna mulai jenuh dengan media sosial besar. Keluhan yang sering muncul adalah dominasi iklan, dorongan engagement, berita palsu, dan konten AI yang makin sulit dibedakan dari konten asli.

Di mata sebagian orang, feed yang terus didorong algoritma sudah tidak lagi terasa sosial. Yang tersisa justru kesan bahwa media sosial berubah menjadi mesin konsumsi yang membuat orang terus menggulir layar.

Reaksi balik semacam ini juga terlihat pada platform lain yang mencoba menjawab rasa lelah itu. Cara populer di kalangan seniman dikenal karena sikap anti-AI, sementara Bluesky terus tumbuh sebagai alternatif Twitter meski belum benar-benar meledak dalam pengguna aktif harian.

Nostalgia, tapi juga tanda pasar sedang berubah

Nama seperti Vine dan Friendster punya modal yang tidak dimiliki platform baru. Keduanya masih dikenali oleh generasi yang pernah memakainya, sehingga kebangkitannya langsung memancing perhatian.

Pada saat yang sama, minat terhadap perangkat low-tech seperti alternatif iPod dan dumb phone menunjukkan ada pasar yang mencari pengalaman digital yang lebih sederhana. Bagi pengguna yang lebih muda, nama-nama itu mungkin terdengar asing, tetapi rasa lelah terhadap media sosial besar bisa membuka ruang bagi pendekatan yang lebih minimalis.

Friendster memilih jalan yang paling keras, sementara Divine mencoba menata ulang cara konten video dipandang dan dipercaya. Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa sebagian pengguna kini mencari sesuatu yang lebih kecil, lebih jelas, dan lebih dekat dengan hubungan manusia yang terasa nyata.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru