Di Korea Selatan, semakin banyak anak muda memilih sensasi belanja tanpa harus membayar apa pun. Mereka menggunakan aplikasi dan situs palsu yang meniru proses checkout, lalu berhenti di layar tanpa ada transaksi nyata.
Fenomena ini dikenal sebagai dopamine sites, yakni platform yang dibuat untuk meniru pengalaman memesan makanan atau belanja barang. Bagi banyak pengguna Generasi Z, cara ini memberi kepuasan sesaat tanpa risiko penyesalan setelah uang benar-benar keluar.
Makanan virtual yang terasa seperti pesanan sungguhan
Salah satu layanan yang paling ramai dibicarakan adalah situs pemesanan makanan virtual yang meluncur pada akhir Maret 2026. Pengguna dapat memilih menu seperti ayam goreng, pizza, sushi, dan bingsu, lalu memasukkannya ke keranjang, mengisi alamat, memilih metode pembayaran, dan menekan tombol pesan.
Alurnya dibuat sangat mirip dengan aplikasi pesan-antar sungguhan. Pengantar virtual bahkan terlihat bergerak menuju lokasi pengguna di peta, meski tidak ada makanan yang benar-benar dikirim.
Tidak ada restoran yang menerima pesanan dan tidak ada uang yang dipotong dari rekening. Sebagai gantinya, pengguna mendapat notifikasi bahwa mereka baru saja menghemat sekitar 2.120 kalori, lengkap dengan bukti transaksi virtual senilai US$22,38 atau sekitar Rp400.600.
Park Seo-hyun, pria 27 tahun pembuat situs itu, mengaku dulu sangat sering memesan makanan larut malam. Ia mengatakan dirinya pernah memesan makanan sekitar 10 kali seminggu sebelum kemudian terpikir membuat situs yang memungkinkan orang merasakan sensasi memesan tanpa benar-benar menerima makanan.
Belanja barang imajiner ikut berkembang
Fenomena serupa tidak berhenti pada makanan. Muncul pula situs belanja virtual yang menawarkan produk imajinatif, mulai dari Moon Rabbit Moonlight Mortar seharga 120.000 won atau sekitar Rp1,39 juta hingga pita perekat seharga 50.000 won yang diklaim bisa memperbaiki persahabatan yang retak.
Di situs tersebut, pengguna bisa memasukkan barang ke keranjang, menyelesaikan pembayaran, lalu meninggalkan ulasan lucu untuk produk yang sebenarnya tidak ada. Pengembangnya mengaku terinspirasi dari manga dan anime Doraemon, karena membayangkan alat ajaib untuk menyelesaikan masalah terasa menyenangkan dan tidak menyakiti siapa pun.
Ia juga menyebut banyak pengguna memperlakukan situs itu seperti pusat belanja sungguhan dan membagikan pengalaman mereka di media sosial. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa proses berbelanja sendiri memang memberi kesenangan, bukan hanya rasa memiliki barang.
| Platform | Contoh Isi | Harga | Ciri Utama |
|---|---|---|---|
| Situs pemesanan makanan virtual | Ayam goreng, pizza, sushi, bingsu | US$22,38 atau sekitar Rp400.600 | Meniru pesanan makanan tanpa transaksi nyata |
| Situs belanja virtual | Moon Rabbit Moonlight Mortar, pita perekat perbaikan persahabatan | 120.000 won; 50.000 won | Menawarkan barang imajinatif dan ulasan lucu |
Tekanan ekonomi ikut mendorong tren ini
Profesor emeritus psikologi Universitas Nasional Seoul, Kwak Keum-joo, menilai daya tariknya tidak lepas dari tekanan ekonomi dan budaya konsumsi yang terus mendorong orang untuk membeli. Ia menjelaskan bahwa keinginan belanja sering muncul terus-menerus, sementara rasa penyesalan setelah menghabiskan uang juga kerap ikut datang.
Popularitas dopamine sites tidak hanya muncul di Korea Selatan. Platform serupa ikut bermunculan, seperti FoodNeverComes yang menawarkan pilihan kuliner lebih beragam dan DopamineCart yang meniru pengalaman belanja di Amazon tanpa transaksi nyata.
Media internasional seperti The Times dan Psychology Today ikut menyoroti tren ini sebagai gejala baru dari tekanan ekonomi dan budaya konsumsi digital. Dalam pandangan Kwak, situs-situs tersebut bukan sekadar memicu dopamin, tetapi juga memberi kepuasan psikologis tanpa konsekuensi finansial.
Tekanan ekonomi di Korea Selatan sendiri masih terasa kuat. Inflasi konsumen pada Juni tercatat 3,2% secara tahunan, menjadi laju tercepat dalam dua setengah tahun, sementara nilai transaksi belanja online pada Mei menembus 25 triliun won dan naik sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya.
Di tengah dorongan konsumsi yang terus muncul, aplikasi palsu ini menjadi pelarian yang terasa aman bagi sebagian orang. Tak ada paket yang datang ke rumah, tetapi bagi para penggunanya, sensasi menekan tombol checkout sudah cukup untuk memberi kepuasan tanpa menambah beban dompet.
Source: www.cnbcindonesia.com






