Gol Bunuh Diri Selamatkan Genk dari Kekalahan, Charleroi Pulang Bawa Satu Poin dari Cegeka Arena

KRC Genk harus puas berbagi angka 1-1 dengan Sporting Charleroi setelah sempat berada di ambang kekalahan di Cegeka Arena. Gol penyeimbang lahir dari gol bunuh diri Mardochee Nzita pada menit ke-86, yang menyelamatkan tuan rumah dari hasil yang lebih pahit.

Hasil itu memang menjaga Genk tetap tak terkalahkan, tetapi jalannya pertandingan memperlihatkan bahwa mereka tidak tampil seefisien lawannya. Charleroi justru lebih dulu menemukan ritme permainan dan berhasil memanfaatkan peluang bersih yang mereka dapatkan.

Charleroi memukul lebih dulu

Skuad tamu tampil disiplin sejak awal dan langsung menghukum kelengahan Genk pada menit ke-13. Etienne Camara menyelesaikan serangan dengan tenang setelah menerima umpan Antoine Colassin, lalu mengarahkan bola ke gawang Brughmans.

Gol cepat itu memberi Charleroi keuntungan penting dan membuat mereka bisa menjalankan rencana permainan dengan lebih nyaman. Setelah unggul, mereka menunggu momen yang tepat sambil menjaga organisasi pertahanan tetap rapat.

Genk kemudian mengambil alih lebih banyak bola dan terus menekan ke area pertahanan lawan. Namun, dominasi tersebut belum berbanding lurus dengan hasil karena penyelesaian mereka belum cukup tajam untuk menembus barisan belakang Charleroi.

Kone jadi penghalang utama

Di bawah mistar, Mohamed Kone tampil sebagai sosok yang paling merepotkan bagi Genk. Ia mencatat empat penyelamatan penting dan berulang kali menggagalkan upaya tuan rumah untuk segera menyamakan skor.

Kone menahan peluang dari Medina dan El Ouahdi sebelum jeda, sehingga Charleroi bisa menjaga keunggulan lebih lama. Perannya membuat Genk frustrasi meski tekanan terus datang dari berbagai sisi.

Situasi tersebut membuat laga berjalan dalam pola yang sama cukup lama. Genk menyerang lebih sering, tetapi Charleroi tetap mampu bertahan dalam posisi unggul berkat disiplin dan ketenangan saat menghadapi gelombang serangan tuan rumah.

Gol yang datang di menit akhir

Kebuntuan Genk akhirnya pecah, tetapi bukan lewat skema serangan yang mereka incar. Pada menit ke-86, El Ouahdi mengirim bola yang semula diarahkan sebagai umpan silang, lalu arah bola berubah setelah mengenai kepala Mardochee Nzita dan masuk ke gawang sendiri.

Gol bunuh diri itu menjadi penyelamat bagi Genk, sekaligus mengubah situasi pertandingan yang sempat tampak mengarah pada kekalahan kandang. Setelah gol tersebut, tuan rumah tetap berusaha mencari tambahan angka hingga laga berakhir, tetapi skor 1-1 tidak berubah.

Di sisi lain, Charleroi juga meninggalkan pertandingan dengan satu poin yang bernilai. Mereka berhasil menahan tekanan lawan dalam waktu lama dan pulang dengan hasil yang cukup penting dari markas tim papan atas tersebut.

Dampak pada klasemen dan catatan pertemuan

Tambahan satu poin membuat Genk tetap berada di puncak klasemen dengan koleksi 28 poin. Catatan mereka sejauh ini tercatat dari 13 kemenangan, 10 hasil imbang, dan 10 kekalahan, sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkan.

Meski begitu, hasil ini belum menutup persoalan lama yang masih membayangi mereka saat menghadapi Charleroi. Genk juga belum mampu mengalahkan lawannya itu dalam empat pertemuan terakhir, sebuah catatan yang menunjukkan duel kedua tim memang berjalan sulit.

Bagi Charleroi, satu angka dari Cegeka Arena juga membawa arti tersendiri. Tim asuhan Mario Kohnen kini mengoleksi 20 poin dan berhasil memutus rangkaian hasil buruk yang sempat memberi tekanan dalam beberapa laga terakhir di kompetisi domestik.

Protes penalti ikut mewarnai laga

Pertandingan juga sempat memunculkan keberatan dari kubu Genk pada babak kedua. Mereka menilai Mirisola dijatuhkan Keita di area terlarang, tetapi wasit Laforge tidak menganggapnya sebagai pelanggaran yang layak menghasilkan penalti.

Keputusan itu membuat Genk harus melanjutkan laga tanpa hadiah tendangan 12 pas yang mereka harapkan. Walau begitu, tekanan mereka tidak benar-benar berhenti, hanya saja penyelesaian akhir dan keberuntungan tetap belum berpihak sampai peluit panjang dibunyikan.

Secara keseluruhan, Genk tampil lebih agresif dan lebih sering menguasai jalannya pertandingan, sementara Charleroi menunjukkan efektivitas yang lebih baik pada momen penting. Ketidakseimbangan itu membuat laga berakhir imbang, dengan gol bunuh diri Nzita menjadi faktor penentu yang mencegah tuan rumah pulang dengan hasil yang lebih buruk.

Berita Terkait