Gajah diduga dapat meningkatkan kemampuan mendengar getaran yang merambat melalui tubuh hingga 30 kali lipat dengan menutup saluran telinganya. Efek itu diperkirakan terjadi ketika hewan ini menangkap vokalisasi infrasonik pada frekuensi 10 hingga 20 Hz.
Temuan tersebut memberi penjelasan baru tentang cara gajah berkomunikasi dalam jarak jauh. Mereka tidak semata mengandalkan suara yang bergerak di udara, tetapi juga sinyal yang menjalar melalui tanah.
Penutupan Saluran Telinga Berpotensi Menguatkan Sinyal
Para peneliti menduga gajah mampu menutup saluran telinga secara sukarela dengan mengontraksikan otot tertentu. Tindakan itu diperkirakan dilakukan saat hewan tersebut mendengarkan frekuensi sekitar 200 Hz atau lebih rendah.
Mekanismenya menyerupai efek penyumbat telinga pada manusia. Saat saluran telinga tertutup, suara yang berasal dari dalam tubuh, termasuk getaran langkah atau kunyahan, dapat terdengar lebih kuat.
Pada gajah, efek ini berpotensi memperbesar penerimaan suara melalui hantaran tulang. Caitlin O’Connell-Rodwell, salah satu peneliti, menjelaskan bahwa perkiraan penguatan hingga 30 kali berkaitan dengan sinyal infrasonik yang dipakai dalam komunikasi mereka.
Getaran Masuk dari Kaki hingga Telinga Dalam
Gajah menghasilkan vokalisasi berfrekuensi rendah yang tidak hanya menyebar di udara, tetapi juga mengirim getaran ke dalam tanah. Gajah lain dapat menerima getaran itu melalui kaki dan tungkai ketika berada beberapa kilometer dari sumber sinyal.
Dari bagian tubuh tersebut, getaran diteruskan menuju tengkorak dan akhirnya mencapai telinga dalam. Jalur ini memungkinkan gajah menangkap sebagian informasi akustik melalui tubuhnya sendiri.
Kepekaan gajah terhadap getaran seismik telah lama diketahui ilmuwan. Penelitian terbaru menyoroti bahwa susunan telinga tengah menjadi salah satu alasan mengapa jalur komunikasi itu bekerja efektif.
Struktur Telinga Tengah Membuat Perbedaan
Studi yang dipublikasikan dalam Frontiers in Audiology and Otology memeriksa tulang temporal dari gajah dan pendonor manusia yang telah meninggal. Tulang ini menyimpan bagian telinga tengah serta telinga dalam yang penting dalam meneruskan getaran menuju koklea.
Dalam pengujian, sampel dipasangkan pada alat pembangkit getaran yang meniru rambatan suara melalui tubuh menuju kepala. Respons struktur di dalam tulang kemudian diukur menggunakan laser pada berbagai frekuensi.
| Aspek | Gajah | Manusia |
|---|---|---|
| Frekuensi respons paling efektif | Sekitar 400 Hz | Sekitar 1,2 kHz |
| Berat tulang telinga tengah | 9 kali lebih berat | Menjadi pembanding |
| Ukuran gendang telinga | 7 kali lebih besar | Menjadi pembanding |
| Gerakan stapes pada frekuensi rendah | 3–4 kali lebih besar | Lebih kecil |
Hasilnya menunjukkan tulang telinga tengah gajah paling efektif merespons getaran sekitar 400 Hz. Pada manusia, puncak respons ditemukan pada sekitar 1,2 kHz.
Stapes gajah juga bergerak tiga hingga empat kali lebih besar daripada stapes manusia pada frekuensi rendah. Tulang kecil tersebut berperan meneruskan getaran ke telinga dalam, sehingga besar gerakannya memengaruhi kekuatan sinyal yang diterima.
Ukuran Telinga Membantu Komunikasi Jarak Jauh
Sunil Puria dari Departemen Otolaringologi Harvard Medical School menyatakan ukuran telinga tengah gajah membantu penyaluran suara frekuensi rendah ke koklea. Tulang telinga tengahnya sekitar sembilan kali lebih berat, sementara gendang telinganya sekitar tujuh kali lebih besar daripada manusia.
Gabungan struktur besar dan kemungkinan penutupan saluran telinga menjadi petunjuk bahwa gajah memiliki strategi khusus untuk mendengar getaran. Strategi itu dapat membantu mereka berkomunikasi di lingkungan yang luas.
Penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena cairan di koklea sampel mengering selama persiapan. Kondisi tersebut membuat pengukuran yang diperoleh berpotensi lebih rendah daripada kemampuan pendengaran gajah sebenarnya.
Jumlah sampel juga dibatasi oleh ketersediaan jaringan gajah untuk penelitian. Meski demikian, hasil studi membuka peluang untuk memahami cara getaran infrasonik dipakai gajah dalam menangkap dan menafsirkan sinyal dari kelompoknya.







