Galaxy S26 Tampil Kian Matang, Tapi Pengisian Lambat Masih Jadi Ganjalan Utama

Di kelas flagship kompak, Samsung Galaxy S26 paling kuat di dua hal yang langsung terasa dalam pemakaian sehari-hari: performa dan software. Ponsel ini berjalan cepat, stabil, dan dibekali One UI 8.5 berbasis Android 16 yang kaya fitur, plus janji pembaruan selama tujuh tahun.

Namun, di balik paket yang rapi itu, ada dua catatan yang sulit diabaikan. Kamera pada kondisi minim cahaya masih belum memuaskan, sementara kecepatan pengisian dayanya terasa tertinggal untuk ukuran ponsel premium dengan harga $899.

Desain tetap familier, tetapi lebih matang

Samsung tidak mengubah Galaxy S26 secara besar-besaran. Perubahan yang hadir justru cenderung halus, seperti bodi yang sedikit lebih ramping, layar yang sedikit lebih besar, dan sentuhan akhir yang terasa lebih halus.

Bagian belakang menjadi area yang paling mudah dikenali. Tiga kamera kini ditempatkan dalam housing berbentuk pill, bukan lagi menonjol langsung dari panel belakang, sehingga tampilannya terlihat lebih bersih.

Penyusunan ulang itu juga memberi ruang tambahan di dalam bodi. Samsung memanfaatkannya untuk menaikkan kapasitas baterai dari 4.000mAh menjadi 4.300mAh, meski ukuran fisiknya ikut sedikit membesar.

Dimensi perangkat kini berada di 149,6mm x 71,7mm x 7,2mm, dengan bobot 167 gram. Sebelumnya, Galaxy S26 tercatat 146,9mm x 70,5mm x 7,2mm dengan bobot 162 gram.

Untuk material, perangkat ini masih terasa premium. Galaxy S26 memakai frame Armor Aluminum 2, Gorilla Glass Victus 2 di bagian depan dan belakang, serta sertifikasi IP68 untuk ketahanan terhadap air dan debu.

Layar bagus, meski belum terasa naik kelas

Panel AMOLED 6,3 inci pada Galaxy S26 tetap menjadi salah satu daya tarik utamanya. Layar ini tampil tajam, cerah, mulus berkat refresh rate 120Hz, dan memiliki sudut pandang yang sangat baik.

Meski begitu, peningkatannya tidak terasa besar jika dibandingkan generasi sebelumnya. Samsung memang sedikit memperbesar panel, tetapi tidak membawa lompatan yang benar-benar menonjol di sisi visual.

Ada pula satu catatan teknis yang masih membuatnya tertinggal dari sebagian pesaing. Panel ini masih 8-bit, sementara banyak ponsel lain di kelas premium sudah memakai OLED 10-bit.

Samsung mencoba menutup kekurangan itu lewat optimasi perangkat lunak untuk membantu akurasi warna dan mengurangi banding. Hasilnya tetap baik, tetapi pendekatan tersebut belum sepenuhnya menggantikan keunggulan panel 10-bit asli.

Resolusi yang dipakai juga masih FHD+ atau 1080p. Fitur seperti QHD+, Privacy Display, dan lapisan anti-reflektif tetap disimpan untuk Galaxy S26 Ultra.

Performa justru jadi alasan paling kuat

Galaxy S26 hadir sebagai salah satu ponsel Android tercepat di pasaran, dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 atau Exynos 2600 tergantung wilayah penjualan. Dalam penggunaan harian, responsnya terasa sigap dan konsisten.

Aplikasi terbuka cepat, perpindahan antar menu berjalan lancar, dan multitasking berlangsung tanpa hambatan berarti. Untuk game, performanya juga kuat di pengaturan tinggi dan tetap stabil.

Karena bodinya ringkas, suhu perangkat bisa naik saat dipakai bermain game dalam durasi panjang atau ketika kamera digunakan intensif. Meski begitu, kenaikan panas tersebut disebut belum sampai mengganggu kenyamanan pemakaian.

Speaker stereo, kualitas panggilan, koneksi 5G, dan Wi‑Fi juga bekerja sesuai ekspektasi flagship. Kombinasi ini membuat Galaxy S26 terasa seperti perangkat harian yang mudah diandalkan.

Kamera masih menyisakan jarak dengan ekspektasi flagship

Konfigurasi kameranya sebenarnya cukup standar untuk kelas premium. Galaxy S26 membawa kamera utama 50MP, ultrawide 12MP, dan telefoto 10MP dengan zoom optik 3x.

Dalam cahaya yang cukup, hasil foto dari kamera utama, ultrawide, telefoto, dan kamera depan masih tergolong aman. Detailnya tajam, keseimbangan warnanya baik, dan karakter warnanya terlihat natural.

Mode portrait juga masih layak dipakai untuk kebutuhan umum. Tetapi absennya lensa 5x seperti pada varian Ultra membuat fleksibilitas zoom dan fotografi potret tetap terbatas.

Saat cahaya mulai turun, kekurangannya lebih mudah terlihat. Foto low-light cenderung menampilkan noise, terasa kurang berdimensi, dan tetap tampak lembut meski Night Mode diaktifkan.

Kamera ultrawide juga tidak memiliki autofocus. Kondisi ini membuatnya kurang ideal untuk memotret subjek dari jarak dekat, meski pada skenario lain hasilnya masih bisa diterima.

Untuk video, performanya masih tergolong baik. Fitur Horizontal Lock yang baru membantu menjaga stabilitas saat merekam dengan tangan atau ketika dipakai untuk vlogging.

Baterai membaik, tetapi isi ulang masih lambat

Kapasitas baterai yang naik ke 4.300mAh memberi dampak positif pada daya tahan. Dalam pengujian, Galaxy S26 mampu bertahan seharian penuh, termasuk saat dipakai untuk gaming dan sesi kamera yang panjang.

Di sisi software, One UI 8.5 berbasis Android 16 memberikan pengalaman yang bersih, kaya fitur, dan mudah dikustomisasi. Fitur AI seperti pengeditan foto, Audio Eraser, dan saran kontekstual ikut memperkaya pengalaman penggunaan.

Masalahnya, pengisian daya belum mengikuti kelas harganya. Galaxy S26 hanya mendukung 25W wired charging dan 15W wireless charging, angka yang terasa kurang agresif di tengah persaingan flagship.

Pengisian penuh dari 0 hingga 100 persen tercatat sekitar 1 jam 5 menit. Waktu itu memang lebih cepat sekitar 10 menit dibanding pendahulunya, meski kapasitas baterainya justru lebih besar.

Dengan segala keunggulan di desain, performa, dan software, Galaxy S26 tetap menjadi opsi kuat bagi pencari ponsel Android premium berukuran kompak. Tetapi kamera malam hari dan charging yang masih lambat membuatnya belum bisa disebut benar-benar tanpa cela.

Source: sammyguru.com

Berita Terkait