George Lucas memandang kecerdasan buatan atau AI dapat membuat proses produksi film jauh lebih mudah. Namun, kreator Star Wars itu menegaskan kemudahan teknologi tidak menghapus tanggung jawab manusia atas dampak penggunaannya.
Pernyataan tersebut menempatkan Lucas di tengah perdebatan industri perfilman mengenai batas pemanfaatan AI. Teknologi ini dipandang mampu memperluas kemampuan sineas, tetapi juga memunculkan kekhawatiran tentang peran aktor dan pekerja kreatif.
Kemudahan Produksi Bukan Tanpa Konsekuensi
Dalam perbincangan di acara A Rabbit’s Foot, Lucas mengatakan AI akan memudahkan banyak orang membuat film. “Kecerdasan buatan berarti jauh lebih mudah bagi kita untuk membuat film,” kata Lucas, seperti diberitakan CNNIndonesia.
Ia melihat AI sebagai alat yang dapat membantu sineas mewujudkan gagasan visual sesuai kebutuhan produksi. Namun, Lucas menilai setiap penggunaan teknologi tetap harus memiliki pihak yang bertanggung jawab.
Menurut Lucas, tindakan ilegal tidak boleh dibebankan kepada teknologi semata. Orang yang melakukan tindakan tersebut tetap harus dihukum dan diakui atas perbuatannya.
| Isu | Posisi Lucas | Implikasi |
|---|---|---|
| AI dalam film | Mempermudah produksi | Membantu sineas mewujudkan film sesuai keinginan |
| Risiko penggunaan AI | Memerlukan pertanggungjawaban | Manusia tetap bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan |
| Aktor manusia | Masih menjadi perhatian | Penggantian peran manusia terus memicu pro dan kontra |
AI Dinilai Dapat Menelusuri Kepalsuan
Lucas juga menyoroti kemampuan AI untuk membantu mendeteksi materi palsu serta menelusuri asal-usulnya. Ia menyatakan teknologi itu dapat memberi informasi kapan sesuatu tidak autentik dan dari mana asalnya.
“Jika Anda menginginkan AI yang memberi tahu Anda kapan sesuatu itu palsu dan dari mana asalnya, AI dapat melakukannya,” ujar Lucas. Menurutnya, manusia tidak memiliki kemampuan setepat itu dalam memeriksa asal sebuah materi.
Pandangan tersebut menunjukkan Lucas tidak hanya melihat AI sebagai alat untuk menciptakan gambar atau adegan. Teknologi ini juga dipandang dapat berperan dalam pemeriksaan keaslian informasi dan materi digital.
Perubahan yang Dianggap Tidak Terelakkan
Lucas membandingkan kemunculan AI dengan perubahan dari kereta kuda ke mobil, lalu perkembangan kendaraan setelahnya. Baginya, perubahan teknologi seperti itu tidak dapat dihindari dan akan terus mengubah cara banyak bidang bekerja.
Industri film menjadi salah satu bidang yang menghadapi perubahan tersebut secara langsung. Perdebatan muncul karena AI dapat membantu proses kreatif, sekaligus berpotensi mengubah kebutuhan terhadap tenaga manusia.
Kekhawatiran mengenai kemungkinan AI menggantikan aktor manusia telah lama mengemuka di Hollywood. Isu itu turut menjadi salah satu perhatian dalam aksi mogok aktor Hollywood pada 2023.
Studio dan Serikat Pekerja Berada di Titik Penting
Sejumlah studio besar telah memastikan keterlibatan AI dalam kegiatan mereka. Studio-studio itu menyatakan teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab sebagai alat bantu kreatif, bukan pengganti manusia.
Perlindungan hak kekayaan intelektual juga menjadi bagian dari penekanan mereka. Penggunaan data dan aset berlisensi disebut penting untuk mencegah pelanggaran terhadap karya maupun identitas kreator.
Meski demikian, tidak semua pelaku industri menyambut pemanfaatan AI dengan sikap terbuka. James Cameron dan Christopher Nolan termasuk figur yang disebut keberatan, sementara serikat aktor Amerika Serikat juga mengambil sikap kritis.
Pada Mei 2026, pimpinan SAG-AFTRA mulai mengenalkan usulan aturan mengenai penggunaan aktor kecerdasan buatan oleh studio film. Usulan itu juga mewajibkan studio memberi tahu serta bernegosiasi dengan serikat jika melisensikan penampilan untuk pelatihan AI.
