Garam Diproyeksikan Gantikan Freon, AC dan Kulkas Bisa Masuk Era Baru

Author: Redaksi Android62

Garam kini muncul sebagai kandidat serius untuk menggantikan freon pada sistem pendingin rumah tangga. Para peneliti tengah mengembangkan pendekatan yang dinilai lebih ramah lingkungan untuk AC, kulkas, hingga dispenser air minum.

Perubahan ini penting karena pendingin konvensional selama ini bergantung pada refrigeran seperti hydrofluorocarbon atau HFC. Zat tersebut memang efektif membuat suhu turun, tetapi juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca yang ikut memicu pemanasan global.

Mesin dingin tanpa refrigeran konvensional

Tim dari Lawrence Berkeley National Laboratory di University of California, Berkeley, mencari cara menghasilkan dingin tanpa bergantung pada cairan pendingin biasa. Mereka memanfaatkan perubahan bentuk material untuk memindahkan energi panas, dengan prinsip yang mirip es yang mencair dan menyerap panas dari sekitarnya.

Dari pendekatan itu, lahir konsep yang disebut siklus ionokalori atau ionocaloric cycle. Dalam metode ini, partikel bermuatan energi atau ion digunakan untuk membantu mencairkan es tanpa menaikkan suhu secara langsung.

Garam sebagai komponen utama

Salah satu pengembangan paling menarik adalah penggunaan garam sebagai komponen utama sistem pendingin. Garam dipakai untuk memicu proses pencairan pada material tertentu dan membuka jalan bagi pendinginan yang lebih ramah lingkungan.

Drew Lilley dari Lawrence Berkeley National Laboratory menyebut belum ada solusi alternatif yang berhasil menciptakan dingin, bekerja efisien, aman, dan tidak merusak lingkungan sekaligus. Menurut dia, siklus ionokalori punya potensi untuk mengisi celah tersebut.

Tim peneliti telah menguji garam berbahan yodium dan natrium untuk mencairkan etilena karbonat. Zat ini memanfaatkan karbon dioksida dan juga digunakan dalam baterai lithium-ion.

Komponen Fungsi Keterangan
Garam berbahan yodium dan natrium Memicu pencairan Dipakai dalam uji awal sistem pendingin
Etilena karbonat Material yang dicairkan Memanfaatkan karbon dioksida dan digunakan dalam baterai lithium-ion

Hasil uji coba menunjukkan temperatur bisa berubah hingga 25 derajat Celcius hanya dengan daya 1 volt. Dari sisi proses pembuatan, sistem ini disebut tidak hanya nol emisi, tetapi juga berpotensi menghasilkan emisi negatif.

Menuju penerapan komersial

Meski hasil awal menjanjikan, peneliti masih membangun sistem praktis agar bisa diterapkan secara komersial. Fokus utamanya adalah menemukan jenis garam yang paling efektif untuk menarik panas dari ruang.

Pada 2025, peneliti menemukan bahwa garam berbasis nitrat menjadi yang paling efisien. Temuan ini penting karena efisiensi akan sangat menentukan apakah teknologi tersebut bisa masuk ke perangkat sehari-hari seperti AC dan kulkas.

Jika teknologi berbasis ionokalori berkembang lebih jauh, desain dan cara kerja pendingin rumah tangga berpotensi berubah mengikuti tuntutan efisiensi dan lingkungan. Bagi industri pendingin, tantangannya bukan hanya membuat suhu dingin, tetapi juga memastikan teknologi baru aman, stabil, hemat energi, dan mudah diterapkan dalam skala besar.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru