Korban tewas akibat gempa kembar yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni kini dilaporkan menembus sekitar 2.000 jiwa. Di tengah jumlah korban yang terus bertambah, kemarahan warga ikut memuncak karena respons pemerintah dinilai lambat dan bantuan belum bergerak cepat ke banyak lokasi terdampak.
Kerusakan terparah terjadi di La Guaira, kota pelabuhan yang menjadi salah satu pusat kehancuran. Puluhan gedung apartemen runtuh dan menimbun banyak penghuni di bawah puing-puing, sementara operasi penyelamatan masih berupaya menjangkau titik-titik yang paling parah terdampak.
Warga memikul evakuasi dengan alat seadanya
Keluhan paling keras datang dari keluarga korban yang merasa harus bertindak sendiri pada jam-jam awal bencana. Miguel Oscar Nunez, warga La Guaira, mengatakan ia mencari putranya yang tertimbun reruntuhan apartemen 12 lantai tanpa dukungan memadai dari aparat.
“Kami sangat membutuhkan bantuan tambahan secepatnya,” ujarnya, seraya mempertanyakan kemungkinan korban meninggal karena kelalaian pemerintah. Pernyataan itu memperlihatkan rasa frustrasi warga yang menilai kehadiran negara terlambat di lokasi bencana.
Kevin Montilla, warga lain berusia 34 tahun, juga menilai operasi penyelamatan berjalan sangat lambat. Ia menyebut polisi hanya datang memantau tanpa memberi bantuan fisik berarti, sehingga warga terpaksa memakai palu dan kapak untuk menolong keluarga mereka dari reruntuhan.
Pengungsian menghadapi krisis kebutuhan dasar
Selain di titik reruntuhan, situasi di lokasi penampungan darurat juga kian berat. UNHCR melaporkan adanya kelangkaan makanan, lumpuhnya layanan dasar, serta putusnya saluran komunikasi di sejumlah titik pengungsian.
Distribusi bantuan yang tidak merata ikut memicu ketegangan antarpengungsi. Dalam kondisi serba terbatas itu, perebutan kebutuhan pokok memperumit penanganan korban yang masih bertahan di tempat penampungan.
| Data terkini | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Korban tewas | sekitar 2.000 jiwa | akibat gempa kembar |
| Korban luka-luka | 10.571 orang | tercatat dalam data terbaru |
| Warga kehilangan tempat tinggal | 15.866 orang | masih membutuhkan penampungan |
Tenaga medis setempat juga memperingatkan risiko wabah penyakit akibat sanitasi yang buruk. Ancaman itu muncul ketika ribuan warga masih berada di pengungsian dengan kondisi lingkungan yang tidak layak dan bantuan yang belum menjangkau semua penyintas.
Pencarian tetap berjalan melewati masa kritis
Meski batas waktu kritis 72 jam telah terlewati, operasi pencarian masih berlangsung di berbagai titik reruntuhan. Puluhan ribu warga dilaporkan masih hilang dan dikhawatirkan terjebak di bawah bangunan yang ambruk.
Gempa kembar bermagnitudo 7,2 dan 7,5 itu disebut melumpuhkan sebagian besar wilayah pesisir Venezuela. Dampaknya tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga memicu krisis kemanusiaan yang meluas di tengah infrastruktur dan layanan dasar yang terganggu.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menyatakan pemerintah sedang melakukan upaya penyelamatan intensif. Ia menyebut peristiwa itu sebagai “tragedi yang sesungguhnya” dan menyampaikan solidaritas kepada keluarga korban yang kehilangan orang tercinta.
Source: mediaindonesia.com






