Semakin cepat alergi dikenali, semakin besar peluang anak mendapat penanganan dan pilihan nutrisi yang lebih tepat agar tetap nyaman dan mendukung tumbuh kembangnya. Karena itu, ruam yang muncul berulang setelah makan, disertai muntah atau gangguan cerna, sebaiknya tidak langsung dianggap keluhan ringan.
Pada banyak anak, tanda awal alergi memang tidak selalu terlihat tegas. Keluhannya bisa muncul sebagai kulit kemerahan, gatal, rewel, perut kembung, diare, atau muntah setelah mengonsumsi makanan tertentu, sehingga mudah disalahartikan sebagai masalah harian biasa.
Dokter spesialis anak Ian Suteja menekankan pentingnya pengamatan orang tua, terutama ibu, terhadap perubahan kecil yang berulang pada tubuh anak. Kekhawatiran orang tua tidak seharusnya dikesampingkan begitu saja karena bisa menjadi petunjuk awal yang perlu divalidasi dengan tepat.
Alergi pada anak juga kerap baru disadari saat gejalanya makin berat atau muncul berulang. Kondisi ini berisiko mengganggu tumbuh kembang bila tidak dikenali sejak dini, sehingga kewaspadaan sejak awal menjadi bagian penting dalam perawatan anak.
Salah satu alergi yang cukup sering muncul pada masa awal kehidupan adalah alergi susu sapi. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun bereaksi terhadap protein dalam susu sapi, dan bentuk reaksinya dapat berbeda-beda pada tiap anak.
Perbedaan gejala itulah yang membuat alergi mudah tertukar dengan keluhan umum. Sebagian anak menunjukkan reaksi di kulit, sedangkan sebagian lain justru mengalami gangguan pada saluran cerna, sehingga orang tua perlu melihat pola kemunculannya setelah makan.
Pemetaan riwayat keluarga juga menjadi langkah penting untuk membaca potensi alergi sejak dini. Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr. Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K, menjelaskan bahwa informasi dari ayah, ibu, dan saudara kandung dapat membantu memberi gambaran yang lebih jelas tentang kondisi anak.
Kalbe Nutritionals bersama Morinaga Soya menghadirkan Allergy Smart Solution yang bisa diakses melalui smartphone. Dalam waktu sekitar tiga menit, orang tua diminta mengisi data diri dan riwayat alergi keluarga, lalu sistem memberikan gambaran risiko alergi anak berdasarkan faktor genetika.
Pendekatan seperti ini dirancang agar keluarga lebih mudah mengambil langkah awal sebelum berkonsultasi dengan dokter. Selain membantu mengenali tanda awal, deteksi dini juga memberi dasar untuk memahami faktor risiko dan memilih nutrisi yang lebih aman bagi anak.
Setelah risiko alergi dikenali, pilihan nutrisi menjadi pertimbangan berikutnya yang tidak kalah penting. Bagi anak yang sensitif terhadap susu sapi, keluarga perlu mencari asupan yang tetap mendukung kebutuhan gizi tanpa mengabaikan kenyamanan anak.
Morinaga Soya melalui kampanye SOYAmmy disebut membawa pendekatan yang menggabungkan nutrisi dengan pengalaman yang lebih menyenangkan bagi keluarga. Produk ini dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak yang sensitif susu sapi dengan rasa yang tetap disukai anak.
Senior Brand Manager Morinaga IFFO & Specialties, Fitria Dewi Astari, menegaskan bahwa setiap anak tetap berhak tumbuh optimal meski tidak cocok dengan susu sapi. Berdasarkan survei Home Tester Club Indonesia, 9 dari 10 ibu merekomendasikan Morinaga Soya karena rasanya disukai anak dan kandungan nutrisinya dinilai lengkap.
Dengan perhatian yang lebih cepat terhadap ruam, muntah, dan gangguan cerna setelah makan, orang tua punya peluang lebih besar untuk mengenali alergi sejak awal. Langkah itu dapat membantu anak memperoleh penanganan dan pilihan nutrisi yang lebih tepat agar tetap nyaman dalam kesehariannya.
Source: www.suara.com






