Gelombang Laut Menyalakan Data Center AI, Panthalassa Uji Komputasi Terapung Tanpa Kabel Ke Darat

Panthalassa menyiapkan pendekatan yang jarang dibahas dalam industri kecerdasan buatan: pusat data tidak lagi bergantung penuh pada jaringan listrik darat, melainkan memanfaatkan tenaga gelombang di laut. Melalui konsep data center terapung, perusahaan itu ingin menyatukan sumber daya dan tempat pemrosesan dalam satu lokasi yang sama.

Gagasan ini muncul di tengah lonjakan kebutuhan listrik untuk komputasi AI skala besar. Di saat batu bara dan gas masih menyumbang emisi serta biaya energi yang tinggi, laut ditawarkan sebagai sumber daya yang terus bergerak, luas, dan tidak memerlukan lahan.

Data center yang ikut bergerak bersama ombak

Model yang sedang dikembangkan Panthalassa dirancang agar bekerja di permukaan laut tanpa bergantung pada kabel ke darat. Versi terbarunya, Ocean-3, tidak memakai jangkar dan tidak terhubung ke dasar laut, sehingga unit dapat bergerak sendiri mengikuti kondisi laut.

CEO sekaligus co-founder Panthalassa, Garth Sheldon-Coulson, menggambarkan perangkat itu sebagai “Roomba kecil, tapi sangat besar”. Istilah itu dipakai untuk menjelaskan sistem yang tidak tertambat pada satu titik dan bisa menjalankan fungsi komputasi di laut.

Cara kerja energi gelombang yang dipakai

Sebelum Ocean-3, Panthalassa lebih dulu menguji Ocean-2. Bentuk kerjanya disebut mirip bendungan hidroelektrik yang mengapung, karena perangkat naik turun mengikuti ombak lalu mendorong air di dalam tabung ke bagian atas.

Air itu kemudian dialirkan melalui turbin untuk menghasilkan listrik. Dari situ, daya yang dihasilkan dapat dipakai untuk mendukung operasional data center yang dibangun langsung di laut.

Komputasi dan listrik dalam satu sistem

Dalam skema Panthalassa, unit terapung tersebut bukan hanya pembangkit listrik. Sistem itu juga diposisikan sebagai data center yang memproses tugas kecerdasan buatan di tempat, lalu hasilnya dikirim melalui satelit.

Karena tidak ada kabel yang menarik listrik kembali ke pantai, model ini dipasarkan sebagai alternatif yang lebih langsung dibanding membangun fasilitas baru di daratan. Saat beberapa unit digerakkan bersama, Sheldon-Coulson menilai sistem itu bisa bekerja seperti satu data center besar.

Mengapa laut dianggap menarik untuk AI

Panthalassa menempatkan laut sebagai jawaban atas kebutuhan daya yang semakin besar dari pusat data AI. Perusahaan menilai energi gelombang berpeluang menjadi salah satu sumber listrik termurah karena tersedia luas dan terus bergerak tanpa henti.

Dari sisi industri, pendekatan itu juga mencoba mengurangi hambatan yang sering muncul di darat. Kebutuhan lahan, biaya infrastruktur, dan tekanan pada jaringan listrik kerap menjadi masalah saat fasilitas baru hendak dibangun.

Alasan Panthalassa menonjolkan konsep ini

Perusahaan menyebut sistemnya bersih, tidak memakai bahan bakar, tidak membutuhkan lahan, tidak mengganggu aktivitas di darat, dan bisa diperbesar dengan cepat. Klaim itu menjadi bagian utama dari daya tarik model data center laut yang mereka dorong.

Panthalassa juga menyatakan telah memiliki pendanaan swasta yang dibutuhkan. Di sisi pengembangan, konstruksi Ocean-3 sudah berlangsung dan unit-unitnya diperkirakan mulai beroperasi di lepas pantai sekitar Agustus, lalu jumlahnya ditingkatkan secara bertahap.

Target skala yang lebih besar

Dalam rencana jangka lanjut, Panthalassa menargetkan pemasangan ribuan unit di laut lepas untuk memenuhi kebutuhan komputasi yang terus tumbuh. Artinya, semakin banyak unit yang dikerahkan, semakin besar pula kapasitas yang bisa dibangun tanpa menambah tekanan yang sama seperti pusat data konvensional di daratan.

Lonjakan permintaan listrik dari AI membuat solusi seperti ini semakin diperhatikan. Ketika pusat data baru sulit dibangun karena lahan terbatas dan jaringan listrik padat, pemindahan sebagian beban komputasi ke laut menjadi salah satu pendekatan yang dianggap layak diuji.

Berita Terkait